<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929</id><updated>2012-01-18T21:02:59.442-08:00</updated><title type='text'>-Malesung-</title><subtitle type='html'>www.maengket.blogspot.com</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-750248082291391021</id><published>2010-06-25T00:56:00.001-07:00</published><updated>2010-06-25T00:56:46.978-07:00</updated><title type='text'>Benny Josua Mamoto</title><content type='html'>Benny Josua Mamoto&lt;br /&gt;SI TUAMA LE’OS DARI NEGERI KAWANUA&lt;br /&gt;PENUH GELISAH KALU NYANDA’&lt;br /&gt;CIPTAKAN REKOR MURI DAN GUINNESS WORLD RECORDS&lt;br /&gt;(LAYAK SEBAGAI GUBERNUR PROVINSI SULUT 2015)&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;... &lt;span class="text_exposed_link"&gt;&lt;a onclick="'CSS.addClass($("&gt;Lihat Selengkapnya&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Arie Tulus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang satu ini, sudah tak diragukan lagi kapasitas, dan komitmennya memberi diri untuk mengabdi dalam bidang seni budaya di daerah Sulawesi Utara. Sebagai bukti utama yang tak bisa lagi dipungkiri, Benny Josua Mamoto (BJM) telah mendirikan sebuah wadah yang bernama Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) dengan program-program dan kegiatannya yang spektakuler bukan hanya mewarnai langit di ujung utara pulau Celebes, tapi sudah bernyanyi di jagat raya dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya hanya menjalankan amanat dari orang tua terutama dari ayah, untuk pulang kampung dan bangun daerah ini melalui seni dan budaya”. Begitu kata Komisaris Besar Polisi yang bergelar Doktor di bidang ilmu hukum dan kriminalitas, yang sampai detik inipun tampaknya tak bisa tidur lelap, pabila apa-apa yang telah melintas di dalam benaknya belum tertata rapih melalui sebuah rencana kerja yang matang, hingga menjadi sebuah agenda yang harus diwujudkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencatatkan atau memasukkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI) dan Guinness World Records (GWR) segala bentuk seni budaya yang ada di Provinsi Sulawesi Utara, sudah menjadi kesepakatan diri seorang BJM atas kecintaannya terhadap tanah leluhur, dan TOU yang hidup di tanah Kawanua ini, bukan karena termotivasi untuk merebut sesuatu kekuasaaan yang namanya ”kadera”, atau cari muka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh.., tidak demikian. Sekali lagi tidak seperti itu. Tidak seperti suara-suara yang pernah disemburkan ”kalangan tertentu” pada dirinya. Apalagi di tengah-tengah suhu politik PILGUB provinsi Sulawesi Utara 2010 semakin panas membara, karena persaingan yang (tampaknya) sudah mengarah pada situasi dan suasana tidak sehat. Mau bukti ? Lihat saja baliho-baliho yang bertebaran di pinggir-pinggir jalan, ada yang memang sengaja di tusuk matanya, di mutilasi oleh tangan-tangan yang menaruh benci terhadap tokoh yang bersangkutan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihadapan penulis, bukan hanya satu atau dua kali saja, Pak Benny membantah dengan tegas kalau aktifitas dan berbagai agenda kegiatan yang diprakarsainya selama ini, bertujuan untuk menaruh benih-benih agar supaya mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk maju mencalonkan diri sebagai orang nomor 1 atau nomor 2 di tanah yang disebut-sebut sebagai pintu gerbang Asia Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Niat saya luhur, tidak lain mengangkat citra seni budaya Sulawesi Utara baik di mata Nasional maupun dunia Internasional. Dan biarlah apa-apa yang telah, dan akan saya lakukan boleh menjadi sebuah catatan sejarah bagi generasi berikutnya, bahwa nilai-nilai seni dan budaya kita perlu digali, diangkat, dijaga atau dipelihara, dikembangkan dan dipublikasikan, agar supaya mata dunia akan tertuju di daerah kita sendiri”.” Kata Tuama Le’os berdarah Minahasa, sambil mengajak agar supaya mencitai produk seni budaya daerah kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa-apa yang sementara di kerjakan suami dari Iyarita Wiryawati Mawardi ini, sebenarnya sudah merupakan wujud nyata kerja kerasnya dalam usaha meningkatkan pembangunan di berbagai sektor. Bahwa dari segi ekonomi, sangat memungkinkan hasil karya seni budaya yang ada di Sulawesi Utara ini menjadi sebuah industri yang bisa dikelola seprofesional mungkin hingga bisa membantu meningkatkan pendapatan daerah. Disamping itu dapat pula memberdayakan berbagai kreatifitas dari warga masyarakat agar tercipta lapangan kerja baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dunia pendidikan, sudah sangat jelas ada pengaruhnya terhadap anak-anak sekolah yang diikutsertakan dalam festival musik kolintang dan maengket, apalagi sudah ada kelompok-kelompok seni yang sampai saat ini menjadi kelompok binaan. Bukankah hal ini punya nilai-nilai positif dalam rangka menanamkan kesadaran bagi generasi muda yang ada di Sulawesi Utara, agar bisa belajar dan mencintai hasil karya seni budaya yang telah diwariskan hingga saat ini? Bahkan dari hasil-hasil karya yang sudah ada selama ini, bisa menjadi sebuah inspirasi dalam melahirkan karya-karya baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penulis, kalau saja yang akan menjadi Gubernur, di daerah Nyiur Melambai ini adalah seorang tokoh yang benar-benar tau persis dan mencintai seni budayanya sendiri (seperti BJM), maka wajah Sulawesi Utara benar-benar akan menampakkan wajahnya sendiri. Tidak seperti di hotel-hotel berbintang yang ada sekarang ini, telah berdiri megah di Tanah Adat Minahasa Raya, tapi sayang sekali pintu gerbangnya, pilar-pilarnya, kamar-kamarnya dan segala sudut-sudutnya menyajikan ornamen-ornamen dan segala macam tetekbengek asesoris patung-patung, totem-totem serta lukisan-lukisannya justru bernuansa Jawa dan Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakhiri tulisan ini, penulis sebagai pekerja seni di Tanah Adat Minahasa Raya sangat berbangga dan ikut mendukung, memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya pada Benny Josua Mamoto (BJM) atas segala kegiatan seni budaya yang diprakarsainya selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kegiatan yang diantaranya Pelaksanaan Festival Seni Budaya Sulawesi utara di Watu Pinawetengan pada setiap tanggal 7 juli yang sudah menjadi agenda tetap, sangat diharapkan mendapatkan dukungan dan apresiasi positif dari berbagai pihak, dan biarlah kegiatan-kegiatan semacam ini akan menjadi sebuah momentum bagi kita sebagai orang-orang yang ada di provinsi Sulawesi Utara yang mungkin tinggal akan menjadi sebuah catatan sejarah lagi, karena kemungkinan besar akan terwujud sebuah pemekaran, dimana para politikus, dan para ”pejuang” akan berusaha sedapat mungkin menjadikan provinsi Nusa Utara, dan Minahasa Raya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai TOU Minahasa yang sebenarnya diberkati karena memiliki kekayaan yang luar biasa, termasuk potensi seni budaya yang sangat tinggi nilainya, dimana kita sudah saatnya berkaca diri dan bersikap arif menatap ke depan sambil menjaga dan melestarikan karya-karya seni budaya yang sudah ada sejak dahulu kala. Bukan merusak dan memusnahkan sama seperti yang telah dilakukan oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab terhadap Karya Relief Seniman Alexander Bastian Wetik dkk yang ada di Auditorium Bukit Inspirasi, dan perusakan Waruga-Waruga yang ada di Negeri Kakaskasen dan Lansot Tomohon dengan dalih pemugaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulawesi Utara pada umumnya, dan Minahasa Raya khusunya mesti berbangga atas hadirnya seorang BJM yang tiada henti-hentinya, bukan hanya sekedar memikirkan nasib seni budaya di daerah ini, tapi seutuhnya atas keikhlasan dan kepeduliannya yang luhur memberi dan mengabdikan diri bagi tanah ini, dan yang pasti kita juga akan menyaksikan lagi kegiatan-kegiatan spektakuler lainnya yang akan tercatat di dalam buku MURI atau GWR.//@rts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis;&lt;br /&gt;Pekerja Seni dan Dosen di Jurusan Seni Rupa dan Kerajinan&lt;br /&gt;Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado di Tondano&lt;br /&gt;Tinggal di Kelurahan Kakaskasen III Tomohon Utara. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-750248082291391021?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/750248082291391021/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2010/06/benny-josua-mamoto.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/750248082291391021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/750248082291391021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2010/06/benny-josua-mamoto.html' title='Benny Josua Mamoto'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-7450913359480891948</id><published>2010-01-24T20:03:00.001-08:00</published><updated>2010-01-24T20:03:26.163-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kepada Yth,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Tumpukan Maengket dan&lt;br /&gt;Pimpinan Grup Kolintang&lt;br /&gt;Peserta Lomba Tingkat Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di&lt;br /&gt;Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Budaya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan rencana pelaksanaan lomba tingkat nasional Maengket dan Kolintang di Jakarta yang semula direncanakan tanggal 29-31 Januari 2009, dengan ini Panitia menyampaikan perkembangan situasi cuaca yang memaksa Panitia untuk menunda pelaksanaannya.&lt;br /&gt;Adapun alasan dan pertimbangan yang mendasari penundaan tersebut adalah :&lt;br /&gt;1. Prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh Pusat Prediksi Iklim Badan Nasional Kelautan dan Atmosfer Amerika Serikat (NOAA) yang dimuat dalam berita Suara Pembaruan Jumat tanggal 16 Januari 2009 yang pada intinya menyatakan bahwa puncak curah hujan terjadi pada akhir Januari 2009, bertepatan dengan penyelenggaraan lomba (kliping koran terlampir).&lt;br /&gt;2. Cuaca pada akhir-akhir ini di Jakarta, hujan turun deras dan menimbulkan banjir di lokasi tempat penyelenggaraan lomba.&lt;br /&gt;3. Apabila lomba tetap dilaksanakan, maka diperkirakan penonton akan sepi, sehingga kurang menarik dan tentunya akan mengecewakan para pemain/peserta lomba.&lt;br /&gt;4. Banjir akan menimbulkan kemacetan dimana-mana, hal ini akan mengganggu konsentrasi para peserta, yang dapat menurunkan kwalitas penampilan dalam lomba.&lt;br /&gt;Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka dengan terpaksa pelaksanaan lomba ditunda waktunya menjadi akhir Februari atau awal Maret 2009 dan kepastian tanggal akan disampaikan dalam waktu dekat. Diharapkan penundaan waktu ini akan memberi tambahan waktu persiapan bagi para peserta untuk berlatih dan menyiapkan segala sesuatunya. Disamping itu, diharapkan pula akan bertambah peserta yang akan mengikuti lomba.&lt;br /&gt;Demikianlah pemberitahuan ini disampaikan, kiranya Bapak/Ibu dapat memakluminya, demi kebaikan bersama dan suksesnya acara lomba kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Januari 2009&lt;br /&gt;KETUA UMUM PANITIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. BENNY J. MAMOTO&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-7450913359480891948?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/7450913359480891948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2010/01/kepada-yth-pimpinan-tumpukan-maengket.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/7450913359480891948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/7450913359480891948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2010/01/kepada-yth-pimpinan-tumpukan-maengket.html' title=''/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-8473183210030701355</id><published>2010-01-24T19:59:00.001-08:00</published><updated>2010-01-24T19:59:44.259-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pekan Raya Kawanua yang diselenggarakan kali ini terbilang sukses. Panitia yang di ketuai oleh Benny J. Mamoto mengundang sebagian besar masyarakat Kawanua yang berada di Jakarta dan sekitarnya untuk dapat hadir dan berpartisipasi. Tanggal 27 bertempat di Kampus ASMI Jl. Pacuan Kuda dan Tanggal 28 (Sportmall Kelapa Gading jarta Utara), berikut adalah para peserta dan perincian hasil dari lomba yang dicapai :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PESERTA KOLINTANG :&lt;br /&gt;A. KATEGORI PEMULA KOLINTANG&lt;br /&gt;NOMOR NAMA GRUP&lt;br /&gt;1 MATUARI TUMPAAN Jr&lt;br /&gt;2 TUMARENDEM STELLA MARIS TOMOHON&lt;br /&gt;3 SMP Kr. WOLOAN TOMOHON&lt;br /&gt;4 TUNAS RAMINDOS IKR JAKARTA TIMUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. KATEGORI WANITA KOLINTANG&lt;br /&gt;NOMOR NAMA GRUP&lt;br /&gt;1 "BINA IMAN REMAJA" St. YAKOBUS&lt;br /&gt;2 MAWAR MERAH JAKARTA PUSAT&lt;br /&gt;3 GELORA BUNG KARNO JAKARTA PUSAT&lt;br /&gt;4 PUSPA JAKARTA TIMUR&lt;br /&gt;5 NANDAYU PIPEBI JAKARTA PUSAT&lt;br /&gt;6 PT. INDONESIA POWER JAKARTA PUSAT&lt;br /&gt;7 ABIGAIL JAKARTA TIMUR&lt;br /&gt;8 SMU RICCI KAB. TANGERANG&lt;br /&gt;9 PSDD GMIM KARMEL LEMBEAN MINUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KATEGORI UMUM KOLINTANG&lt;br /&gt;NOMOR NAMA GRUP&lt;br /&gt;1 MELATI JAYA JAKARTA SELATAN&lt;br /&gt;2 D'BAPONTAR JAKARTA SELATAN&lt;br /&gt;3 BETHLEHEM LANSOT TARERAN MINSEL&lt;br /&gt;4 MA'ZANI KOTA TOMOHON&lt;br /&gt;5 FAKULTAS SASTRA UNSRAT MANADO&lt;br /&gt;6 GARDENA JAKARTA TIMUR&lt;br /&gt;7 MATUARI TUMPAAN JAKARTA UTARA&lt;br /&gt;8 SITAWENG KAB. TANGERANG&lt;br /&gt;9 GMIM MARANATHA PASLATEN KOTA TOMOHON&lt;br /&gt;10 TAMPOROK TUMALUNTUNG SULUT&lt;br /&gt;11 HARMONY JAKARTA TIMUR&lt;br /&gt;12 MALEOSAN SE'ENA KADOODAN MINUT&lt;br /&gt;14 SUN FLOWER PINABETENGAN MINAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara Kategori Pemula Kolintang&lt;br /&gt;1. Tunas Ramindos IKR - Jakarta Timur&lt;br /&gt;2. SMP Kr. Woloan Tomohon&lt;br /&gt;3. Tumarendem Stella Maris Tomohon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara Kategori Wanita Kolintang&lt;br /&gt;1. Gelora Bung Karno - Jakarta Pusat&lt;br /&gt;2. Nandayu Pipebi - Jakarta Pusat&lt;br /&gt;3. SMU Ricci - Kab. Tangerang&lt;br /&gt;Harapan 1. Puspa&lt;br /&gt;Harapan 2. Abigail Jakarta Timur&lt;br /&gt;Harapan 3. PSSD GMIM Karmel Lembean - Minahasa Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara Kategori Umum Kolintang&lt;br /&gt;1. D'Bapontar Jakarta Selatan&lt;br /&gt;2. Harmony Jakarta Timur&lt;br /&gt;3. Ma'Zani Tomohon&lt;br /&gt;Harapan 1. GMIM Maranatha Tomohon&lt;br /&gt;Harapan 2. Sitaweng Tangerang&lt;br /&gt;Harapan 3. Matuari Tumpaan Jakarta Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan perorangan Kolintang&lt;br /&gt;Kategori Wanita&lt;br /&gt;Penyanyi terbaik : Nandayu Pipebi&lt;br /&gt;Melodi terbaik : SMU Ricci (2 org)&lt;br /&gt;Bass Terbaik : Abigail Jakarta Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kategori Umum Kolintang&lt;br /&gt;Penyanyi terbaik : Ma'zani Tomohon&lt;br /&gt;Melodi terbaik : Matuari Tumpaan Jakarta Utara&lt;br /&gt;Bass terbaik : Harmony Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PESERTA MAENGKET&lt;br /&gt;1 SMP Kr. WOLOAN TOMOHON&lt;br /&gt;2 SMP KAT. BUNDA HATI KUDUS WOLOAN TOMOHON&lt;br /&gt;3 SMP KAT. STELLA MARIS TOMOHON&lt;br /&gt;4 SMPN 1 KAWANGKOAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERI B&lt;br /&gt;1 SANGGAR CITRA BUDAYA- FAK, SASTRA UNSRAT&lt;br /&gt;2 KERUKUNAN KAWANUA RURUKAN DI JAKARTA&lt;br /&gt;3 KENDIS NI RENDEM KUWIL MINUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERI A&lt;br /&gt;1 MATUARI TUMPAAN JAKARTA&lt;br /&gt;2 MANGUNI RENDEM KUMELEMBUAI TOMOHON&lt;br /&gt;3 KENDIS UMBANUA RURUKAN TOMOHON&lt;br /&gt;4 RONDOZEN UMBANUA KAKASKASEN TOMOHON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA MAENGKET REMAJA&lt;br /&gt;1. SMP KATOLIK STELLA MARIS TOMOHON&lt;br /&gt;2. SMP N 1 KAWANGKOAN&lt;br /&gt;3. SMP Kr. WOLOAN&lt;br /&gt;HARAPAN : SMP BUNDA HATI KUDUS TOMOHON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA MAENGKET SERI A&lt;br /&gt;1. KUMELEMBUAI TOMOHON MINAHASA&lt;br /&gt;2. RURUKAN TOMOHON&lt;br /&gt;3. RONDOZEN UMBANUA KAKASKASEN TOMOHON&lt;br /&gt;4. MATUARI TUMPAAN JKT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA MAENGKET SERI B&lt;br /&gt;1. KUWIL MINUT&lt;br /&gt;2. RURUKAN JKT&lt;br /&gt;3. FAK SASTRA UNSRAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA-JUARA PERMAINAN RAKYAT :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA I FUTSAL&lt;br /&gt;: TARUNA BASIS SILIWANGI&lt;br /&gt;: CILILITAN JAKARTA TIMUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA II FUTSAL&lt;br /&gt;: GRYA TIPAR CAKUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA III FUTSAL&lt;br /&gt;: BENTENG KAMPUS UNGU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JUARA CATUR&lt;br /&gt;JUARA I : JANSEN WULUR&lt;br /&gt;JUARA II : BOYKE PARUNTU&lt;br /&gt;JUARA III : SULEMAN POLUAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima Kasih Atas dukungan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-8473183210030701355?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/8473183210030701355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2010/01/pekan-raya-kawanua-yang-diselenggarakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8473183210030701355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8473183210030701355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2010/01/pekan-raya-kawanua-yang-diselenggarakan.html' title=''/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-4146357035434003131</id><published>2009-12-20T15:47:00.001-08:00</published><updated>2009-12-20T15:48:54.220-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/Sy63upFgoWI/AAAAAAAAAP8/jJsPhnVoAqI/s1600-h/billboard3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/Sy63upFgoWI/AAAAAAAAAP8/jJsPhnVoAqI/s200/billboard3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5417469413704114530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://community.guinnessworldrecords.com/_North-Sulawesi-art-and-culture-festival-2009/BLOG/1465104/7691.html?widgetId=278229"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selanjutnya &gt;&gt;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-4146357035434003131?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/4146357035434003131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2009/12/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4146357035434003131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4146357035434003131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2009/12/blog-post.html' title=''/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/Sy63upFgoWI/AAAAAAAAAP8/jJsPhnVoAqI/s72-c/billboard3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-8652687124876514790</id><published>2009-01-20T03:22:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T03:24:21.625-08:00</updated><title type='text'>Tanggapan atas pernyataan Gubernur Sarundajang sebelumnya KAIN BENTENAN:  SIAPA  JIPLAK  SIAPA ?</title><content type='html'>(Oleh:Joutje Ariel Koapaha: Pemerhati Sejarah/Budaya Minahasa; Dosen UNIMA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca dan mencermati pernyataan Gubernur Sulawesi Utara, bapak Drs. S.H. Sarundajang di halaman depan harian surat kabar Komentar yang terbit Rabu (26/09/2007) dengan judul  “Gubernur:  Jangan Jiplak Tenunan Kain Bentenan” mengundang penulis untuk menanggapinya karena banyak hal-hal yang belum jelas dan membingungkan. Apalagi pernyataan Gubernur Sarundajang tersebut ditujuhkan kepada para pedagang kain atau siapa saja, yang bila melalukan tiruan atau jiplakan atas karya budaya kain tenun Bentenan, dapat dituntut  secara hukum oleh Yayasan Karema.  Bagi penulis pernyataan Gubernur dan klaim Yayasan Karema itu masih sangat kabur dan tidak mendasar.  Sebab yang namanya kain tenun Bentenan asli, disitu melekat hampir semua etnik Minahasa yang ada sekarang dimana aspek historisnya  belum ada kesepahaman dan kesepakatan diantara yang berkompeten.  Bahkan hal ini sempat berkembang hangat dalam tanya-jawab peserta seminar sehari (namun tidak memperoleh jawaban yang jelas dan meyakinkan dari para Pemakalah dalam seminar tersebut) yang berlangsung pada 26 September 2007 di wisma Sofie, Bentenan Center Desa Kolongan Atas Sonder, Kabupaten Minahasa, dimana penulis turut aktif berpartisipasi sebagai peserta seminar tersebut.  Bahkan ada seorang ibu yang  mempertanyakan ”mengapa Bentenan Senter tidak dibangun di wilayah wanua Bentenan, Kecamatan Posumaen Kabupaten MITRA sekarang” ?  Bagi penulis, Yayasan Karema hanya dapat menuntut  mereka (atau siapa saja) yang meniru atau menjiplak hasil desain, karya, dan kreasi yang merupakan produk baru dari Yayasan Karema semata wayang.   Karena yang namanya Kain Tenun Bentenan seperti Pinatikan Bantik, Kaiwu Patola, dan lain-lain itu telah dibuat dan sudah eksis sejak ratusan tahun bahkan berabad yang lalu, lantas kemudian hilang dari peredarannya sejak 200 tahun terakhir.  Ibaratnya kain tenun Bentenan ini sama dengan ikan Si Raja Laut (Coelacanth sp) yang sudah dinyatakan punah/hilang lantas beberapa tahun terakhir ini diketemukan kembali di perairan sekitar pulau Sulawesi, bahkan dikawasan reklamasi Teluk Manado.  Walaupun ikan tersebut diketemukan di laut Sulawesi oleh nelayan pantai Bahu dan oleh peneliti Jepang Cs, mereka tidak pernah mengklaim sebagai pemilik lesensi (apalagi otentik) atas ikan si Raja Laut tersebut. &lt;br /&gt;Kemudian atas dasar konstruksi dan corak  berbagai jenis kain tenun ini, pak Jessy Wenas lakukan jiplakan atau tiruan (bahkan mungkin kopian/printing) untuk kebutuhan produksi Yayasan  Karema sekarang.   Oleh sebab itu tulisan ini berjudul ”Siapa Jiplak Siapa” atau dengan kata lain, yang menjadi penjiplak (plagiator)  kain tenun Bentenan yang dimaksud dengan pernyataan Bapak Gubernur itu sebetulnya siapa ?  Sebab bagi Penulis, Yayasan Karema (termasuk juga leluhur yang membuat/memproduksi kain tenun Bentenan jenis Kaiwu Patola di tanah Malesung) juga berstatus sebagai plagiator  atau penjiplak.  Disisi lain,  Penulis yakin bahwa jika Departemen Kehakiman dan HAM R.I (atau lembaga HAKI) telah eksis sebelum atau ketika (timing) dibuatnya dan diproduksinya kain tenun Bentenan Pinatikan Bantik dan Kaiwu Patola Cs, maka produk-produk ini (misalnya Pinatikan Bantik dan Kaiwu Patola) pasti telah memiliki Hak Cipta  atau Hak Patennya.  Sebab kita sama tahu bahwa yang namanya kain tenun Kaiwu Patola ternyata merupakan jiplakan dari kain sutra Patola India (sebagaimana klaim pak Jessy Wenas dalam makalahnya) dan baru eksis di tanah Malesung sesudah abad ke-14 (empat belas).  Berbagai literatur menunjukkan,  bahwa satu-satunya kain tenun Bentenan yang tidak dijiplak  atau orsenil adalah jenis Pinatikan Bantik.  Dimana ini berdasarkan hasil studi literatur asing  pak Jessy Wenas.  Simak pernyataan Yayasan Karema yang mengklaim bahwa kain tenun Bentenan yang pertama (mula-mula) dibuat dan eksis di tanah Malesung (cikal bakal Minahasa) adalah jenis Pinatikan Bantik.  Dimana diperkirakan  telah eksis jauh sebelum abad ke-12 (duabelas).  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produk otentik (asli) dari kain tenun Bentenan yang dibuat oleh leluhur Minahasa adalah kain Bantik.   Sehingga wajar kalau masyarakat Bantik Sulawesi Utara mendapatkan lesensi dari lembaga HAKI  bukan saja untuk HAK Karyanya, tetapi HAK Ciptanya atau HAK Patennya.  Sebab ini adalah fakta dan bukti peninggalan seni-budaya dan sejarah Minahasa yang harus diakui dan diterima oleh generasi penerus keminahasaan sekarang.  Sehingga hal ini tidak harus dikaburkan atau diplintir untuk kepentingan sempit kelompok-kelompok tertentu dengan jalan membohongi sejarah–budaya leluhur Tou Minahasa.  Olehnya Penulis merasa bingung dan terusik dengan pernyataan Gubernur Sarundajang pada pemberitaan harian Komentar diatas bahwa siapa saja yang menjiplak atau meniru kain tenun Bentenan dapat dituntut secara hukum  oleh Yayasan Karema. &lt;br /&gt;Melalui tulisan ini Penulis bertanya pada pak Gubernur  Sarundajang, sbb: 1) Jika Penulis mendatangi Departemen HUKUM dan HAM R.I (lembaga HAKI) untuk mendaftarkan  kain tenun Bentenan jenis Pinatikan Bantik sebagai Hak Cipta atau Hak Paten dari masyarakat Bantik atau dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara (MITRA), apakah Penulis dapat dituntut secara hukum oleh Yayasan Karema ? ,  2) Jika Penulis melakukan printing atau membuat jiplak/tiruan atas kain Pinatikan Bantik atau kain Kaiwu Patola yang dengan asumsi berbeda  dengan motif produk Yayasan Karema untuk kepentingan apa saja, apakah Penulis dapat dituntut secara hukum oleh Yayasan Karema ?&lt;br /&gt;Bahkan berdasarkan hasil observasi pak Jessy Wenas dan klaim publikasi Yayasan Karema, ternyata tinggal tersisa 28 (dua puluh delapan) lembar kain tenun Bentenan asli di dunia yang tersimpan di Museum Jakarta, beberapa Museum Jerman (Frakfurd Am-Main, Dresden,  Delf), dan Museum Belanda (Asterdam dan Rotterdam).   Dari ke-28 lembar (helai) ini, ternyata 20 (dua puluh) lembar adalah jenis Pinatikan Bantik  dan 8 (delapan) lembar adalah jenis Kaiwu Patola. Olehnya penulis hanya menggunakan ke-2  jenis kain tenun Bentenan ini sebagai contoh case dalam penanggapan ini.   Sejak 1 (satu) tahun terakhir, penulis telah lakukan studi literatur dan observasi lapangan tentang keberadaan Kain Bentenan, dan follow-upnya telah membuat 2 (dua) makalah dan  publikasinya dengan judul: Wanua Bentenan &amp;amp; Kain Bentenan dan Primus Interpares Ratahan dan Pasa’n.  Setelah membaca dan mendalami makalah pak Jessy diatas, ternyata makin terbukti kesahian dari klaim dan publikasi Penulis sebelumnya.  Penulis sangat berkeinginan untuk mengunjungi berbagai Museum Dunia {bukan saja yang terdapat di negara Jerman dan Belanda tetapi juga Penulis yakin ada terdapat di negera Spanyol dan Pertugal (Portugis)} dalam upaya melengkapi temuan dan publikasi tulisan terkait namun belum memiliki dana yang cukup.   Setelah mengikuti seminar di Kolongan Atas Sonder,  Penulis menemukan banyak hal baru,  pencerahan, dan keyakinan yang semakin kokoh bertalian dengan klaim dan publikasi  Penulis selama ini bahwa “Kain Bentenan Adalah Kain Bantik”. &lt;br /&gt;    Pada kesempatan ini Penulis berterima kasih dan sangat menghormati pak Jessy Wenas dan Yayasan Karema yang telah melakukan pelacakan dan penemuan tentang keberadaan kain tenun Bentenan di berbagai Museum Dunia dan melihatnya sebagai suatu “hidden treasure of the Minahasa’s ancestors” (bukan hidden treasure of Minahasa).  Yang mana bukan hanya dari segi aspek substansi fisiknya tetapi juga dari segi referensi/literatur pendukungnya.  Sebagai orangtua (bukan karena pak Jessy Wenas ternyata mewarisi darah/keturunan leluhur etnis yang sama dengan Penulis dimana hal ini diungkapkannya dihadapan odiens peserta seminar), Penulis begitu bangga dengan beliau karena banyak menemukan referensi baru (terutama literatur asing) dan berkesempatan mendalaminya sehingga memahami tentang keberadaan sesungguhnya dari leluhur Tou Minahasa pada jaman kuno.  Sebagai seorang Budayawan Minahasa,  kemampuannya menguasai bahasa Belanda dan bahasa asing lainnya,  serta keuletannya untuk mau cari tau, terbukti telah tercermin dalam banyak hasil karyanya tentang sejarah dan seni-budaya keminahasaan.  Untuk itu kita semua sebagai komponen generasi penerus Minahasa  sekarang patut hargai dan acungkan jempol buat pak Jessy, yang ternyata leluhurnya (Kawenas) berasal dari wilayah Tombatu (sekarang).&lt;br /&gt;Dari substansi makalah Pak Jessy dengan topik “Sejarah Kain Bentenan”, ternyata penulis temukan banyak hal baru tentang kain tenun Bentenan {termasuk referensi baru seperti: J.E Jasper: De Inlandsch Kunstnijverheid in Nederlandsch Indie (1912),  Ritta Boland: Weaving the Pinatikan (1977) dan S.Pangemanan:  Kerajinan Orang Minahasa (1919)}.  Dari ke-3 penulis (literatur) inilah, pak Jessy Wenas temukan gambar tenun kain Bentenan dan penggunaan nama  bagian-bagian struktur tenunan serta penggunaan nama alat serta bahan baku dalam proses pembuatan (Mangalrimu atau Mangaiwu) kain tenun Bentenan. Yang ternyata,  menggunakan Bahasa (Kata) Bantik.  Sedangkan berdasarkan klaim seorang sastrawan/pujangga besar dunia “Dante”,  menyatakan bahwa Bahasa Bantik adalah bahasa Tora Bantik  yang tergolong bahasa kuno yang telah eksis sekitar 2000 (dua ribu) tahun lalu, bersamaan dengan eksistensi bahasa Jawa Kawi, dan bahasa Steppa Mongolia. Kita tahu bersama bahwa bahasa merupakan suatu kunci (sarana) yang sangat penting untuk mengenal dan memahami sejarah dan seni-budaya suatu etnik anak negeri yang menggunakan/memakai bahasa tersebut.  Hal ini penting terkait dengan pemberian nama-nama jenis, nama bahan dan alat, dan bahkan bagian-bagian struktur tertentu dari kain tenun Bentenan yang ternyata menggunakan kata (bahasa) Bantik.  Walaupun notabene sebagian besar telah disalah eja dan disalah cetak oleh  penulisnya  (sebab mungkin para penulis asing maupun penulis lokal tersebut tidak menguasai tatabahasa dan kosakata Bahasa Bantik). Tetapi walaupun penulisannya agak berbeda (sedikit menyimpang baik struktur kosakata dan tatabahasanya), tetapi kata-katanya tetap memberikan makna yang sama dalam artian bahasa Indonesianya.&lt;br /&gt;Berikut ini penulis ketengahkan beberapa kata contoh (diambil dari makalah pak Jessy) yang merupakan pemberian nama atas jenis kain Bentenan (termasuk nama bagian bahan penyusun helainya) motif tertentu yang telah diproduksi dan dipublikasi oleh Yayasan Karema.  Contoh kata kain “Pinatikan Bantik” yang merupakan latar belakang dan asal usul lahirnya pemberian nama Suku Bantik (sebagai suatu etnik sebutan baru) karena terjadi perubahan nama dari nama awalnya, yakni Puak Pondaigi.  Ketika sekelompok besar leluhur masyarakat Bantik yang waktu itu tumani dan menempati Pontak (Minsel sekarang) yang pada jaman dahulu berada dalam kekuasaan kerajaan Bolaang Mongondouw (peristiwa detilnya dapat dibaca dalam makalah Penulis yang berjudul “Leluhur Tou Banti Adalah Leluhur Masyarakat Asli Bolaang Mongondouw”).  Contoh kata kain jenis: Kaiwu Patola, yang menurut N.P. Wilken merupakan salah satu aset pernikahan leluhur masyarakat Bantik tempo dulu.  Kain jenis ini juga dikenal oleh leluhur masyarakat Bantik sebagai Sukubu yang digunakan dalam pembagian waris keluarga dan  juga dalam hal upacara adat peminangan dan perkawinan.  Dimana juga melekat kata Kaiwu yang notabene berasal dari kata Bantik Kalrimu, yang artinya alat atau ramuan bahan untuk dijadikan sesuatu.  Contoh kata kain jenis Tinonton Mata  yang berasal dari kata Bantik  “Tantaon Toumata”  yang artinya bayangan gambar manusia (dalam bahasa Indonesianya).  Contoh kata kain jenis Tinompak Kuda yang berasal dari kata Bantik  “Tinopa’ Kabalro”, yang artinya berbentuk bekas telapak hentakan (Tinopa) kaki  kuda (kuda petanda kaki).  Contoh kata jenis kain Kokerah yang berasal dari kata Bantik “Kakeda” yang artinya merupakan  benda  yang memancarkan kilau/cahaya putih seperti kerlip manik-manik dan kunang-kunang.  Contoh kata kain Koleh (atau jenis Sinoi) yang berasal dari kata Bantik ”Kolre” yang artinya alat penutup kelamin/kemaluan manusia (seperti Cawat).  Contoh kata tenunan kain Pasolongan, yang berasal dari kata Bantik “Pasolroan” (dari akar kata Pasolro),  yang merupakan alat berbentuk Pasolro (selinder) yang biasanya terbuat dari Timbalrang (bulu nasi jaha) kering dengan ukuran diameter lebih besar yang digunakan untuk menyimpan kapas yang telah dikeringkan.&lt;br /&gt;Dalam menenun kain Bentenan, prinsip pokok adalah bagaimana menyusun (merajut) benang memanjang dan benang melintang yang telah diwarna-warni sehingga membentuk suatu motif gambar yang sesuai dengan rancangannya.  Dengan mengutip buku S. Pangemanan, Pak Jessy  menyebut  benang memanjang ini disebut Waselene,  yang ternyata berasal dari kata (bahasa) Bantik “Bahese Ne”, yang artinya  posisi baris/alur yang memanjang.  Sedangkan kata Sa’ Lange,  berasal dari Kata Bantik “Sa’lrange”, yang artinya sesuatu (termasuk benang) yang disisipkan/diselipkan melintang  diantara baris (benang) yang memanjang.  Jadi walaupun pak Jessy Wenas mewarisi darah/keturunan etnis leluhur Minahasa {Kabenas-Dumais (marga ini berasal dari duo pimpinan leluhur etnis Tuominahasa  Humaisi-Humopa yang sekarang diwariskan sebagai marg: Dumais dan Lumopa/Lumowa atau Rumopa bagi keturunan mereka)} yang sama dengan Penulis, tapi sayangnya beliau sudah tidak menguasai dan mendalami bahasa Tora Bantik.   Sebab bila pak Jessy menguasai sejarah dan bahasa Tora Bantik tersebut, maka beliau tidak akan mengalami kesulitan  untuk menjelaskan  penggunaan kata-kata dan arti yang terkait dengan pemberian nama dalam proses pembuatan motif kain tenun Bentenan asli.&lt;br /&gt;Masih banyak hal yang penulis ingin ketengahkan bertalian dengan sejarah dan proses pembuatan kain tenun Bantenan asli, namun karena terbatas dengan ruang (dimana materi ini untuk tujuan publikasi koran lokal) maka lanjutannya (pasti lebih seru) dapat diikuti pada publikasi Penulis berikutnya  dengan judul  “Kain Bentenan Adalah Kain Bantik”.   Termasuk penjelasan mengapa eksis kain motif Bentenan di pulau Timor dan perihal kedatangan keluarga Pangkey  di tanah Minahasa  yang menurut pak Jessy (dengan mengutip tulisan J.E. Jasper) keluarga ini berasal dari pulau Timur.  Bahkan juga penjelasan para dotu leluhur Tou Minahasa seperti Pontomandolrang, Kumokomba (Komakombang atau Kombangen), Kalele Kinupit,  Dewi Warangkiran (Balrangkidan)  dan Sualrang Pinatandu atau Turing Ni Sualang) yang terkait dengan penggunaan kain tenun Bentenan dan ornamen tertentu dalam upacara-upacara adat leluhur Tou Minahasa pada jaman kuno. Termasuk penjelasan asal-usul para dotu tersebut, yang notabene mereka merupakan tokoh-tokoh  dan pemimpin dalam ceritra legenda masyarakat Bantik.  Mohon maaf kalau ada pihak-pihak tertentu yang merasa terusik atau kebakaran jenggot dalam pemaparan substansi artikel ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-8652687124876514790?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/8652687124876514790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2009/01/tanggapan-atas-pernyataan-gubernur.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8652687124876514790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8652687124876514790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2009/01/tanggapan-atas-pernyataan-gubernur.html' title='Tanggapan atas pernyataan Gubernur Sarundajang sebelumnya KAIN BENTENAN:  SIAPA  JIPLAK  SIAPA ?'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-8695437551668669358</id><published>2008-12-22T21:24:00.000-08:00</published><updated>2008-12-22T21:26:28.678-08:00</updated><title type='text'>Tuhan masih memberi waktu</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sambutan Ketua Umum Panitia Festival Seni Budaya /Ketua sekaligus pendiri Institut Seni Budaya Sulawesi Utara, yang direfleksikan melalui pembacaan puisi yang ditulisnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan masih memberi waktu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;karya Benny  J. Mamoto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah malam&lt;br /&gt;aku duduk seorang diri&lt;br /&gt;Di beranda rumahku di Tompaso sambil merenung.&lt;br /&gt;hawa dingin menusuk tulang-tulangku&lt;br /&gt;yang semakin menua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan gerimis jatuh di atap seng&lt;br /&gt;menimbulkan bunyi gemericik riuh rendah.&lt;br /&gt;Suara kodok dan jangkrik bersaut-sautan,&lt;br /&gt;berpadu dalam keharmonisan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku menerawang jauh.&lt;br /&gt;kesibukan kerja sehari-hari &lt;br /&gt;membuat aku tidak punya waktu&lt;br /&gt;untuk merefleksi diri.&lt;br /&gt;Dalam perenunganku malam itu,&lt;br /&gt;kudapati&lt;br /&gt;ternyata selama ini aku hanya berpikir&lt;br /&gt;tentang diriku sendiri.&lt;br /&gt;aku hanya berharap orang lain&lt;br /&gt;memperhatikanku,&lt;br /&gt;menghargaiku,&lt;br /&gt;menyanjungku,&lt;br /&gt;memujiku….&lt;br /&gt;Semuanya terarah padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku tersadar…..&lt;br /&gt;mengapa aku jadi seperti itu.&lt;br /&gt;Orang tuaku tidak mengajarkan seperti itu.&lt;br /&gt;Alkitab tidak mengajarkan seperti itu.&lt;br /&gt;Mengapa semakin jauh perjalananku&lt;br /&gt;aku semakin jauh dari nasehat orang tuaku&lt;br /&gt;dan ajaran agamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Bapa  ampuni aku……&lt;br /&gt;Aku tak layak disebut anak Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau Tuhanku mengajarkan aku&lt;br /&gt;untuk  melayani sesama,&lt;br /&gt;membantu sesama,&lt;br /&gt;menghargai sesama,&lt;br /&gt;dan mengasihi sesama.&lt;br /&gt;Engkau berikan teladan&lt;br /&gt;bagaimana berkorban untuk sesama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku coba mengingat..…&lt;br /&gt;Apa yang pernah aku berikan kepada sesamaku,&lt;br /&gt;Kapan aku memberikan perhatian&lt;br /&gt;dan penghargaan atas orang-orang&lt;br /&gt;yang pernah membantu aku….&lt;br /&gt;Ternyata sangat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup sayup kudengar&lt;br /&gt;alunan musik kolintang&lt;br /&gt;dari pengeras suara desa tetangga kanonang.&lt;br /&gt;begitu indah dan merdu.&lt;br /&gt;aku menikmatinya.&lt;br /&gt;aku hanyut dalam alunan lagu&lt;br /&gt;o ina nikeke yang dimainkan. &lt;br /&gt;Ketika musik kolintang berhenti,&lt;br /&gt;kembali aku tersadar….&lt;br /&gt;aku telah menikmati alunan kolintang,&lt;br /&gt;tapi aku tidak tahu siapa yang menciptakannya,&lt;br /&gt;siapa yang membuat alatnya….&lt;br /&gt;oh sungguh naif….&lt;br /&gt;aku terhibur olehnya,&lt;br /&gt;tapi aku tidak mau tahu&lt;br /&gt;siapa yang berjasa menciptakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga teringat maengket yang begitu indah,&lt;br /&gt;Musik bia yang begitu unik,&lt;br /&gt;Kabela yang begitu menarik,&lt;br /&gt;Musik Bambu yang begitu merdu,&lt;br /&gt;demikian juga kabasaran, tari jajar, masamper…….&lt;br /&gt;semuanya mengagumkan&lt;br /&gt;dan aku menikmatinya.&lt;br /&gt;namun, lagi-lagi aku tidak tahu siapa penciptanya,&lt;br /&gt;siapa yang mengembangkannya&lt;br /&gt;oh…  aku jadi trenyuh .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan gerimis semakin deras,&lt;br /&gt;petir menyambar pohon kelapa di belakang rumahku.&lt;br /&gt;aku terhentak&lt;br /&gt;terpaku aku&lt;br /&gt;denyut jantungku berdebar kencang.&lt;br /&gt;Sadarlah aku&lt;br /&gt;rupanya aku belum dipanggil Nya.&lt;br /&gt;Tuhan masih beri aku waktu untuk hidup…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin bertiup kencang…&lt;br /&gt;hujanpun mulai reda.&lt;br /&gt;kembali aku dalam ketenangan suasana hati.&lt;br /&gt;kembali aku merenung,&lt;br /&gt;Apa maksud Tuhan memberi aku waktu.&lt;br /&gt;Saat itulah tiba-tiba muncul dalam pikiranku……&lt;br /&gt;Aku harus segera melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;Aku harus merubah sikapku,&lt;br /&gt;selagi Tuhan masih memberi waktu.&lt;br /&gt;aku harus mengubah sikapku.&lt;br /&gt;aku harus mengubah orientasiku.&lt;br /&gt;aku harus melayani,&lt;br /&gt;aku harus bisa menghargai sesamaku,&lt;br /&gt;aku harus memberi diri untuk kemajuan daerahku…..&lt;br /&gt;dan aku harus berbuat sesuatu untuk seni budaya&lt;br /&gt;yang telah menghiburku.&lt;br /&gt;Seni budaya yang telah menaruh andil&lt;br /&gt;dalam membentuk karakter bangsaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat SMS yang dikirim oleh temanku Odameng…&lt;br /&gt;Dia ingin ketemu aku,&lt;br /&gt;ingin menyampaikan sesuatu.&lt;br /&gt;Oleh karena kesibukanku,&lt;br /&gt;aku menunda pertemuanku dengan dia.&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku mendengar berita duka…&lt;br /&gt;seperti disambar petir rasanya…..&lt;br /&gt;temanku sudah dipanggil Sang Khalik&lt;br /&gt;beberapa jam yang lalu.&lt;br /&gt;perasaanku sedih, kalut, tidak karuan.&lt;br /&gt;Ada rasa menyesal,&lt;br /&gt;Basah kelopak ini,&lt;br /&gt;mengapa aku menunda pertemuan itu.&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apa yang akan disampaikannya.&lt;br /&gt;Semua menjadi misteri.&lt;br /&gt;tapi aku dengar dari kerabatnya&lt;br /&gt;bahwa dia punya ide&lt;br /&gt;mementaskan festival songkok….&lt;br /&gt;entah itu bercanda,&lt;br /&gt;tapi ternyara dia memiliki ide yang ingin disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku tenggelam dalam kesedihan&lt;br /&gt;bila mengingat satu persatu&lt;br /&gt;pejuang-pejuang kebudayaan di panggil Sang Khalik&lt;br /&gt;belum lama berselang aku kehilangan&lt;br /&gt;Om Owik Ngantung, maestro Kabasaran&lt;br /&gt;Sayang, aku belum sempat mendokumentasikan&lt;br /&gt;karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari semakin larut,&lt;br /&gt;gerimis masih turun.&lt;br /&gt;rasa kantuk semakin menggelayut.&lt;br /&gt;sebelum masuk ke kamar tidur&lt;br /&gt;aku sudah bertekad untuk mewujudkan niatku….&lt;br /&gt;Aku ingin memberi sesuatu&lt;br /&gt;kepada teman-temanku pendahuluku&lt;br /&gt;sebagai wujud penghargaanku.&lt;br /&gt;akan kuajak teman-temanku,&lt;br /&gt;saudara-saudaraku warga Sulawesi Utara&lt;br /&gt;untuk bersama-sama menundukkan kepala&lt;br /&gt;memberi hormat dan penghargaan&lt;br /&gt;kepada para pahlawan kebudayaan,&lt;br /&gt;pejuang-pejuang kebudayaan Sulawesi Utara tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang indah ini,&lt;br /&gt;dalam suasana kita menyongsong kelahiran&lt;br /&gt;Sang Juruselamat kita,&lt;br /&gt;Kuingin menyentuh dan menyapa&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku, Pahlawan Kebudayaan&lt;br /&gt;dan Pejuang Kebudayaan bersama keluarganya.&lt;br /&gt;Hai teman-temanku,&lt;br /&gt;saudara-saudaraku,&lt;br /&gt;Tuhan masih memberi waktu……&lt;br /&gt;berbuatlah untuk Sulawesi Utara…&lt;br /&gt;berbuatlah untuk bangsa kita tercinta Indonesia,&lt;br /&gt;demi masa depan yang damai dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk dalam peraduanku…&lt;br /&gt;Aku tertidur lelap.&lt;br /&gt;Dalam mimpiku,&lt;br /&gt;aku menyaksikan dimana-mana&lt;br /&gt;anak-anak muda Sulawesi Utara&lt;br /&gt;dengan sukacita memainkan kolintang,&lt;br /&gt;menari maengket, mahamba bantik,&lt;br /&gt;tari jajar, kabasaran,&lt;br /&gt;memainkan musik bia,&lt;br /&gt;musik bambu dengan merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh betapa indahnya karunia Tuhan itu.&lt;br /&gt;betapa kuatnya seni budaya itu eksis di tanah kelahirannya.&lt;br /&gt;Semua orang mengakuinya.&lt;br /&gt;tiba-tiba mimpiku terputus&lt;br /&gt;karena kokok ayam jago bersuara keras&lt;br /&gt;dibelakang kamar tidurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangun pagi,&lt;br /&gt;hawa dingin masih menusuk.&lt;br /&gt;aku melihat matahari pagi mulai muncul di ufuk timur.&lt;br /&gt;aku teringat mimpiku yang indah itu……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah mimpi itu menjadi kenyataan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-8695437551668669358?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/8695437551668669358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/12/tuhan-masih-memberi-waktu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8695437551668669358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8695437551668669358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/12/tuhan-masih-memberi-waktu.html' title='Tuhan masih memberi waktu'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-4001784124086320190</id><published>2008-12-18T13:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T13:19:12.268-08:00</updated><title type='text'>Malam Penganugerahan Seni Budaya Sulawesi Utara</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Malam Penganugerahan Seni Budaya Sulawesi Utara&lt;br /&gt;MCC, Senin Malam 15 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman parkir Gedung Manado Convention Center terisi penuh oleh mobil-mobil para undangan pada malam hari itu. Gerimis hujan berjatuhan namun cahaya lampu yang bersinar terang dari dalam gedung menghangatkan ratusan hadirin yang kebanyakan berlatar belakang seniman dan budayawan se-Sulawesi Utara tersebut. seniman, budayawan, pemerhati seni, peneliti seni, pelaku seni .... dari semua jenis seni dan budaya. Terlihat misalnya Titus Loho (Maestro Maengket Tombulu), Merdeka Gedoan (Budayawan) Yessy Wenas (Pencipta Lagu) Tedy Kumaat (seniman teater), Ibu Sus Sualang Pangemanan (Ketua Dewan Seni Budaya Sulut, Eric MF. Dajoh (wartawan senior/dedengkot teater) dan lain-lain.&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan pukul 18.00 Wita ketika acara penganugerahan mulai dipimpin langsung oleh DR. Ricardo Renwarin Pr, acara tersebut dibuka dengan Ibadah pra Natal bersama dengan diiringi musik kolintang Musika sakra Tomohon. Sesudah ibadah pra natal selesai para undangan disuguhkan dengan pentas Seni tari maengket, musik bambu, dan kabasaran dilanjutkan Pemberian Penghargaan kepada ke lima tokoh Seni dan Budaya Sulawesi Utara. Alm.Nelwan Katuuk, Hein Kaseke, Alm.Lodewyk Ngantung, Alm. Keryangan Odameng dan Bernard Ginupit adalah para seniman daerah yang mendapatkan penghargaan dari Insitut Seni Budaya Sulawesi Utara yang diserahkan oleh Dr. Benny J. Mamoto SH,Msi sebagai founder bersama istri tercinta. Hein Kaseke dan Bernard Ginupit menerima penghargaan secara langsung sedangkan para Almarhum diwakili oleh keluarganya masing-masing.&lt;br /&gt;Acara pada malam itu juga menjadi Momentum pembubaran Festival seni Budaya Sulawesi Utara yang berganti nama menjadi Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Perlu diketahui bahwa Festival Seni Budaya Sulawesi Utara selama 20 bulan beraktivitas sudah menelorkan : 24 rekor MURI dan 49 agenda seni budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  DR. Benny Josua Mamoto, penggagas acara, tujuan penghargaan:&lt;br /&gt;Selama ini apresiasi kepada seniman dan budayawan sangat minim. Memberi apresiasi kepada para pengabdi seni budaya ini tidak sekedar penghargaan atas karya dan pengabdian mereka semata tapi diharapkan akan menjadi  daya dorong yang memberi mereka semangat untuk terus berkreasi demi lestarinya seni budaya Sulawesi Utara. Semoga langkah awal ini boleh menyentuh dan menggerakkan pihak-pihak lain yang peduli terhadap pengembangan dan pelestarian seni budaya untuk melakukan hal yang sama dalam mengapresiasi kerja keras dan jasa para seniman/budayawan. Sebab yang sekarang kita butuhkan adalah bukan hanya sekedar berjalan tetapi berlari cepat dalam pengembangan seni budaya Sulut. Jadi, sekarang yang dibutuhkan bukan sekedar bicara ataupun peduli saja tetapi sudah waktunya kita berbuat, bekerja!&lt;br /&gt;Penghargaan ini tak berhenti disini saja, untuk itu kami memohon kepada pihak untuk memberikan bahan maupun data-data para seniman dan budayawan yang masih hidup  maupun yang sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas Para Penerima Penghargaan Seni Budaya Sulut!&lt;br /&gt;Bernard Ginupit&lt;br /&gt;Nama Bernard Ginupit dalam komunitas seni budaya Tanah Totabuan, sudah sangat melekat dan kenal sebagai budayawan yang multi talenta. Dari tari, musik sampai sastra dilakoni tanpa mengenal lelah dari tahun 1948 ketika ia pertama kali mencipta lagu daerah Bolaang Mongondow. Semenjak itu berbagai karya seni budaya pria kelahiran  Kopandakan 15 Agustus 1928,  mengalir, antara lain;  Pencipta Lagu Perjuangan tingkat Nasional terbaik, Menulis buku lagu-lagu Daerah Bolaang Mongondow dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia,  Tahun 1999 Lagu-lagu Daerah yang telah dicipta masuk dapur rekaman oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia di Jakarta. Menulis Kamus,   Sejarah, dan Cerita Rakyat,   Bolaang Mongondow.  Mencipta Tari: Tari Monugal (Menanam Padi Ladang), Tari Mokoyut (Memetik Padi), Tari Pomamaan ( Makan sirih Pinang ), Sendra Tari Mokosambe (kisah 7 putri kayangan).&lt;br /&gt;Jujur saya kaget, tersanjung dan sangat merasa dihargai atas dinominasi dan terpilih untuk mendapatkan penghargaan ini. Bagi saya momentum ini akan menjadi pendorong saya untuk terus berkarya disisa usiaku. Terima kasih pada Institut Seni Budaya Sulawesi Utara yang tidak hanya sekedar bicara maupun peduli tetapi telah berbuat nyata bagi pengembangan seni budaya Sulawesi Utara. Itu yang saya lihat dan rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hein Kaseke&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1967 mulai melatih Musik Bambu dibeberapa tumpukan Musik Bambu di daerah Ratahan dan sekitarnya. Tahun 1980, penglihatannya tiba-tiba hilang. Tapi bukan berarti menyurutkanya untuk mendalami Musik Bambu.  Kecintaaannya pada Musik Bambu makin menjadi-jadi. ”Mata buta bukan berarti akhir dari segala-gala. Saya makin terpacu. Saya percaya semua yang terjadi so diatur yang Kuasa,” kata pria kelahiran Tousuraya 10 Desember 1947 ini.  Tahun 1983, untuk lebih fokus pada pengembangan Musik Bambu, ia  meminta pensiun dini sebagai pegawai negeri yang dilakoninya sejak tahun 1965. Kini, hidupnya tiada hari tanpa Musik Bambu baik sebagai pelatih, pengrajin maupun mengaranger lagu. Dan dari tangan suami Elisabeth Punuhsingon ini  sudah 5 (lima) album kaset yang ia keluarkan antara lain: Album Rohani Musik Bambu Klarinet dan album Musik Klarinet bersama tumpukan Harapan Taruna Jaya Pangu Ratahan.&lt;br /&gt;Dengan adanya penghargaan ini, dunia seni budaya Sulawesi Utara mendapat gairah baru. Saya percaya dengan adanya penghargaan ini akan memacu para seniman untuk terus berkarya bukan karena ada penghargaan tetapi karena adanya perhatian dan apresiasi dari para peminat seni budaya khususnya Institut seni Budaya sulawesi Utara. Saya bersyukur adanya seorang Benny Mamoto yang datang bagaikan mata air di tengah gurun pasir, yang memberi dahaga bagi para seniman tua seperti saya. Ini adalah adalah hadiah istimewa di hari ulang tahun saya yang ke 62. Makase Tuhan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhun Lodewyk Dirk Ngantung&lt;br /&gt;Bicara tentang Tari Kabasaran (Cakalele) di Sulawesi Utara, nampaknya kurang lengkap tanpa menyebut namanya. Om Owik begitu ia disapa. Nama lengkap pria kelahiran Tomohon 29 Juni 1929 ini adalah Lodewyk Dirk Ngantung.  Ekspresi wajahnya ketika sedang beraksi Kabasaran banyak menghiasi media-media umum maupun pariwitasa dunia. Kartu Pos pariwisatapun, baik yang dicetak di Sulawesi Utara maupun di macan negara banyak yang mengabadikan wajahnya sebagai model. Memang Om Owik menjadi ikon pariwisata seni budaya. Sampai Tuhan memanggil pada 28 Oktober 2008, sudah tak terhitung berapa kali ia menjadi duta seni budaya khususnya Kabasaran, yang digelutinya sejak tahun1955.&lt;br /&gt;”Penghargaan ini membuat keluarga kami merasa sangat terhormat. Saya  tidak menyangka pengabdian almarhum pada Kabasaran diperhatikan. Peristiwa malam ini bagaikan mimpi,” tutur Pinaria Lolong, istri sang maestro Kabasaran. Memang setahu saya, selama hidupnya almarhum tak pernah diberikan penghargaan dari manapun, oleh siapapun. So ribuan kali kita pe suami selalu dipakai oleh pemerintah maupun swasta  untuk menjemput tamu, baik turis maupun kepala negara. Atas nama keluarga besar Om Owik, kami mengucapkan terima kasih pada Bapak Benny Mamoto, yang semasa hidup dan ketika meninggal sangat memperhatikan keluarga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Nelwan Katuuk&lt;br /&gt;Nama Almarhum Nelwan Katuuk, dalam jejak sejarah Musik Kolintang sudah begitu menyatu. Sebab boleh dikata dari tangan kreatifnya  Musik Kolintang tercipta, yang ditandai  dengan mengembangkan ensambel musik Kolintang dengan menetapkan nada-nada Chromatic dan Diatonik. Uniknya, Almarhum yang lahir di Desa Kauditan Minahasa Utara pada 30 Maret 1920, sejak lahir sudah tidak bisa melihat. Tapi walaupun buta namun Tuhan memberikan karunia lain yang begitu dasyat pada seni musik.&lt;br /&gt;Dalam rekam jejak pengabdiannya, tercatat almarhum telah mengkreasikan  Kolintang tradisional berupa orkes yang menggabungkan alat musik kolintang yang diciptakan dengan musik lainnya  yang terdiri dari  Kolintang Melodi, Gitar, Ukulele (Juk), String Bass tradisional. Juga dari tanganya sudah tercipta kurang lebih 20 lagu daerah.&lt;br /&gt;Mewakili istri almarhum; Soesana Lasut, salah seorang puterinya Dra. Rachel H.E. Katuuk, mengungkapkan penghargaan yang diberikan Bapak Benny Mamoto melalui Institut Seni Budaya Sulut ini makin mempertegas bahwa Musik Kolintang milik Sulawesi Utara. Baginya, seni budaya tanpa perhatian tak akan berkembang. ”Perasaan kami keluarga tak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Yang pasti, kami terharu, walau Papa so nyanda ada tapi buah karyanya  diperhatikan di daerah tempat lahirnya. Ini adalah penghargaan pertama dari Sulawesi Utara kepada almarhum. Sebab negara lewat penghargaan yang diberikan Presiden Soekarno pada 1963 mengakui almarhum adalah pencipta Musik Kolintang. Jadi penghargaan ini melengkapi pengakuan yang sudah ada atas karya-karya Almarhum  namun peristiwa ini menjadi begitu istimewa karena penghargaan datang dari daerah tempat Almarhum lahir dan meninggal. Nelwan Katuuk dipanggil Sang Kuasa pada 26 Januari 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Keryangan Odameng&lt;br /&gt;Ketika penjaringan penerima penghargaan namanya langsung menonjol terlebih di komunitas Masamper. Memang perjalananan aktivitas seni  Almarhum Keryangan Odameng tak bisa dilepaskan dengan Masemper. ”Ia seorang seniman pekerja keras, apalagi kalau menyangkut perkembangan Masemper,” tutur Merdeka Gedoan, seniman serba bisa sahabat Almarhum, sambil menambahkan, pilihan Institut Seni Budaya memilih pria yang meninggal pada 25 Januari 2007 ini sebagai salah seorang penerima penghargaan, itu pilihan yang tepat dan almarhum sangat layak untuk mendapatkannya. Salah satu jasa pria kelahiran Manganitu 2 Desember 1956 dalam mengembangkan Masemper adalah inisiator  menjadikan Masamper bisa dilombakan.&lt;br /&gt;”Saya dan keluarga tak menyangka kalau jeri payah, pengabdian dan dedikasi suami saya pada Masemper masih diingat, dikenang dan dihargai. Jujur ketika mendapat kabar bahagia ini saya menangis. Terima kasih pada semua pihak terlebih kepada Bapak Benny Mamoto yang melihat, peduli dan mengapresiasi jasa-jasa Almarhum pada seni Masemper,” jelas Joice Sumigar, SPd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-4001784124086320190?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/4001784124086320190/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/12/malam-penganugerahan-seni-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4001784124086320190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4001784124086320190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/12/malam-penganugerahan-seni-budaya.html' title='Malam Penganugerahan Seni Budaya Sulawesi Utara'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-5797174541771273595</id><published>2008-11-19T01:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T02:03:00.230-08:00</updated><title type='text'>Komentar terhadap Inskripsi Guratan Batu Pinabetengan</title><content type='html'>Beberapa bulan yang lalu ( 24 Juli 08' ) artikel pak Jessy Wenas, tertanggal 18 Juli dengan judul ”Inskripsi guratan gambar batu Pinabetengan”, dibawa kepadaku langsung oleh Pak Jessy Wenas dan pak Joutje. Pada waktu itu pak Jessy memberikan komentar : ” Ini tulisan budayawan yang pasti berbeda dengan seorang Ilmuwan. Angan-angan budayawan bisa mengembara ke sana-sini ”. Dan memang benar, membaca tulisan ini memaksa otak Saya untuk ikut menelusuri pengembaraan angan-angan pak Jessy, sampai akhirnya Saya pusing kepala, belum sampai tujuh keliling.&lt;br /&gt;Dan Saya bertanya-tanya mengapa sampai kepala Saya menjadi pusing?. Bisa jadi karena apa yang Saya harapkan dari judul artikel ini tidak dapat kutemukan kejelasannya sampai pada akhir makalah ini ( kalau bisa disebut ’makalah’ atau lebih tepat ’guratan’). Memang cara pendekatan dalam hal mengolah budaya dari pak Jessy dan Saya sangat berbeda, walaupun keduanya berusaha membuat dua kegiatan yaitu :&lt;br /&gt;a)    Membuat REKONSTRUKSI dari penggalan-penggalan data yang sudah tersurat dan yang baru ditemukan.&lt;br /&gt;b)    Membuat INTERPRETASI terhadap hasil rekonstruksi agar semua data ini bisa masuk akal.&lt;br /&gt;Rekonstruksi dan Interpretasi ala Jessy Wenas ini sangat mirip dengan pola yang dipakai oleh para penulis Minahasa tempo dulu seperti J.A Worotikan (1931), H.M Taulu(1950-1980 an). F.S Watuseke (1960-1980 an). Gaya bahasa dan alur pikirnya pun cenderung sejajar. Mereka memang membaca bahasa Belanda dan mengenal beberapa buku tulisan para Zendeling, seperti J.G.F Riedel, dan J.A.T Schwarz, serta N.Graafland, ditambah pula dengan pengetahuan tentang salah satu bahasa lokal. Tidak dibuat penelitian mandiri mengenai kondisi hidup dan budaya Minahasa semasa, dan berdasarkan cuplikan-cuplikan kisah mitologis dari teks para Zendeling ini mereka membuat rekonstruksi ’quasi’ sejarah dan budaya Minahasa. Data kisah mitologis ini diterima begitu saja sebagai benar (taken for granted) dan didaur ulang berdasarkan interpretasi dan angan-angan mereka yang melompat ke sana ke mari.&lt;br /&gt;Khususnya mengenai Batu Pinabetengan, Jessy Wenas mulai dengan cuplikan dari Riedel yang tertulis dalam bahasa Tombulu pada tahun 1870, sedangkan teks Melayu tuanya sebenarnya sudah terbit tahun 1862 dengan judul, ’pada manjatakan...’.&lt;br /&gt;Demikian pula Riedel dalam ’ a’asaren tu’ah.. ’ ini tidak mengklaim bahwa To’ar merupakan leluhur kelompok etnis Tombulu, Karema untuk Tonsea, ataupun Lumimu’ut untuk Tontemboan: interpretasi ini dibuat hanya oleh J.A Worotikan pada tahun 1931 (’Greschiedenis uit der sagen en mythen der Minahsa’). Mungkin akses untuk tulisan – tulisan dari F.S.A. de Clerc, yang sangat banyak juga, tidak ada, sehingga pembandingan ritual di batu Pinabetengan: ada pula seorang penulis Minahasa, yang menyandang nama Natetomalesa (tanpa datum), yang mencoba membuat rekonstruksi ritual pembagian di Pinabetengan ini. Begitu pula cuplikan mengenai silsilah dari ’Rotinsulu’ yang katanya sampai 29 generasi ke atas itu, sama sekali tidak tercantum dalam buku ’ Uit onze Kolonien’ dari van Kol, karena dia hanya menulis tentang kondisi pemerintahan semasa: satu-satunya silsilah yang pernah ditulis, terdapat  di buku N.Gaafland, ’ Minahasa ’ (1889), yang mengutip kisah dari N. Wilken di Tomohon.&lt;br /&gt;Angan-angan mengenai Karema-Lumimuut-Toar, yang berasal dari J.A Worotikan ini, kemudian dikaitkan dengan peristiwa pembagian wilayah Batu Pinabetengan, sehigga terkesan bahwa ketiga mereka ini turut hadir dalam peristiwa ini dan karenanya figur-figur mereka tergores di batu ini. Yang Saya tahu dari tulisan Riedel, yang dipakai dalam makalah Wenas ini, tidak disebutkan bahwa ketiga sosok primogenitur ini berhubungan dengan Batu Pinabetengan, karena mereka berada di bahasa yang di pakai dalam ritus tona’as kampetan, terbagi dalam tiga bagian yang terpisah dan yang coba diceritakan sebagai sejarah yang unilinear. Kisah batu Pinabetengan terdapat pada bagian ke dua dan ke tiga (sebelum masuknya orang Eropa ). Seperti kebanyakan penulis Minahasa yang mendaur ulang, begitu pun Jessy Wenas tidak membedakan dua kisah pertemuan di batu Pinabetengan.&lt;br /&gt;   Sejalan dengan J.A. Worotikan yang mencoba mereka-reka waktu prasejarah Minahasa yang ditempatkan dalam sejarah Kekristenan perdana, demikian juga Jessy Wenas berangan-angan tentang kondisi abad ke-7 sampai 15 Masehi, malahan sampai mengaku bahwa bangsa Minahasa sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu, sambil menyetir tulisan dari Peter Bellwood hanya menegaskan bahwa artefak-artefak yang ditemukan di Minahasa berasal dari masa dinasti Ming (tahun 1368-1644)&lt;br /&gt;Interpretasi mengenai ketiga primogenitur Minahasa yang dikatikan dengan pantheon (dewa-dewi segala) dan zodiak Minahasa (versi 1884 dari Tanawangko), sayangnya tidak didukung oleh hasil analisa dari Kurt Tauchmann, yang menulis disertasinya pada tahun1968 dengan judul ’Die Religionen der Minahasa-Stamme’. Sejauh saya temukan dalam penelitian saya sejak tahun 1970-an sampai kini, ketiga sosok primogenitur ini (Karema-Lumimuut-Toar) hampir tidak pernah muncul dalam ritual-ritual pada tonaas kampetan era 1970-80-an, tetapi baru pada aknir dasawarsa 1980-an, saat pemerintah Indonesia mulai gencar mewacanakan ’budaya’ Indonesia dengan mencarikan identitas nasional, barulah perhatian politis di Minahasa diarahkan pada leluhur ini, seperti nyata dalam julukan ’ Bumi Toar – Lumimuut’. Dan ke tiga tokoh ini baru muncul lagi dalam doa-doa ritual agama asli pada era 1990-an.&lt;br /&gt;Sejajar dengan tulisan H.M.Taulu, Jessy Wenas pun mencoba membuat interpretasi mengenai guratan di Batu Pinabetengan ini tanpa menjelaskan berapa banyak guratan, berapa banyak motif yang ada, bagaimana melihat  keseluruhan guratan itu : entakah ini suatu peta tradisional Minahasa? Apa saja yang ingin dijelaskan oleh guratan-guratan ini? Apakah makna lipan (kaki saribu) menjept padi (kan sangat aneh?) Sayangnya, foto yang di ambil hanyalah dari tahun 1905 yang sudah di fotokopi beberapa kali: mengapa tidak ada foto dari tahun 2008? Dan mengapa tidak dibuat pembandingan dengan guratan-guratan di pelbagai batu bergambar yang tersebar di banyak tempat di Minahasa?. Contohnya di desa Kali, Pineleng, ada batu ’pinantik’ dengan pelbagai guratan: Saya sudah mengambil fotonya, tetapi belum berani dan sempat untuk menganlisanya lebih jauh karena rasanya data hanya dari kedua batu ini masih terlalu miskin.&lt;br /&gt;Akhir kata, dari kacamata Saya seorang peneliti untuk Minahasa, Saya mengharigai usaha untuk berangan-angan dan menulis tetang guratan Batu Pinabetengan ini, tetapi belum banyak memberikan penjelasan, dan masih dalam kondisi ’non-sense’. Semoga masih banyak ulasan kritis lain yang bisa menjelaskan atau ’make sense’, Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Paul Richard Renwarin,&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SSPkDiCsyPI/AAAAAAAAAOw/8TsN2ovtOts/s1600-h/IMG_6890.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 76px; height: 90px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SSPkDiCsyPI/AAAAAAAAAOw/8TsN2ovtOts/s320/IMG_6890.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270306738282481906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lahir di Tomohon pada tanggal 7 Januari 1955. Setelah menyelesaikan program Sarjana Filsafat di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;STF-Seminari Pineleng pada tahun 1974, beliau melanjutkan studi S2 program studi Antropologi di Universitas Leiden Negeri Belanda pada tahun 1987, tanggal 26 Juni Tahun 2006 beliau menyelesaikan S3 pada program yang sama di perguruan Tinggi yang sama pula. Beliau sebagai Dosen Antropologi di seko&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;lah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-5797174541771273595?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/5797174541771273595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/komentar-terhadap-inskripsi-guratan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/5797174541771273595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/5797174541771273595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/komentar-terhadap-inskripsi-guratan.html' title='Komentar terhadap Inskripsi Guratan Batu Pinabetengan'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SSPkDiCsyPI/AAAAAAAAAOw/8TsN2ovtOts/s72-c/IMG_6890.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-39575543995223008</id><published>2008-11-15T01:57:00.000-08:00</published><updated>2008-11-15T02:29:36.333-08:00</updated><title type='text'>NAMA - NAMA PEMAIN KOLINTANG MASSAL 2 AGUSTUS 2007</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR6jy2MRaUI/AAAAAAAAAOY/axWCnfRPXJ0/s1600-h/kolintang,+angky.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR6jy2MRaUI/AAAAAAAAAOY/axWCnfRPXJ0/s320/kolintang,+angky.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268828708005833026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR6eBFU8mqI/AAAAAAAAAOI/GmqVanBrafk/s1600-h/IMG_8361.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR6eBFU8mqI/AAAAAAAAAOI/GmqVanBrafk/s320/IMG_8361.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268822355517151906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAM&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;A - NAMA PEMAIN&lt;br /&gt;KOLINTANG MASSAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manado Convention Centre - SULUT&lt;br /&gt;02 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NO NAMA PESERTA NAMA GRUP DAERAH KETERANGAN&lt;br /&gt;1 Drs. Verry Adam Matuari Tanawangko (Tombariri)&lt;br /&gt;2 Hendrik Madelu&lt;br /&gt;3 Ronny Mende&lt;br /&gt;4 Ventje Kandow&lt;br /&gt;5 Hanny Kaunang&lt;br /&gt;6 Yunus Gosal&lt;br /&gt;7 Ridchard Thomas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Verry Posumah Kauneran Tanawangko (Tombariri)&lt;br /&gt;9 Johan Runtu&lt;br /&gt;10 Wem Terok&lt;br /&gt;11 Ruddy Lemoh&lt;br /&gt;12 Joppy Lemoh&lt;br /&gt;13 Hendrik Mahtiri&lt;br /&gt;14 Bud Karundeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Ronny Kalalo Xylofon Tanawangko (Tombariri)&lt;br /&gt;16 Jonny R. Thomas&lt;br /&gt;17 Johny Pongoh&lt;br /&gt;18 Johan Runtu Thomas&lt;br /&gt;19 Hendrikus R. Thomas&lt;br /&gt;20 S. Mantiri&lt;br /&gt;21 Elly Mantiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Bong Sampul Nada Satria Lomoh (Tombariri)&lt;br /&gt;23 Albert R. Thomas&lt;br /&gt;24 Jermias Adam&lt;br /&gt;25 Elly Thomas&lt;br /&gt;26 Dolvie Sambow&lt;br /&gt;27 Bastian Adam&lt;br /&gt;28 Wem Pangkey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Iskandar Zulkarnain DIS-BUD-PAR Sulut&lt;br /&gt;30 Nico Somboadile&lt;br /&gt;31 Toni Mandak&lt;br /&gt;32 Arnold Runtukahu&lt;br /&gt;33 Danny Wahongan&lt;br /&gt;34 James Mononutu&lt;br /&gt;35 Abner Mamole&lt;br /&gt;36 markus Siwalete&lt;br /&gt;37 Matheos Tomas&lt;br /&gt;38 Sri Astuti&lt;br /&gt;39 Marla Tiwow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40 Darius Regar Esa Mandiri Kembes Satu&lt;br /&gt;41 Fekky Pontororing&lt;br /&gt;42 Adry Dolang&lt;br /&gt;43 Samuel Mailangkay&lt;br /&gt;44 Hendrik Pontororing&lt;br /&gt;45 Felix Aring&lt;br /&gt;46 Jermias Walujan&lt;br /&gt;47 Jacob Ponto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48 Robert Rumimper Unisono (Rumengkor)&lt;br /&gt;49 Roy Udung&lt;br /&gt;50 Hendrik Udung&lt;br /&gt;51 Efradus Pondaag&lt;br /&gt;52 Fery Pangemanan&lt;br /&gt;53 Lumi Mokodongan&lt;br /&gt;54 Yoel Pondaag&lt;br /&gt;55 Agus Oroh&lt;br /&gt;56 Alber Pangemanan&lt;br /&gt;57 Boby Warow&lt;br /&gt;58 Robert Pondaag&lt;br /&gt;59 Jon Pondaag&lt;br /&gt;60 Ricky Rumimper&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61 Jan Moningka Kalvari (Suluan Suluan)&lt;br /&gt;62 Daud Rumondor&lt;br /&gt;63 Johan Wori&lt;br /&gt;64 Adri Wori&lt;br /&gt;65 Isak Wori&lt;br /&gt;66 Salmon Wori&lt;br /&gt;67 Noldy Pamamuntuan&lt;br /&gt;68 Sony Koloay&lt;br /&gt;69 Viking Wori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70 Ferry Rengku Nada Tombulu (Kembes Satu)&lt;br /&gt;71 Darius Regar&lt;br /&gt;72 Richard Sigarlaki&lt;br /&gt;73 Jan Datu&lt;br /&gt;74 Julius Rengku&lt;br /&gt;75 Franky Mamuaja&lt;br /&gt;76 Reddy Kindangen&lt;br /&gt;77 Melky Karundeng&lt;br /&gt;78 Ferry Pangemanan&lt;br /&gt;79 Albert Welan&lt;br /&gt;80 Novie Pontororing&lt;br /&gt;81 Jhony Tania&lt;br /&gt;82 Maxi Kaunang&lt;br /&gt;83 Pitoy Lengkong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84 Frans Repi Pangolombian (Tomohon)&lt;br /&gt;85 Herry Losu&lt;br /&gt;86 Leopol Undap&lt;br /&gt;87 Ferdinan Kalesun&lt;br /&gt;88 Fen Repi&lt;br /&gt;89 Miske Pongoh&lt;br /&gt;90 Sem Pongoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91 George Kaeng Matuari Matani (Tomohon)&lt;br /&gt;92 Yantje Kaeng&lt;br /&gt;93 Robi Uno&lt;br /&gt;94 Yantje Rumangkang&lt;br /&gt;95 Wempi Mongan&lt;br /&gt;96 Jemi Rambitan&lt;br /&gt;97 Lexi Rumagit&lt;br /&gt;98 Mantje Kaeng&lt;br /&gt;99 Maxi Rapar&lt;br /&gt;100 Jemi Pitoy&lt;br /&gt;101 James Watulangkow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;102 Arie Pantouw (KALI)&lt;br /&gt;103 Wilhelmus Tangkere&lt;br /&gt;104 Imanuel Wongkar&lt;br /&gt;105 Fanny Mamuaya&lt;br /&gt;106 Fanny Lumansik&lt;br /&gt;107 Kiki Lumansik&lt;br /&gt;108 Joi Wongkar&lt;br /&gt;109 Jack Lumansik&lt;br /&gt;110 Jhon Kaligis&lt;br /&gt;111 Alfrits Kaligis&lt;br /&gt;112 Ben Parengkuan&lt;br /&gt;113 Ose Parengkuan&lt;br /&gt;114 Denan Wongkar&lt;br /&gt;115 Petrus Wongkar&lt;br /&gt;116 Welly Tombiling&lt;br /&gt;117 Donny Pinontoan&lt;br /&gt;118 Aldy Tangkere&lt;br /&gt;119 Ade Wongkar&lt;br /&gt;120 Karel Warow&lt;br /&gt;121 Karlos Wongkar&lt;br /&gt;122 Hery Paat&lt;br /&gt;123 Ed Wongkar&lt;br /&gt;124 Adri Wongkar&lt;br /&gt;125 Muel Wongkar&lt;br /&gt;126 Alex Tangkuman&lt;br /&gt;127 Bertje Mathindas&lt;br /&gt;128 Ance Kaunang&lt;br /&gt;129 Yantje Wongkar&lt;br /&gt;130 Frans Tangkere&lt;br /&gt;131 Demmy Wongkar&lt;br /&gt;132 Rama Wowor Nazaret Orphanage&lt;br /&gt;133 Silvera Rapar&lt;br /&gt;134 Arther Sanggamele&lt;br /&gt;135 Veki Takasuniang&lt;br /&gt;136 Jeine Damongilala&lt;br /&gt;137 Sulfiana Takasuniang&lt;br /&gt;138 Rhein Bawekes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;139 Jemy Tumimomor (Remboken)&lt;br /&gt;140 Herry Kaloh&lt;br /&gt;141 Tomy Limpele&lt;br /&gt;142 Riki Limpele&lt;br /&gt;143 Ven Kaloh&lt;br /&gt;144 Donald Kussoy&lt;br /&gt;145 Roby Kumontoy&lt;br /&gt;146 Yano Malingkas&lt;br /&gt;147 Denny Manurip&lt;br /&gt;148 Boy Dumais Bitung&lt;br /&gt;149 Antje Nangaro&lt;br /&gt;150 Kores Bawias&lt;br /&gt;151 Benny Untu&lt;br /&gt;152 Ferdy Silimang&lt;br /&gt;153 Yoseph Untu&lt;br /&gt;154 Raymond Katuuk&lt;br /&gt;155 Michael Dotulong&lt;br /&gt;156 Johny Makahinda&lt;br /&gt;157 Sonny Runtu&lt;br /&gt;158 Novly Gorap&lt;br /&gt;159 Garry Ulag&lt;br /&gt;160 Yus Malaganda&lt;br /&gt;161 Putra Dumais&lt;br /&gt;162 Septiano Gugurati&lt;br /&gt;163 Hans Wakary&lt;br /&gt;164 Jacklyn Lungkang&lt;br /&gt;165 Tiffany Puha&lt;br /&gt;166 Merlien Supit&lt;br /&gt;167 Tirsa Lumewang&lt;br /&gt;168 Mercy Suouth&lt;br /&gt;169 Ian Natang&lt;br /&gt;170 Gabriela Tumengkol&lt;br /&gt;171 Fedora Miyra Rambing&lt;br /&gt;172 Angelia Ngantung&lt;br /&gt;173 Anggia Palit&lt;br /&gt;174 Ayu Walansendouw&lt;br /&gt;175 Like Pukaranda&lt;br /&gt;176 Angelina Kaurow&lt;br /&gt;177 Astrid Rooroh&lt;br /&gt;178 Carolina Hutapea&lt;br /&gt;179 Danny Cristianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;180 Eduard Wongkar (Agotey)&lt;br /&gt;181 Jefri Tiwow&lt;br /&gt;182 Arie Sulu&lt;br /&gt;183 Freddi Watulangkow&lt;br /&gt;184 Ernest Tulung&lt;br /&gt;185 Yorri Sulu&lt;br /&gt;186 Cornelius Moningka&lt;br /&gt;187 Edison Tulung&lt;br /&gt;188 Manuel Mengko&lt;br /&gt;189 Lodewyk Tulung&lt;br /&gt;190 Noldy Tulung&lt;br /&gt;191 Lucky Tiwow&lt;br /&gt;192 Niko Tires&lt;br /&gt;193 Maykel Tires&lt;br /&gt;194 Jacob Sulu&lt;br /&gt;195 Ferdy Sompotan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;196 Eddy Tarandung Nada Ria (Kinilow I)&lt;br /&gt;197 Yutje Pusung&lt;br /&gt;198 Nontje Tarandung&lt;br /&gt;199 Markus Warongan&lt;br /&gt;200 Phillep Polakitan&lt;br /&gt;201 Arnold&lt;br /&gt;202 Piet Runtulalo&lt;br /&gt;203 Bani Pantouw&lt;br /&gt;204 Nani Mathindas&lt;br /&gt;205 Erik Musak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;206 Petrus D. Rarun Saluhesom (Kembes)&lt;br /&gt;207 Yos Runtuwene&lt;br /&gt;208 Robby Wowor&lt;br /&gt;209 Yohanis Pantow&lt;br /&gt;210 Ny. Rarun - Moa&lt;br /&gt;211 Adni Wentuk&lt;br /&gt;212 Yani Rasu&lt;br /&gt;213 Ony Tabobo&lt;br /&gt;214 Bonny Runtuwene Linow&lt;br /&gt;215 Benny Regar&lt;br /&gt;216 Yohanis Kapele&lt;br /&gt;217 Andreas Undap&lt;br /&gt;218 Agustin Kapele&lt;br /&gt;219 Yusof Tulung&lt;br /&gt;220 Victor Waluyan&lt;br /&gt;221 Theodorus Kaunang Union&lt;br /&gt;222 Fiany Runtuwene&lt;br /&gt;223 Alo Kapele&lt;br /&gt;224 Yohanis Tania&lt;br /&gt;225 Rio Runtuwene&lt;br /&gt;226 Salom Rambi&lt;br /&gt;227 Petrus Rata'ag&lt;br /&gt;228 Luddy Wulur&lt;br /&gt;229 Nico D. Songkiling&lt;br /&gt;230 Johanis Mandagi&lt;br /&gt;231 Hans Untu&lt;br /&gt;232 Adri Untu&lt;br /&gt;233 Elia Tooy&lt;br /&gt;234 Novie Luntungan&lt;br /&gt;235 Herman Kambey&lt;br /&gt;236 Denny Wenas&lt;br /&gt;237 Herman Sundah&lt;br /&gt;238 Joseph Sundah&lt;br /&gt;239 Fransiskus Rorah&lt;br /&gt;240 Maxi Luntungan&lt;br /&gt;241 Buang Tampa&lt;br /&gt;242 Poultje Sundah&lt;br /&gt;243 Refli Sambuaga&lt;br /&gt;244 Dombo Tampa&lt;br /&gt;245 Berti Sambuaga&lt;br /&gt;246 Steve Tuwaidan&lt;br /&gt;247 Alex Poluan&lt;br /&gt;248 Naula Sangian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOLINTANG RAKSASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPESIFIKASI : PANJANG : 8 METER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEBAR : 2,5 METER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINGGI : 2 METER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERAT : 3.168 KG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN : KAYU CEMPAKA (TA’AS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VOLUME BAHAN : 13,7 METER KUBIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMRAKARSA : BENNY J. MAMOTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(KETUA UMUM PANITIA FESTIVAL SENI BUDAYA SULAWESI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UTARA 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIBUAT OLEH : BENGKEL ALAT MUSIK MINAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”MA’ZANI MUSIC” TOMOHON&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MANAGER : JOUDY Dj. ARAY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGRAJIN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Maxi Amalius (Kepala Tukang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Benedictus Aray&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jory Klaas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Didi Polakitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jonly&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Frangky Runtu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sonny Sangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Herri Runtu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jely&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Adrie Mangelep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Albert Tular&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DIKERJAKAN SELAMA 15 (LIMA BELAS) HARI KERJA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-39575543995223008?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/39575543995223008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/nama-nama-pemain-kolintang-massal.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/39575543995223008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/39575543995223008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/nama-nama-pemain-kolintang-massal.html' title='NAMA - NAMA PEMAIN KOLINTANG MASSAL 2 AGUSTUS 2007'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR6jy2MRaUI/AAAAAAAAAOY/axWCnfRPXJ0/s72-c/kolintang,+angky.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-5917010633953778051</id><published>2008-11-14T03:36:00.000-08:00</published><updated>2008-11-14T03:46:16.703-08:00</updated><title type='text'>LPK CYRUS PAULUS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1j8Npq0yI/AAAAAAAAANw/cgyoQIJjjYo/s1600-h/sasa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 219px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1j8Npq0yI/AAAAAAAAANw/cgyoQIJjjYo/s320/sasa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268477025201083170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Berdiri pada tang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;gal 27 Agustus 2005 LPK Cyrus Paulus yang beralamatkan di Jl.Trans Sulawesi Tumpaan kecamatan Tumpaan Kabupaten Minsel, diresminkan langsung oleh Bapak Bupati Minahasa Selatan yaitu Drs. Ramoy Markus Luntungan dan dihadiri juga oleh Bapak Gubernur Sulawesi Utara yaitu Bapak Sinyo Hari Sarundajang.Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir telah m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;engabdikan diri untuk masyrakat Minahasa Selatan yang haus akan Teknologi dan Informasi. Sesuai dengan tujuan kami yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berwawasan global dan berjati diri lokal sehingga mampu bersaing di era globalisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;si saat ini., Gedung berlantai 2 dilengkapi 3 Ruang Lab komputer full AC lengkap dengan total 70 unit komputer, tempat fotocopy, rental pengetikan dan netgames LPK Cyrus Paulus siap memberikan kemanjaan bagi para peserta  pelatihan. Kebutuhan akan pendidikan luar sekolah saat ini menuntut k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ami terus melakukan ekspansi dengan memberikan materi-materi program komputer yang terkini dan sesuai standar kurikulum berbasis kompetensi y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;g sekarang di canangkan oleh dinas Pendidikan, adapun materi pengajaran Life skills yang ditujukan untuk tenaga kerja baik yang  fresh graduated ataupun yang sedang bekerja.  Minahasa Selatan bebas buta IT merupakan visi utama yang diemban oleh kami, oleh karena itu dengan harga kursus yang terjangkau membuat kami tidak beroreantasikan pada profit atau mejadikan LPK Cyrus Paulus  sebagai media komersil yang berbau bisnis. Adapun mate&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1jL8OBZZI/AAAAAAAAANg/ooRATj2gwKU/s1600-h/dffsdf.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 230px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1jL8OBZZI/AAAAAAAAANg/ooRATj2gwKU/s320/dffsdf.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268476195887998354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ri program kursus yang kami berikan untuk peserta kursus adalah sebagai berikut  1.  Program Sekolah yang disesuaikan pada kurik&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ulum sekolah berbasis kompetens&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;i  2. Program  Umum s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;esuai dengan pilihan/ keinginan peserta kursus 3. Program Lifeskills yang diberikan buat tenaga siap pakai ataupun yang sedang kerja. Metode pengajaran di LPK Cyrus Paulus ada 2 macam yg pertama adalah stationery yakni proses p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;embelajaran dilaksanakan lab komputeryang berada didalam Gedung LPK yakni. adapun metode yg kedua adalah Lab Mobile keliling  yakn&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;i LPK Cyrus Paulus mendatangi de&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;sa yang belum terjangkau angkutan umum / listrik dan lokasinya jauh dari kecamatan Tumpaan. Lab mobile hadir di Miahasa Selatan berdasarkan atas analisa yang kami lakukan bahwa kebutuhan fasilitas komputer pada sekolah-sekolah di Minahasa Selatan yang sangat tidak memadai dimana hasil yang kita dapati grafik sesuai survey dilapangan yang ada bahwa dari 595 sekolah yang berada dikabupaten Minahasa Selatan hanya terdapat 24 sekolah (4%) yang memiliki komputer, dan dari 24 sekolah tersebut dibagi lagi hany&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;a 13 sekolah (2%) dengan jumlah total 236 unit  ya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;ng menggunakan komputer sebagai fasilitas pendukung pelajaran komputer disekolahnya, d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;an 11 sekolah sisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;nya memiliki komputer hanya untuk kegiatan operasional. Lab mobile merupakan satu unit bus elf isuzu dilengkapi 30 notebook dan 3 org instruktur, tim lab mobile siap datang ke lokasi pengajaran tepat waktu se&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;suai jadwal yang telah disusun. Pelatih&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1kPkBqKAI/AAAAAAAAAN4/xjA29uMWy0o/s1600-h/sasasasaasa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 225px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1kPkBqKAI/AAAAAAAAAN4/xjA29uMWy0o/s320/sasasasaasa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268477357624797186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;an yg diberikan adalah 2x45 menit disesuaikan dengan waktu/durasi pelatihan yang ada di metode stationary hanya saja lab mobile diberikan jeda waktu 1 jam setiap pindah lokasi pelatihan.Tiap peserta pelatihan lab mobile  diberikan waktu dan kebebasan untuk berinteraksi, konsultasi dengan pangajar. Sesuai data terakhir bulan  Mei total 2138 siswa telah lulus dari metode kursus Lab mobile. Perlu diketahui  Lab mobile merupakan satu-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;satunya komputer keliling pertama yang ada di Indonesia dan telah mendapatkan penghargaan dari Museu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;m Rekor Indonesia diberikan langsung oleh Bpk. Paulus Pangka didesa Tawaang kabupaten Minsel dan diterima Oleh Benny Jozua Mamoto sebagai owner LPK Cyrus Paulus dan founder Lab mobile. Kegiatan pelatihan LPK Cyrus Paulus telah dikembangkan ditahun 2008 ini dengan hadirnya lab bahasa dan ketrampilan perbengkelan.  Semoga kedepannya nanti Lab Mobile bukan hanya melayani masyarakat kabupaten Minahasa selatan tetapi juga bisa melayani masyarakat yang ada diSulaw&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;esi Utara.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1jeKT-e8I/AAAAAAAAANo/VNXhkf7jMSw/s1600-h/kgkgkg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 231px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1jeKT-e8I/AAAAAAAAANo/VNXhkf7jMSw/s320/kgkgkg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268476508908714946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-5917010633953778051?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/5917010633953778051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/lpk-cyrus-paulus.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/5917010633953778051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/5917010633953778051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/lpk-cyrus-paulus.html' title='LPK CYRUS PAULUS'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR1j8Npq0yI/AAAAAAAAANw/cgyoQIJjjYo/s72-c/sasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-6036471078988641800</id><published>2008-11-13T00:41:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T00:42:22.537-08:00</updated><title type='text'>WARUGA DILIHAT DARI KACA MATA SENI BUDAYA</title><content type='html'>Oleh : Jessy Wenas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga termasuk klasifikasi “ Sarkofagus” (kubur batu) terdiri dari dua kata yang menjadi satu WALE-RUGA (Wale = Rumah;Ruga=Roga=Rega=Hancur) Tempat Jenazah hancur menjadi Tulang belulang. Orang Minahasa mengenal dua kali pemakaman, yang pertama sebelum abad ke-5(lima) jenazah dimakamkan dalam Kotak Petih Kayu disebut “ Walongsong “ diletakan di hutan kemudian tulang belulangnya dicuci di sungai dan dimasukkan dalam Kotak Kayu kecil lalu disimpan di (loteng) rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah abad ke-5(lima) tulang belulang dipindahkan ke dalam bejana tanah liat baker yang berbentuk rahim wanita dan di makamkan kedalam tanah seperti yang ditemukan di wilayah selatan Danau Tondano segitiga Kakas, Langoan,Paso. Sesuai pemikiran Minahasa Purba bahwa manusia lahir dari rahim wanita dan meninggal kembali lagi ke rahim wanita yang dalam bentuk bulat lonjong seperti bentuk rahim wanita yang terbuat dari tanah liat bakar yang disebut “kurek”. Pemakaman jenazah kedalam kubur batu waruga di Minahasa baru dimulai sekitar abad 12(dua belas) atau mungkin sebelum abad itu , tapi bukti susah ditemukan karena Batu Waruga yang berat cenderung tertarik masuk kedalam tanah karena daya tarik bumi. Hingga yang masih ditemukan Waruga sekarang adalah Waruga yang ber asal dari abad 14 dan 15 dan yang paling banyak waruga abad 16 sampai abad 20. Waruga yang paling akhir setelah tahun 1900 terdapat di desa Kolongan Tomohon dekat RS Gunung Maria telah memiliki pahatan nama dari si yang meninggal dan angka tahun 1918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan buku oleh penulis barat berjudul De Minahasa.N Groaf land terbitan 1898, Ancient Art of The Minahasa .DR Hetty Palm 1961 Alfoersche Legenden. N.PH Wilken 1863. Die Minahasser F.S Sarasin 1893, banyak menulis mengenai waruga, tapi tulisan khusus di tulis M.R.C Bertling berjudul “ De Minahasische Waroega” (Hocker Bestattung) cetakan tahun 1931.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENTUK WARUGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya Waruga berbentuk Rumah segi empat dengan batu penutup bentuk atap rumah segi-tiga, tapi ada juga Waruga berbentuk bulat seperti terdapat di Nimawanua Tondano model rumah bulat Papua – Irian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu bulat berongga segi empat tempat jenazah di-letakkan dalam posisi duduk dengan posisi kedua tangan terlipat di dada seperti posisi bayi dalam kandungan di beri simbolisasi Wanita. Sedangkan batu penutup segi-tiga model atap rumah di beri simbolisasi laki-laki, pada batu penutup di beri relief pahatan identitas keluarga suami isteri pemilik Waruga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Batu umumnya diambil dari tepi sungai jenis batu lembut dalam bahasa inggris “Sand Stone” yang akan lebih keras jika kena sinar matahari seperti lokasi tempat pembuatan Waruga di Sawangan Tonsea dan tepi sungai Ranowangko Kamasi Tomohon. Alat pembuat Waruga disebut “Tahak” (peda) golok dari besi dalam berbagai bentuk yang masih dapat kita lihat di kompleks Waruga Airmadidi Tonsea. Dengan alat itu batu kubur Waruga di bentuk dengan tehnik ukiran kayu, untuk mendapatkan bentuk segi tiga digunakan batu terikat tali yang di gantung sehingga mendapatkan segi tiga sama sisi, untuk bentuk segi empat digunakan dua tangkai bamboo sama panjang yang terikat di bagian tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIMBOLIS MOTIF HIAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relief ukiran bentuk manusia konsep lama seperti bentuk bayi tidur dengan kedua kaki dan kedua tangan terbuka dan bentuk kemaluan lelaki atau wanita jelas terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ukiran manusia konsep baru akan terlihat gambar manusia nampak dari samping, atau topi bukan lagi kain ikat kepala tetapi topi model (cow boy) , seperti pada Waruga di Sawangan Tonsea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar ukiran manusia manusia lelaki (suami) dan gambar ukiran manusia wanita (istri) dipahatkan pada kedua sisi atap batu penutup Waruga beserta identitas seperti wanita mendukung anak, suami yang ber profesi sebagai Tona’as Mamu’is (tukang potong kepala) memegang pedang di tangan kanan memegang kepala orang di tangan kiri Tona’as “Mengangasu” (Pemburu) ada gambar anjing pemburu, Tona’as “Mengalei” ada gambar tangkai daun sirih, Tona’as “Penguma’an” (Petani) ada 12(dua belas) bulatan perhitungan bulan dalam satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya pemimpin tokoh masyarakat yang di makamkan dalam batu Waruga yakni para Tona’as dan Walian dan hanya ada 2(dua) jabatan pemimpin masyarakat Minahasa yakni para Tona’as yang memimpin pemerintahan , berperang ,menjaga hutan , membuat rumah,mengolah tanah, dan organisasi mapalus juga para Walian pemimpin upacara pertanian,Pemimpin Agama suku (Walian mangorai,Walian Merarages) umumnya mereke suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga bidang tempat motif hias Waruga yang melambangkan dunia atas,dunia tengah pada tebal batu penutup segitiga dan dunia bawah pada dinding batu segi empat ada simbol ular metamorphosa dan yang terletak pada bidang dunia tengah yakni gambar motif tanaman merambat atau tanaman merambat berkepala ular adalah symbol yang merubah dunia nyata kea lam roh ketika manusia meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif hias Waruga Tonsea sangat rumit dan indah tehnik pengerjaannya , Waruga Tombulu gambar-gambarnya memberi kesan menakutkan ada bentuk wajah manusia yang bertaring dan umumnya memegang pedang, Waruga Tontemboan punya hiasan sederhana bahkan ada yang tidak punya motif hias sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPACARA ADAT PEMAKAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seseorang Tokoh Masyarakat meninggal maka jenazahnya di-ikat dalam posisi duduk di sebuah kursi selama satu malam dijaga oleh Walian “ Mawasal” membujuk roh si yang meninggal yang enggan berpisah dari badan kasarnya . Acara pemakaman esok harinya jenazah diturunkan dari lantai rumah yang papan lantainya sengaja dibuka , diletakkan di kursi jenazah disebut “ Lulukeran” dan di gotong mengelilingi rumah tiga kali lalu berkeliling kampung dan akhirnya di bawah ke Waruga yang terletak disebelah kanan halaman belakang rumah alamarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimaksudkan supaya roh si mati tidak dapat lagi kembali kerumah semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketikah jenazah dimasukkan kedalam Waruga di dudukan diatas piring porselen cina bersama bekal kubur lainnya seperti botol minuman, manik-manik emas disebut “kamagi” padi,pisau,beras,mata tombak dan kepala orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga mulai dibuat ketika seseorang mulai sakit berat dan kadang-kadang ukiran Waruga belum selesai si pemilik Waruga sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga hanya dapat digunakan oleh satu keluarga suami-isteri dan anak-anaknya, misalnya pengguna pertama memakamkan suaminya ketika isteri meninggal beberapa tahun kemudian maka kerangka suaminya dipindahkan ke kotak kayu “Balongsong” agar Waruga dapat digunakan untuk jenazah isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Waruga kosong tanpa kerangka manusia karena ketika kerangka kedua orang tua sudah dikeluarkan, anak-anak pemilik Waruga sudah masuk Kristen dan tidak lagi mau menggunakan Waruga tapi bekal kubur kalung emas,medallion emas,gelang emas,piring porselin cina tidak dikeluarkan dari dalam Waruga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERA WARUGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jalan-jalan di Minahasa mengalami perubahan karena mulai menggunakan kendaraan roda dua gerobak atau pedati disebut roda sapi dan roda kuda, lahirlah jalan raya utama sehingga jaringan jalan berubah , halaman depan rumah menjadi halaman belakang, lokasi Waruga menjadi pasar. Tahun 1850 ketika Outford Pelengkahu menjadi Hukum Besar Tonsea membuat lokalisasi Waruga-Waruga Tonsea di Airmadidi Sawangan , Kasar Karegesan. Memindahkan Waruga-Waruga dalam satu lokasi khusus di Airmadidi dan Sawangan, hal ini tidak terjadi di wilayah Tombulu karena pemukiman negeri lama disebut “Nimawanua” jauh dari jalan raya yang mulai terbentuk tahun 1850-an Sarongsong-Kinilow,Tomohon-Tanawangko,Tomohon-Tondano. Sama seperti di kota Tondano “Minawanua” hulu sungai Tondano jauh dari jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplek Waruga di jalur jalan raya Sonder-Kawangkoan yakni di Kiawa tidak dipindahkan malahan ada yang dihancurkan atau dibiarkan terbenam kedalam tanah, ada Waruga tonsea yang di pindahkan ke Museum di Manado tanpa upacara adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tanpa data tahun pemindahan dan data asal Waruga dari Tonsea wilayah mana , milik dotu siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara adat menentukan apakah sebuah Waruga boleh dipindahkan atau tidak, seperti Waruga Roland Ngantung Palar di pertigaan Matani Tomohon tidak boleh dipindahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara adat pemindahan Waruga disebut ”Mera” Waruga (Mera=Pindah) batu Waruga diangkat dengan tali pohon bambu muda yang dipelintir disebut ”Mules” menjadi tali.Alasan supranatural sulit dijelaskan tapi alasan tekhnis menurut logika bahwa tali ini tidak akan merusak permukaan batu Waruga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tona’as yang memimpin upacara ”mengalei” pada pemindahan Waruga harus di kawal Kabasaran yang melindungi si Tona’as dari gangguan roh jahat atau niat jahat sesama manusia karena ada juga Tona’as yang jahat dan yang baik pengertian jahat adalah mengutamakan kepentingan pribadi, sehingga upacara adat pemindahan Waruga tidak lagi mementingkan Roh si pemilik Waruga yang tidak lagi berdiam dalam Waruga. Karena pada waktu pemakaman sudah dilakukan upacara adat ”Zumouk Tanak” roh si mati menjauh dari bumi menuju langit (Kasendukan,Kalawakan,Sinayawan) Upacara adat lebih mengutamakan pada masalah minta ijin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARUGA DALAM BUDAYA MINAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga dalam budaya Minahasa lama secara pralogis (logika lama) tidak dianggap benda sakral seperti halnya Batu Tumotowa atau batu Pinawetengan yang tempo dulu di keramatkan karena menyangkut kepentingan orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Tumotowa jadi pusat berdirinya sebuah pemukiman , Negeri disebut Wanua, batu Pinawetengan tempat melakukan perdamaian antara walak-walak subetnik yang bermusuhan untuk bersatu ”maesa’an” asal kata Minahasa .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga hanya kotak batu tempat merobah jenazah menjadi kerangka milik pribadi satu keluarga, banyak Waruga yang tidak lagi di ketahui milik keluarga siapa pada zaman lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dan bagaimana kehidupan pemimpin-pemimpin Minahasa tempo dulu dapat terbaca melalui gambar pada Waruga sekaligus memberi data kebudayaan Minahasa jaman lampau .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk busana abad 16-17 gambar topi kuningan ”Paseki” jaman spanyol di Minahasa,termasuk gambar senapan yang sudah digunakan orang Minahasa sejak abad 16 memerangi spanyol keluar dari Minahasa tahun 1644.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga adalah benda informasi masa lampau mengenai seni budaya Minahasa yang akurat tidak dapat disangkal sebagai barang bukti sejarah,budaya,sistem pemerintahan dan kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN SEJARAH :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keramik cina yang terdapat dalam Waruga ada yang berasal dari dinasti Ming,Sung,Tang abad 11-12 menceritakan sebagai barang bukti bahwa kapal-kapal dagang cina sudah datang ke Minahasa di-abad itu walaupun tidak tercatat dalam sejarah Minahasa dalam bentuk data tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abad 16-17 orang Minahasa banyak menggunakan perhiasan emas, banyak jenis kalung emas berbagai bentuk,gelang emas,anting emas di ketemukan dalam Waruga oleh Spanyol yang datang ke Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abad 16-17 orang Minahasa sudah menggunakan senapan ”Muskat” dalam perang antar walak dan mengusir Spanyol dari Minahasa tanggal 10 Agustus 1644, Minahasa mungkin suku bangsa Indonesia yang pertama menggunakan senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN BUDAYA :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gambar arca perunggu kepala tongkat Tona’as dan Walian yang disebut ”Olad” dan ”Sekad” pada badan Waruga di Kakas dan Sawangan berasal dari jaman abad 15-16. Memberi data bahwa orang Minahasa dapat membuat arca perunggu yang berongga didalamnya dengan menggunakan cetakan, sebelum kedatangan bangsa barat Portugis dan Spanyol ke Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gambar manusia Waruga Tombulu yang memberi kesan menakutkan memberi gambaran budaya Tombulu berbentuk militeristik sebagai tentara sewaan menjual jasa pada walak-walak Minahasa lainnya seperti mengirim 800 tentara membantu walak Ratahan abad 16. Bentuk prajurit tradisional ini tercermin pada tari kabasaran Tombulu yang tetap bertahan dari kepunahan hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keindahan Waruga Tonsea melebihi keindahan Waruga-Waruga subetnik di Minahasa lainnya yang menunjukkan orang Tonsea lebih terbuka menyerap budaya luar masuk Minahasa lebih moderat dan tidak ortodoks seperti Tombulu dan Tontemboan di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SISTEM PEMERINTAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga Pemimpin Minahasa adalah milik suami istri bila suami sebagai Tona’as Wangko Kepala Negeri,Kepala Walak maka istrinya adalah Walian Wangko yang mengatur produksi tanaman padi , pengendalian perdagangan beras. Walau Minahasa tidak mengenal raja tapi pemerintah republik desa berada pada pasangan suami isteri yang pasti berkuasa mutlak sebagai raja-raja kecil di wilayahnya. Waktu atau masa berkuasa sampai dua atau tiga generasi sampai ada suami isteri lain yang menumbangkannya. Contoh pemerintahan Tonsea abad 16 dipegang keluarga Wenas tiga generasi dan kemudian berpindah ke Pelengkahu tiga generasi lalu beralih ke Rotinsulu tiga generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing Pakasaan Tonsea,Tombulu,Tondano,Tontemboan berkuasa mutlak atas wilayahnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESENIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif hias pada batu waruga punya nilai artistik yang tinggi dalam gaya dekoratif sayangnya orang Minahasa tidak mau mengembangkannya sebagai motif hias asli orang Minahasa karena menganggap motif hias kubur orang mati yang sebenarnya motif hias itu ingin mengambarkan profesi si pemilik Waruga semasa hidupnya sebagai pemimpin masyarakat yang kepemimpinannya patut di contohi anak keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar manusia pada Waruga Tonsea menjelaskan perkembangan seni berbusana dari model jubah panjang dengan kain ikat kepala sebelum abad 17, lalu berubah menjadi model jas panjang busana eropa dengan topi (cow boy) setelah abad 17 dalam posisi bertolak pinggang gaya menantang seperti tuan – tuan orang Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini banyak kaum cendekiawan Minahasa berpendapat Minahasa tidak punya motif hias dan ingin mengadopsi motif hias Eropa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi rendahnya Kebudayaan sebuah subetnik suku bangsa di Indonesia ditentukan oleh ada tidaknya budaya mengukir pada kayu dan batu.Dalam hal ini Minahasa di wakili oleh ukiran pada batu Waruga karena ukiran kayu Minahasa masa lampau telah hancur dimakan jaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-6036471078988641800?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/6036471078988641800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/waruga-dilihat-dari-kaca-mata-seni_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6036471078988641800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6036471078988641800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/waruga-dilihat-dari-kaca-mata-seni_13.html' title='WARUGA DILIHAT DARI KACA MATA SENI BUDAYA'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-3435591492328651064</id><published>2008-11-13T00:33:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T00:34:14.258-08:00</updated><title type='text'>STRATEGI PENGEMBANGAN SENI BUDAYA</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://maengket.blogspot.com/2008/09/strategi-pengembangan-seni-budaya.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Benny Matindas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pengembangan seni budaya dapat diartikan sebagai:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.75pt; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pengembangan Kesenian dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebudayaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pengembangan Kesenian dalam rangka memajukan Kebudayaan&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;[Penelitian iptek di kampus dan laboratorium dpt digolongkan “pengembangan kebudayaan” – A ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;[Pembahasan kita menggunakan pendekatan B.]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Perlunya STRATEGI (Man Made), Bukan ALAMIAH karena KEBUDAYAAN itu sendiri adalah “man made”, dibedakan dgn semua kekayaan serta keindahan yg diberi Tuhan dan alam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Terlalu banyak faktor determinan yg akan menggiring perkembangan budaya ke arah mundurnya peradaban diantaranya adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Struktur dan Kondisi Sosial Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Nilai-nilai Budaya yg Keliru &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Di sinilah pentingnya peran pemimpin yang bertanggung jawab. Untuk menetapkan dan melaksanakan strategi yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Muncul pertanyaan : Ke Mana Arah Strategi? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;(Karena pada umumnya orang sdh terbiasa &lt;u&gt;tidak merumuskan arah&lt;/u&gt;.)&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;Hal itu disebabkan :&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Asumsi bahwa semua orang sudah tahu arah. Padahal belum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Anggapan umum bahwa targetnya adalah: maraknya aktivitas seni. Padahal sering maraknya seni tidak membawa pada kemajuan, sehingga ketika aktivitas surut maka kembali lagi ke titik nol. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena memang tak pernah merasa perlu strategi; bahkan tak perlu pengembangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Arah STRATEGI PENGEMBANGAN SENI Untuk KEMAJUAN KEBUDAYAAN :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;“Adanya seniman-seniman yang mencipta karya seni dengan artistika dan estetika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Yg lebih dari yg sudah ada.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Artistika &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengenai teknik yg digunakan. Sedangkan, &lt;i style=""&gt;Estetika&lt;/i&gt; dalam hal ini berkenaan dengan nilai-nilai etis serta wawasan filosofis yang melatari dan mengarahkan proses kreatif maupun yang terkandung sebagai pesan dalam karya yang dihasilkan. Untuk itu, strategi yang dilaksanakan harus mengarah pada:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Munculnya dan survive-nya para Seniman Kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Adanya Kritik Seni yg akan mengajarkan kepada masyarakat luas (termasuk para seniman dan calon seniman yg nanti akan muncul) ttg teknik-teknik yg digunakan (Artistika) dan konsep Estetika dlm setiap karya. Art dan Estetika yg sudah dikenal inilah yg akan menjadi tumpuan bagi langkah berikutnya yang lebih maju. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Adanya apresiasi untuk berkarya kreatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Secara alamiah, 3 hal ini saling berkait, mutual-simbiosis. Tapi upaya manusia, ya kita semua, yg dilakukan secara SADAR dan SISTEMATIS akan lebih menjamin hasil yg lebih BESAR dan lebih CEPAT. Dorongan &lt;u&gt;internal&lt;/u&gt; untuk berkarya kreatif merupakan faktor alamiah dlm diri setiap seniman. Tetapi APRESIASI adalah faktor &lt;u&gt;eksternal&lt;/u&gt; bagi para seniman yang mendorong, merangsang, dan sekaligus menjamin untuk ia tetap eksis dan bahkan survive. Masyarakat yg Sadar Dan Pemimpin yg Bertanggung Jawab Harus menjalankan fungsi: &lt;b style=""&gt;APRESIATOR.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Apresiasi seni akan mendorong para seniman untuk berkarya kreatif dengan cara :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Memberi Penghargaan melalui Festival/Lomba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Memberi Penghargaan melalui Anugerah Pengabdi Seni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Memberi Penghargaan atas penampilan/kerja Seni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Menumbuhkan nilai di masyarakat bhw Seni itu Sesuatu yg Penting dan Besar. Misalnya melalui Tampilan yg merebut perhatian besar, kolosal, Dan mendapat penghargaan/pengakuan resmi Dari pihak yg merepresentasi skala lebih luas, Nasional atau internasional (seperti MURI). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Sehingga apresiasi seni akan mendorong para seniman untuk berkarya kreatif. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dan para seniman lainnya akan berperan sebagai kritikus seni atas karya-karya yg ditampilkan. Karena KREATIVITAS dalam hal ini Berkenaan dengan &lt;b style=""&gt;Pencapaian yg &lt;u&gt;lebih&lt;/u&gt; Daripada yg ada sebelumnya&lt;/b&gt;, Yang sudah ada dijadikan tumpuan Untuk pencapaian baru, Maka jelas diperlukan: &lt;b style=""&gt;PENDIDIKAN&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;PENDIDIKAN SENI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pendidikan Seni harus Dilaksanakan Melalui Semua Jalur (Formal, Non-Formal, Informal) Dan Semua Jenjang (Sampai Perguruan Tinggi) Sebagaimana Fakultas Bahasa Dan Seni Unima. Kami melalui Festival Seni Budaya Sulawesi Utara dan Institut Seni Budaya melaksanakan Pelatihan Massal untuk Maengket, Kolintang, Tari Kabela, Kabasaran, Masamper, dan akan banyak lagi. Pendidikan di bidang seni tradisional Sulawesi Utara belum banyak disentuh. Padahal pengenalan pada Artistika dan Estetika &lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;SENI TRADISIONAL&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; bukan hanya menjadi tumpuan pengembangan Seni di masyarakat, tapi juga untuk membina JATIDIRI setiap warga masyarakat. Perlunya memperkokoh JATIDIRI &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah mutlak untuk :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih Percaya Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih Cerdas dan Kreatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Masyarakat yg Unggul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih berbahagia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Hambatan-hambatan yang muncul terhadap pengembangan seni budaya &lt;i&gt;terutama berpangkal dari &lt;b&gt;&lt;u&gt;ketidakmengertian&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; tentang fungsi seni dan budaya.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Seni cuma dianggap hiburan, ringan, pelengkap acara. Budaya hanya dimengerti secara sempit, hanya seni budaya tradisional, sehingga cukup menjadi bagian dalam Pariwisata dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih lanjut lagi &lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;Ketidakmengertian&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;span style=""&gt;tentang HAKIKAT serta FUNGSI Seni dan Budaya&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;PEMERINTAH, MASYARAKAT&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;bahkan oleh umumnya SENIMAN sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pendidikan Seni melalui semua jalur harus dilakukan untuk menanamkan kesadaran masyarakat tentang Hakikat dan Fungsi Seni.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Disini dapat kita lihat &lt;b style=""&gt;SENI&lt;/b&gt; adalah Karya Kreatif manusia yang antara lain berfungsi sebagai : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pemasok bahan baku bagi kesadaran dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pengembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iptek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pembentuk harmoni batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Seni kreatif merangsang kreativitas masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dapat disimpulkan bahwa SENI adalah Lokomotif atau Ujung Tombak Pengembangan Kebudayaan dan BUDAYA adalah Faktor Determinan atas semua aspek Kehidupan Manusia. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;[ Aspek-aspek Sosial, Politik, Ekonomi ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;”Mari kita sama-sama berjuang paling depan Dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, melalui Pengembangan kesenian Dan Pembangunan kebudayaan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Salam Budaya!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-3435591492328651064?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/3435591492328651064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/strategi-pengembangan-seni-budaya_13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3435591492328651064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3435591492328651064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/strategi-pengembangan-seni-budaya_13.html' title='STRATEGI PENGEMBANGAN SENI BUDAYA'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-6998041508509325214</id><published>2008-11-12T13:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T13:55:21.986-08:00</updated><title type='text'>Sambutan Ketua Umum Institut Seni Budaya Sulawesi Utara</title><content type='html'>&lt;h2 class="title"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;   Tak kenal, maka tak sayang. Itu adalah adagium yang telah sangat di hafal, dan kita setujui maknanya. Tetapi lebih dari itu, sepanjang mengenai seni budaya tradisional, bagi setiap kita yang berasal dari dalam lingkaran kebudayaan tradisonal itu, tak mengenal seni budaya leluhur sama dengan membunuh suatu potensi paling dasar dari pribadi kita sendiri. Akibatnya jelas, sebagai manusia kita akan mengalami ketercerabutan dari salah satu akar jati diri kita sendiri, dan dengan demikian menyia-nyiakan salah satu modal dasar utama dalam mencapai puncak keunggulan diri. Padahal kita semua sedang berhadapan dengan globalisasi di mana setiap pribadi dan setiap bangsa atau pun suku bangsa tanpa terhindarkan telah terlempar ke tengah kancah persaingan sangat tajam, baik dalam hal meraih segala berkah luar biasa yang tersaji sebagai resultan kemajuan peradaban sedunia maupun untuk sekedar mempertahankan hidup (survival).&lt;br /&gt;Mengangkat ke pentas sembilan cabang seni tradisonal yang merupakan kekayaan budaya Sulawesi Utara – Tari Maengket, Tari Kabela, Tari Masamper, Tari Mahamba’, Tari Jajar, Tari Kabasaran, Musik Bia', Musik Kolintang dan Musik Bambu – ini tak lain merupakan upaya sebisanya yang dapat kita lakukan berdasar kesadaran tentang penting dan strategisnya membangkitkan seni budaya leluhur demi keunggulan semua kita sebagai individu maupun sebagai bangsa. Dengan senantiasa mengingat, 9 itu tentu saja bukan sudah semua dari kekayaan budaya yang di miliki daerah kita tercinta. Cabang seni yang lain dan oleh pihak manapun di antara kita.&lt;br /&gt;Untuk setiap cabang kesenian, diharapkan sudah memiliki pelatih ataupun kader dalam jumlah (kuantitas) yang besar dan terus membesar, yang disertai bekal ketrampilan teknis dengan kualitas yang memadai. Masyarakat disetiap pelosok didorong untuk mendirikan grup atau sanggra seni tradisonalnya. Cabang- cabang yang memerlukan peralatan khusus, seperti perangkat alat musik dalam kesenian kolintang, disusahakan pengadaannya; sembari menghidupkan roda produksi para pengrajin alat-alat musik tradisonal maupun peralatan seni lainnya. Mengingat kondisi perekonomian masyarakat kebanyakan yang belum cukup berkembang melalui pembangunan selama ini, sehingga para seniman di kampung – kampung harus menunda aktivitas berkarya seninya lantaran harus lebih dulu memenuhi kebutuhan pokoknya melalui bidang masyarakat termasuk kita semua sangatlah dibutuhkan. Dan ini adalah kebutuhan budaya, yakni aspek yang justru akan memungkinkan pembangunan bidang ekonomi dan bidang-bidang lainnya semakin bias dijamin keberhasilan optimalnya.&lt;br /&gt;Bersama dengan semua kativitas seni budaya Sulawesi Utara ini pun diusahakan beberapa proyek pemecahan rekor MURI untuk segi kuantitas dari artefak budaya kita (seperti terompet dari musik bambo klarinet) dan beberapa produk andalan daerah ( seperti kacang dan dodol) yang dikemas dalam visual art (seni rupa) berukuran besar/ kolosal yang melibatkan sebanyaknya warga. Kesemuanya tak lain untuk menggerakkan apresiasi masyarakat terhadap seni budaya secara lebih dan lebih lagi, itu saja.&lt;br /&gt;Kiranya Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan karunia serta perlindungan-Nya bagi setiap kita untuk tetap dan semakin bergiat dalam memajukan seni budaya kita sebagai bagian dari kebudayaan sesama umat manusia di manapun berada.&lt;br /&gt;Mari sama-sama bergiat, I Yayat U Santi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benny J. Mamoto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-6998041508509325214?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/6998041508509325214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sambutan-ketua-umum-institut-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6998041508509325214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6998041508509325214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sambutan-ketua-umum-institut-seni.html' title='Sambutan Ketua Umum Institut Seni Budaya Sulawesi Utara'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-6567334763989145711</id><published>2008-11-11T01:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-12T13:48:23.746-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Langit cerah tak berawan, ditengah lingkaran sejumlah penari terdapat seorang komandan tari yang berbadan bongsor, berukuran pendek, memakai helm usang terbuat dari tembaga lengkap dengan kepala burung yang telah diawetkan. Matanya melotot ke depan, ke arah lawan, dengan aroma membunuh sembari memegang tombak ia bergerak dengan gesit sesekali mengangkat tombak ke udara, menghibur para tamu yang terkagum-kagum melihat aksinya. Usia senja seakan tidak menjadi hambatan untuk tetap semangat menarikan Kabasaran, tarian perang rakyat Minahasa. Baju perang berwarna merah di lengkapi atribut tulang tengkorak yaki (Sejenis monyet khas Minahasa) digantung dilehernya. Tanpa mengenakan alas kaki sengatan sinar matahari yang panas menusuk kulit tidak dihiraukan, teriakan-teriakan "I Yayat U Santi" menghentak jantung para penonton yang menyaksikan memberikan decak kagum. Itulah sepenggal kenangan Saya ketika menyaksikan pertunjukan yang disajikan oleh alm. Om Owik beberapa bulan yang lalu. Namun kini Beliau telah berpulang ke hadirat Tuhan yang maha esa.&lt;br /&gt;28 oktober 2008 hari Sumpah Pemuda bangsa Indonesia, hari itulah Om Owik menghebuskan nafas terakhir di RS Bethesda Tomohon. Lodwyk Dirk Ngantung atau Om Owik, telah tiada namun namanya hanya akan tetap dikenang oleh seniman-seniman daerah sebagai Maestro Kabasaran Minahasa. Minimnya honor yang dibayarkan kepada para seniman daerah tidak menyurutkan niat-Nya untuk tetap mengenalkan tarian Kabasaran sampai akhir hayat. Tarian perang suku Minahasa, suku bangsa Saya sendiri dan mungkin juga kalau Anda masih mengakui bahwa itu suku bangsa Anda juga, berhubung Minahasa telah memudar dari peradaban dunia. Faktor ekonomi saat ini membuat Saya sendiri melupakan kesenian asli Minahasa, bahasa daerah, dan dimana saya melihat umumnya parang diganti helm, yaitu para petani menjadi tukang ojek. Makin surutlah niat Saya untuk belajar Kesenian masyarakat Minahasa. Pada kenyataannya kesenian asli daerah hanya menjadi hobi dan hanya dikembangkan oleh segelintir masyarakat Minahasa. Berprofesi sebagai seniman tentunya sekarang ini merupakan pilihan hidup yang sulit dilihat dari penghasilan apalagi untuk menjadi seniman kelas daerah. Perlu perenungan sampai kiamat buat Saya sendiri sebagai pemuda Minahasa untuk membuat keputusan seperti Om Owik. Perasaan bangga dan penghargaan setinggi-tingginya patut Saya berikan untuk seorang Lodwyk Ngantung, penari sekaligus seniman Minahasa.&lt;br /&gt;Dibalik rasa malu, ingin rasanya mengatakan bahwa pertujukan tarian Kabasaran lebih nikmat dibanding menyaksikan konser Kerispatih, naff, dan band-band muda lain. Apalagi band dari luar Negeri seperti Linkin park dan sejenisnya. Tapi sangat susah untuk mengakuinya karena akan mengundang hujatan dari teman-teman pemuda yang lain. Mereka yang setiap malam berbondong-bondong memenuhi sport cafe yang ada di kota Manado, rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah sampai jutaan hanya untuk melihat sexy-sexy dancer. Dan akhirnya membuat mereka gengsi untuk menyaksikan kesenian dari daerah sendiri karena terkesan kolot dan jadul.&lt;br /&gt;Sangat disayangkan, almarhum Lodwyk Ngantung belum sempat menceritakan segudang pengalamannya dalam goresan buku. Buku yang harusnya dapat di baca oleh generasi penerus Minahasa, buku yang harusnya berisi tutorial panduan tarian perang tersebut dan nantinya bisa membuat pemuda-pemuda seperti Saya untuk bisa belajar menarikan tarian Kabasaran. (*als)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-6567334763989145711?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/6567334763989145711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/langit-cerah-tak-berawan-ditengah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6567334763989145711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6567334763989145711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/langit-cerah-tak-berawan-ditengah.html' title=''/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-6338872669636400289</id><published>2008-11-10T04:24:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T04:24:38.870-08:00</updated><title type='text'>DEMI KEBUDAYAAN</title><content type='html'>DEMI KEBUDAYAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sambutan Oleh Benny Jozua Mamoto,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya suatu masyarakat – di dalam seni menjadi salah satu lokomotif utama pembentukannya – merupakan penentu kualitas bahkan kadar kebahagian manusia- manusia dalam masyarakat itu . Budayanyalah yang akan menentukan kualitas politik suatu Negara serta daerahnya , sehatnya system demokrasi, tegaknya penegakan hak asasi manusia , kerukunan antargolongan masyarakat , berkembangnya sistem hukum yang lebih benar , adil , tertib dan berkepastian . Demikian halnya dalam bidang ekonomi , sejarah sejumlah bangsa maju telah membuktikan betapa nilai – nilai budayanya telah berperan sangat determinan dalam membangun sumber daya manusianya yang lebih produktif dan inovatif mekipun di tengah keterbatasan sumber daya alamnya . Sedemkian besar dan pentingnya peran kebudayaan , namun sayang sekali sedemikian pula ia sangat sering tak memperoleh perhatian yang memadai . Seni budaya terlalu sering hanya diperlakukan sebagai “ factor tambahan “; factor yang nanti diberi perhatian belakangan , setelah semua perhatian , dana dan tenaga tercurah pada aktivitas ekonomi maupun politik yang serba mahal dan menyita segenap perhatian . Sehingga seni budaya yang tumbuh umumnya hanya sebatas budaya pop ( pop culture) yang kita sangat tak bisa diharap berlebih untuk menjalankan peran mulia dan strategisnya sebagai penubuh kualitas masyarakat , sebab seni budaya pop tersebut sepenuhnya diarahkan oleh dan untuk kepentingan pasar . Sementara kegiatan seni budaya yang lebih serius terus terlalaikan , atau terlalu kurang dikembangkan dan difungsikan secara cukup berarti . Bertolak dari kenyataan yang memprihatinkan itulah kami bersama teman –teman selama beberapa tahun terakhir ini bersatu hati melakukan sedapat yang kami bisa , demi membangun kebudayaan . Kebudayaan dalam makna dan fungsinya yang hakiki . Suatu gerakan kebudayaan – yang antaranya ditandai serangkaian program penelitian , seminar dan simposium , konservasi dan dokumentasi , pelatihan / workshop , apresiasi seni dan festival /lomba yang meliputi setiap cabang seni tradisional Sulawesi Utara – kami tujukan tak lain untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya warisan leluhur yang di atas mana dapat dibangun secara lebih kokoh kebudayaan generasi hari ini dan generasi –generasi mendatang . Buku Sejarah &amp; Kebudayaan Minahasa karya Jessy Wenas , yang tersaji di hadapan Pembaca yang kami muliakan , ini adalah wujud dari upaya kita bersama mendokumentasikan serta melestarikan kebudayaan warisan leluhur kita . Bila di masa lampau orang Minahasa telah terbukti unggul di hampir setiap bidang kehidupan di bandingkan dengan umumnya etnis lain di seluruh Nusantara , nilai –nilai budaya apa saja yang melatarbelakanginya ? Sejumlah nilai budaya tradisional Minahasa sangatlah relevan dan penting untuk dihayati serta dilestarikan generasi kini dan nanti . Sebut sebagai misal , nilai – nilai budaya tumani o rumapar (keluar dari kampung halaman untuk membuka lahan penghidupan baru dan mencapai keberhasilan puncak ) yang di masa sekarang ini kurang lebih selaras dengan semangat outward looking yang merupakan syarat mentalitas untuk bisa unggul di area globalisasi . Pendek kata , tak putus –putusnya kami mengajak kita semua , siapapun kita dan dari latar belakang apapun kita, mari bersama –sama membangun kebudayaan daerah kita tercinta untuk membangun bangsa serta kemanusiaan universal .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I yayat u santi !!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-6338872669636400289?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/6338872669636400289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/demi-kebudayaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6338872669636400289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/6338872669636400289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/demi-kebudayaan.html' title='DEMI KEBUDAYAAN'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-1075407393185342020</id><published>2008-11-10T04:23:00.002-08:00</published><updated>2008-11-10T04:24:05.495-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH WATU PINAWETENGEN-MINAHASA</title><content type='html'>SEJARAH WATU PINAWETENGEN-MINAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Danny Gerungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minahasa merupakan salah satu bagian dari wilayah Prov. Sulawesi Utara, dimana sebelum dinamakan Minahasa, wilayah ini dikenal dengan nama tanah MALESUNG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan geografi tanah malesung terdiri dari pegunungan dataran tinggi serta bukit-bukit. Menurut sejarah pada tahun 1428 menunjukan bahwa penduduk tanah Malesung pemukimannya terpencar-pencar dan hidup berkelompok sehingga satu sama lain tidak bisa berkomunikasi terlebih tidak ada saling bantu membantu dalam hidup kebersamaan, hal ini sering terjadi dikala para penduduk ini mempertahankan wilayahnya dari serangan / pengacau yang datang seringkali gagal, demikian halnya pada saat mereka mengolah pertanian atau lebih sering pada saat berburu selalu terjadi pertentangan karena ada penduduk yang telah memasuki wilayah lain sehingga masing-masing saling mempertahankan wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari akan hal ini sering terjadi permasalahan maka oleh leluhur atau para tonaas tanah malesung mencari suatu tempat untuk diadakan pertemuan para pemimpin suku guna mencari solusi mengatasi masalah yang terjadi di tanah Malesung, dan setelah mereka mencari tempat maka didapatlah suatu tempat yang terletak disebuah bukit yang bernama bukit Tonderukan nama lokasi ini ditemukan oleh J.G.F. Riedel pada tahun 1881 yang berdasarkan ceritera rakyat disebut “ Watu Rerumeran ne Empung “ atau batu batu tempat para leluhur berunding yang mana disitu terdapat sebuah batu besar dan ditempat inilah berkumpul para pemimpin sub etnis Tou Malesung berikrar untuk menjadi sastu yakni menjadi satu Tou Minahasa sebuah kata yang berarti “ Mina “ (menjadi), “ Esa “ (satu) dalam perkembangannya sehingga tercetuslah menjadi MINAHASA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watu Pinawetengan dalam sejarah sampai saat ini banyak penafsiran-penafsiran yang timbul melalui penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti yang antaranya mengataka bahwa Watu Pinawetengan itu adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tempat pertemuan para pemimpin Sub Etnis Minahasa untuk membagi-bagi Wilayah dan bahasa masing-masing etnis&lt;br /&gt;   2. Sebagai tempat pertemuan para pemimpin sub Etnis untuk bermusyawarah menjadikan tanah Minahasa&lt;br /&gt;   3. Sebagai tempat berunding para leluhur&lt;br /&gt;   4. Tempat berikrar untuk bersatu melawan gangguan dari luar seperti Tasikela (Spanyol) dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat beberapa pandangan tentang pengertian dan fungsi Watu Pinawetengan maka dapat disimpulkan bahwa Watu Pinawetengan merupakan suatu tempat berunding para pemimpin sub etnik yang ada di Minahasa untuk berikrar bahwa sub etnik di Minahasa walaupun hidup berkelompok tapi berstu untuk menghalau para pengacau dari luar serta membangun wilayah-wilayah yang ada di Minahasa yang ditandai dengan coretan-coretan yang ada diatas patu tersebut..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watu Pinawetengan sampai saat ini tidak akan dilupakan oleh Tou Minahasa baik yang tinggal di Minahasa maupun yang di luar Minahasa karena tempat ini merupakan legenda hidup masyarakat Minahasa yang memiliki nilai sacral sehingga tidak akan hilang dari hati Tou Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakatuan Wo Pakalawiren&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-1075407393185342020?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/1075407393185342020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sejarah-watu-pinawetengen-minahasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/1075407393185342020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/1075407393185342020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sejarah-watu-pinawetengen-minahasa.html' title='SEJARAH WATU PINAWETENGEN-MINAHASA'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-8075127805051863206</id><published>2008-11-10T04:23:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T04:23:28.036-08:00</updated><title type='text'>INSKRIPSI GURATAN GAMBAR BATU PINAWETENGAN - MINAHASA</title><content type='html'>INSKRIPSI GURATAN GAMBAR BATU PINAWETENGAN - MINAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Jessy Wenas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Batu Pinawetengan menurut Cerita Rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritera rakyat mengenai adanya batu Pinawetengan di temukan penulis J.G.F Riedel dari cerita rakyat tombulu yang di cetak dalam bentuk buku berjudul "AASAREN TUAH PUHUHNA NE MAHASA" terbit di tahun 1870 dalam bahasa Tombulu. Lokasi tempat batu Pinawetengan pada mulanya hanya disebut tempat berkumpulnya penduduk Minahasa yang terletak di tengah-tengah Tanah Minahasa. Kemudian disebut tempat Pahawetengan Posan, pembahagian tatacara beribadat agama suku. Lokasinya disebuah tempat yang bernama bukit AWOHAN (AWOAN) di Tompaso. Istilah Watu Pinawetengan pada waktu itu belum ada, karena batu suci tempat upacara PAHAWETENGAN POSAN belum ditemukan karena sudah tertimbun dan masuk ke dalam tanah. Kemudian di tahun 1888 pada bulan Juni J.Alb.T. Schwarz seorang pendeta di Sonder membiayai penggalian batu Suci orang Minahasa tersebut, dan bulan Juli 1888 batu itu di temukan lalu lahirlah istilah "Watu Pinawetengan". Usia gambar-gambar di batu Pinawetengan di analisa penulis J.G.F Riedel berasal dari abad ke-7 (tujuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Analisa Arti Gambar Oleh J.Alb.T Schwarz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama yang menganalisa garis gambar di permukaan batu Pinawetengan adalah Pendeta J.Alb.T Schwarz, berdasarkan komentar Hukum Tua Kanonang Joel Lumentah. Keterangan Hukum Tua Kanonang dan seorang guru dari Sonder hanya mengenai bentuk segi-tiga adalah bentuk atap rumah pemimpin utama Minahasa yang memimpin upacara adat di batu Pinawetengan. Keterangan penting lainnya adalah gambar-gambar yang ada di tahun 1888 dan sekarang ini sudah hilang. Seperti gambar kelelawar, ikan hiu, buaya, jaring penangkap ikan. Hanya sampai disini uraian penulis J.Alb. Schwarz dalam bukunya "ETHNOGRAPHICA VIT DE MINAHASSA". Arti gambar manusia tidak dapat di analisa oleh Penulis J.Alb.T Schwarz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Analisa Arti Gambar Oleh Jessy Wenas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melanjutkan penelitian arti gambar batu Pinawetengan dengan melengkapi data cerita rakyat Tontemboan buku tulisan J.Alb.T.Schwarz "Tontembeansche Taksten" terbitan tahun 1907. bahwa pemimpin upacara adat di pinawetengan Maha dewa Muntu-Untu tidak hanya satu orang tapi ada beberapa orang dalam kurun waktu 800 Tahun. Kemudian membandingkan gambar manusia di Pinawetengan yang punya kesamaan dengan gambar manusia di gua Angano Filipina yang berusia 3000 tahun yang lalu, memberi data bahwa pembuatan gambar di batu Pinawetengan bukan hanya mulai dari abad ke-7 tetapi sudah di mulai sejak jaman sebelum Masehi. Untuk lebih mendalami penelitian simbol-simbol perbandingan gambar-gambar binatang dan benda lainnya dari sistim zodiak Minahasa dari buku " De alfoersche Dierenriem " tulisan pendeta berkebangsaan Belanda Jan Ten Hove cetakan Tahun 1887. Karena uraian simbol-simbol gambar zodiak buku JAN TEN HOVE tahun 1887 sangat jelas mengenai penggunaan simbolisasi itu. Maka bahan keterangan data itu digunakan penulis untuk menguraikan lebih jauh arti- arti gambar yang bukan gambar manusia di permukaan batu Pinawetengan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-8075127805051863206?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/8075127805051863206/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/inskripsi-guratan-gambar-batu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8075127805051863206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8075127805051863206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/inskripsi-guratan-gambar-batu.html' title='INSKRIPSI GURATAN GAMBAR BATU PINAWETENGAN - MINAHASA'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-7949593711598115432</id><published>2008-11-10T04:22:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T04:22:30.172-08:00</updated><title type='text'>WARUGA DILIHAT DARI KACA MATA SENI BUDAYA</title><content type='html'>WARUGA DILIHAT DARI KACA MATA SENI BUDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Jessy Wenas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga termasuk klasifikasi “ Sarkofagus” (kubur batu) terdiri dari dua kata yang menjadi satu WALE-RUGA (Wale = Rumah;Ruga=Roga=Rega=Hancur) Tempat Jenazah hancur menjadi Tulang belulang. Orang Minahasa mengenal dua kali pemakaman, yang pertama sebelum abad ke-5(lima) jenazah dimakamkan dalam Kotak Petih Kayu disebut “ Walongsong “ diletakan di hutan kemudian tulang belulangnya dicuci di sungai dan dimasukkan dalam Kotak Kayu kecil lalu disimpan di (loteng) rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah abad ke-5(lima) tulang belulang dipindahkan ke dalam bejana tanah liat baker yang berbentuk rahim wanita dan di makamkan kedalam tanah seperti yang ditemukan di wilayah selatan Danau Tondano segitiga Kakas, Langoan,Paso. Sesuai pemikiran Minahasa Purba bahwa manusia lahir dari rahim wanita dan meninggal kembali lagi ke rahim wanita yang dalam bentuk bulat lonjong seperti bentuk rahim wanita yang terbuat dari tanah liat bakar yang disebut “kurek”. Pemakaman jenazah kedalam kubur batu waruga di Minahasa baru dimulai sekitar abad 12(dua belas) atau mungkin sebelum abad itu , tapi bukti susah ditemukan karena Batu Waruga yang berat cenderung tertarik masuk kedalam tanah karena daya tarik bumi. Hingga yang masih ditemukan Waruga sekarang adalah Waruga yang ber asal dari abad 14 dan 15 dan yang paling banyak waruga abad 16 sampai abad 20. Waruga yang paling akhir setelah tahun 1900 terdapat di desa Kolongan Tomohon dekat RS Gunung Maria telah memiliki pahatan nama dari si yang meninggal dan angka tahun 1918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan buku oleh penulis barat berjudul De Minahasa.N Groaf land terbitan 1898, Ancient Art of The Minahasa .DR Hetty Palm 1961 Alfoersche Legenden. N.PH Wilken 1863. Die Minahasser F.S Sarasin 1893, banyak menulis mengenai waruga, tapi tulisan khusus di tulis M.R.C Bertling berjudul “ De Minahasische Waroega” (Hocker Bestattung) cetakan tahun 1931.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENTUK WARUGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya Waruga berbentuk Rumah segi empat dengan batu penutup bentuk atap rumah segi-tiga, tapi ada juga Waruga berbentuk bulat seperti terdapat di Nimawanua Tondano model rumah bulat Papua – Irian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu bulat berongga segi empat tempat jenazah di-letakkan dalam posisi duduk dengan posisi kedua tangan terlipat di dada seperti posisi bayi dalam kandungan di beri simbolisasi Wanita. Sedangkan batu penutup segi-tiga model atap rumah di beri simbolisasi laki-laki, pada batu penutup di beri relief pahatan identitas keluarga suami isteri pemilik Waruga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan Batu umumnya diambil dari tepi sungai jenis batu lembut dalam bahasa inggris “Sand Stone” yang akan lebih keras jika kena sinar matahari seperti lokasi tempat pembuatan Waruga di Sawangan Tonsea dan tepi sungai Ranowangko Kamasi Tomohon. Alat pembuat Waruga disebut “Tahak” (peda) golok dari besi dalam berbagai bentuk yang masih dapat kita lihat di kompleks Waruga Airmadidi Tonsea. Dengan alat itu batu kubur Waruga di bentuk dengan tehnik ukiran kayu, untuk mendapatkan bentuk segi tiga digunakan batu terikat tali yang di gantung sehingga mendapatkan segi tiga sama sisi, untuk bentuk segi empat digunakan dua tangkai bamboo sama panjang yang terikat di bagian tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIMBOLIS MOTIF HIAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relief ukiran bentuk manusia konsep lama seperti bentuk bayi tidur dengan kedua kaki dan kedua tangan terbuka dan bentuk kemaluan lelaki atau wanita jelas terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk ukiran manusia konsep baru akan terlihat gambar manusia nampak dari samping, atau topi bukan lagi kain ikat kepala tetapi topi model (cow boy) , seperti pada Waruga di Sawangan Tonsea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar ukiran manusia manusia lelaki (suami) dan gambar ukiran manusia wanita (istri) dipahatkan pada kedua sisi atap batu penutup Waruga beserta identitas seperti wanita mendukung anak, suami yang ber profesi sebagai Tona’as Mamu’is (tukang potong kepala) memegang pedang di tangan kanan memegang kepala orang di tangan kiri Tona’as “Mengangasu” (Pemburu) ada gambar anjing pemburu, Tona’as “Mengalei” ada gambar tangkai daun sirih, Tona’as “Penguma’an” (Petani) ada 12(dua belas) bulatan perhitungan bulan dalam satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hanya pemimpin tokoh masyarakat yang di makamkan dalam batu Waruga yakni para Tona’as dan Walian dan hanya ada 2(dua) jabatan pemimpin masyarakat Minahasa yakni para Tona’as yang memimpin pemerintahan , berperang ,menjaga hutan , membuat rumah,mengolah tanah, dan organisasi mapalus juga para Walian pemimpin upacara pertanian,Pemimpin Agama suku (Walian mangorai,Walian Merarages) umumnya mereke suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga bidang tempat motif hias Waruga yang melambangkan dunia atas,dunia tengah pada tebal batu penutup segitiga dan dunia bawah pada dinding batu segi empat ada simbol ular metamorphosa dan yang terletak pada bidang dunia tengah yakni gambar motif tanaman merambat atau tanaman merambat berkepala ular adalah symbol yang merubah dunia nyata kea lam roh ketika manusia meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif hias Waruga Tonsea sangat rumit dan indah tehnik pengerjaannya , Waruga Tombulu gambar-gambarnya memberi kesan menakutkan ada bentuk wajah manusia yang bertaring dan umumnya memegang pedang, Waruga Tontemboan punya hiasan sederhana bahkan ada yang tidak punya motif hias sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPACARA ADAT PEMAKAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seseorang Tokoh Masyarakat meninggal maka jenazahnya di-ikat dalam posisi duduk di sebuah kursi selama satu malam dijaga oleh Walian “ Mawasal” membujuk roh si yang meninggal yang enggan berpisah dari badan kasarnya . Acara pemakaman esok harinya jenazah diturunkan dari lantai rumah yang papan lantainya sengaja dibuka , diletakkan di kursi jenazah disebut “ Lulukeran” dan di gotong mengelilingi rumah tiga kali lalu berkeliling kampung dan akhirnya di bawah ke Waruga yang terletak disebelah kanan halaman belakang rumah alamarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimaksudkan supaya roh si mati tidak dapat lagi kembali kerumah semasa hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketikah jenazah dimasukkan kedalam Waruga di dudukan diatas piring porselen cina bersama bekal kubur lainnya seperti botol minuman, manik-manik emas disebut “kamagi” padi,pisau,beras,mata tombak dan kepala orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga mulai dibuat ketika seseorang mulai sakit berat dan kadang-kadang ukiran Waruga belum selesai si pemilik Waruga sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga hanya dapat digunakan oleh satu keluarga suami-isteri dan anak-anaknya, misalnya pengguna pertama memakamkan suaminya ketika isteri meninggal beberapa tahun kemudian maka kerangka suaminya dipindahkan ke kotak kayu “Balongsong” agar Waruga dapat digunakan untuk jenazah isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Waruga kosong tanpa kerangka manusia karena ketika kerangka kedua orang tua sudah dikeluarkan, anak-anak pemilik Waruga sudah masuk Kristen dan tidak lagi mau menggunakan Waruga tapi bekal kubur kalung emas,medallion emas,gelang emas,piring porselin cina tidak dikeluarkan dari dalam Waruga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERA WARUGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jalan-jalan di Minahasa mengalami perubahan karena mulai menggunakan kendaraan roda dua gerobak atau pedati disebut roda sapi dan roda kuda, lahirlah jalan raya utama sehingga jaringan jalan berubah , halaman depan rumah menjadi halaman belakang, lokasi Waruga menjadi pasar. Tahun 1850 ketika Outford Pelengkahu menjadi Hukum Besar Tonsea membuat lokalisasi Waruga-Waruga Tonsea di Airmadidi Sawangan , Kasar Karegesan. Memindahkan Waruga-Waruga dalam satu lokasi khusus di Airmadidi dan Sawangan, hal ini tidak terjadi di wilayah Tombulu karena pemukiman negeri lama disebut “Nimawanua” jauh dari jalan raya yang mulai terbentuk tahun 1850-an Sarongsong-Kinilow,Tomohon-Tanawangko,Tomohon-Tondano. Sama seperti di kota Tondano “Minawanua” hulu sungai Tondano jauh dari jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplek Waruga di jalur jalan raya Sonder-Kawangkoan yakni di Kiawa tidak dipindahkan malahan ada yang dihancurkan atau dibiarkan terbenam kedalam tanah, ada Waruga tonsea yang di pindahkan ke Museum di Manado tanpa upacara adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tanpa data tahun pemindahan dan data asal Waruga dari Tonsea wilayah mana , milik dotu siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara adat menentukan apakah sebuah Waruga boleh dipindahkan atau tidak, seperti Waruga Roland Ngantung Palar di pertigaan Matani Tomohon tidak boleh dipindahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara adat pemindahan Waruga disebut ”Mera” Waruga (Mera=Pindah) batu Waruga diangkat dengan tali pohon bambu muda yang dipelintir disebut ”Mules” menjadi tali.Alasan supranatural sulit dijelaskan tapi alasan tekhnis menurut logika bahwa tali ini tidak akan merusak permukaan batu Waruga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tona’as yang memimpin upacara ”mengalei” pada pemindahan Waruga harus di kawal Kabasaran yang melindungi si Tona’as dari gangguan roh jahat atau niat jahat sesama manusia karena ada juga Tona’as yang jahat dan yang baik pengertian jahat adalah mengutamakan kepentingan pribadi, sehingga upacara adat pemindahan Waruga tidak lagi mementingkan Roh si pemilik Waruga yang tidak lagi berdiam dalam Waruga. Karena pada waktu pemakaman sudah dilakukan upacara adat ”Zumouk Tanak” roh si mati menjauh dari bumi menuju langit (Kasendukan,Kalawakan,Sinayawan) Upacara adat lebih mengutamakan pada masalah minta ijin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WARUGA DALAM BUDAYA MINAHASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga dalam budaya Minahasa lama secara pralogis (logika lama) tidak dianggap benda sakral seperti halnya Batu Tumotowa atau batu Pinawetengan yang tempo dulu di keramatkan karena menyangkut kepentingan orang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Tumotowa jadi pusat berdirinya sebuah pemukiman , Negeri disebut Wanua, batu Pinawetengan tempat melakukan perdamaian antara walak-walak subetnik yang bermusuhan untuk bersatu ”maesa’an” asal kata Minahasa .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga hanya kotak batu tempat merobah jenazah menjadi kerangka milik pribadi satu keluarga, banyak Waruga yang tidak lagi di ketahui milik keluarga siapa pada zaman lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dan bagaimana kehidupan pemimpin-pemimpin Minahasa tempo dulu dapat terbaca melalui gambar pada Waruga sekaligus memberi data kebudayaan Minahasa jaman lampau .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk busana abad 16-17 gambar topi kuningan ”Paseki” jaman spanyol di Minahasa,termasuk gambar senapan yang sudah digunakan orang Minahasa sejak abad 16 memerangi spanyol keluar dari Minahasa tahun 1644.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga adalah benda informasi masa lampau mengenai seni budaya Minahasa yang akurat tidak dapat disangkal sebagai barang bukti sejarah,budaya,sistem pemerintahan dan kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN SEJARAH :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keramik cina yang terdapat dalam Waruga ada yang berasal dari dinasti Ming,Sung,Tang abad 11-12 menceritakan sebagai barang bukti bahwa kapal-kapal dagang cina sudah datang ke Minahasa di-abad itu walaupun tidak tercatat dalam sejarah Minahasa dalam bentuk data tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abad 16-17 orang Minahasa banyak menggunakan perhiasan emas, banyak jenis kalung emas berbagai bentuk,gelang emas,anting emas di ketemukan dalam Waruga oleh Spanyol yang datang ke Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Abad 16-17 orang Minahasa sudah menggunakan senapan ”Muskat” dalam perang antar walak dan mengusir Spanyol dari Minahasa tanggal 10 Agustus 1644, Minahasa mungkin suku bangsa Indonesia yang pertama menggunakan senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN BUDAYA :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gambar arca perunggu kepala tongkat Tona’as dan Walian yang disebut ”Olad” dan ”Sekad” pada badan Waruga di Kakas dan Sawangan berasal dari jaman abad 15-16. Memberi data bahwa orang Minahasa dapat membuat arca perunggu yang berongga didalamnya dengan menggunakan cetakan, sebelum kedatangan bangsa barat Portugis dan Spanyol ke Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gambar manusia Waruga Tombulu yang memberi kesan menakutkan memberi gambaran budaya Tombulu berbentuk militeristik sebagai tentara sewaan menjual jasa pada walak-walak Minahasa lainnya seperti mengirim 800 tentara membantu walak Ratahan abad 16. Bentuk prajurit tradisional ini tercermin pada tari kabasaran Tombulu yang tetap bertahan dari kepunahan hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Keindahan Waruga Tonsea melebihi keindahan Waruga-Waruga subetnik di Minahasa lainnya yang menunjukkan orang Tonsea lebih terbuka menyerap budaya luar masuk Minahasa lebih moderat dan tidak ortodoks seperti Tombulu dan Tontemboan di masa lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SISTEM PEMERINTAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waruga Pemimpin Minahasa adalah milik suami istri bila suami sebagai Tona’as Wangko Kepala Negeri,Kepala Walak maka istrinya adalah Walian Wangko yang mengatur produksi tanaman padi , pengendalian perdagangan beras. Walau Minahasa tidak mengenal raja tapi pemerintah republik desa berada pada pasangan suami isteri yang pasti berkuasa mutlak sebagai raja-raja kecil di wilayahnya. Waktu atau masa berkuasa sampai dua atau tiga generasi sampai ada suami isteri lain yang menumbangkannya. Contoh pemerintahan Tonsea abad 16 dipegang keluarga Wenas tiga generasi dan kemudian berpindah ke Pelengkahu tiga generasi lalu beralih ke Rotinsulu tiga generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing Pakasaan Tonsea,Tombulu,Tondano,Tontemboan berkuasa mutlak atas wilayahnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESENIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif hias pada batu waruga punya nilai artistik yang tinggi dalam gaya dekoratif sayangnya orang Minahasa tidak mau mengembangkannya sebagai motif hias asli orang Minahasa karena menganggap motif hias kubur orang mati yang sebenarnya motif hias itu ingin mengambarkan profesi si pemilik Waruga semasa hidupnya sebagai pemimpin masyarakat yang kepemimpinannya patut di contohi anak keturunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar manusia pada Waruga Tonsea menjelaskan perkembangan seni berbusana dari model jubah panjang dengan kain ikat kepala sebelum abad 17, lalu berubah menjadi model jas panjang busana eropa dengan topi (cow boy) setelah abad 17 dalam posisi bertolak pinggang gaya menantang seperti tuan – tuan orang Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini banyak kaum cendekiawan Minahasa berpendapat Minahasa tidak punya motif hias dan ingin mengadopsi motif hias Eropa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi rendahnya Kebudayaan sebuah subetnik suku bangsa di Indonesia ditentukan oleh ada tidaknya budaya mengukir pada kayu dan batu.Dalam hal ini Minahasa di wakili oleh ukiran pada batu Waruga karena ukiran kayu Minahasa masa lampau telah hancur dimakan jaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-7949593711598115432?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/7949593711598115432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/waruga-dilihat-dari-kaca-mata-seni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/7949593711598115432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/7949593711598115432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/waruga-dilihat-dari-kaca-mata-seni.html' title='WARUGA DILIHAT DARI KACA MATA SENI BUDAYA'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-3741626291648226791</id><published>2008-11-10T04:21:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T04:21:40.092-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH MUSIK KOLINTANG</title><content type='html'>&lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a name="1617123763268024257"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://maengket.blogspot.com/2008/08/sejarah-musik-kolintang.html"&gt;SEJARAH MUSIK KOLINTANG&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Oleh : Jessy Wenas&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Kolintang merupakan nama alat musik gong perunggu abad 17 di Sulawesi Utara, &lt;st1:place st="on"&gt;Sumatra&lt;/st1:place&gt; dan Filipina Selatan yang tersebar melalui perdagangan antar pulau melalui jalur perdagangan sutra. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Pusat perdagangan Internasional adalah Ternate dan Tidore sebagai penghasil rempah-rempah pala dan cengkih. Jalur perdagangan selatan dari pantai Timur India pelabuhan Cambaya, Sumatra Utara, Malaka, pantai Utara pulau Jawa lalu ke Ternate Tidore. Jalur perdagangan Utara dari India ke Malaka, Brunei, Filipina selatan, Sulawesi Utara, lalu ke Ternate dan Tidore. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kolintang gong kemungkinan telah tiba di Minahasa melalui Ternate dari kerajaan Majapahit (1350-1389) yang armada pelayarannya sudah sampai dikepulauan Sangihe dan Talaud. Yang sudah tercatat dalam buku negara Kartagama ditulis : ”Uda Makat raya dinikanang sanusa pupul” &lt;i style=""&gt;(1*)&lt;/i&gt; mungkin juga dari Cina karena pulau Siauw telah tercatat dalam peta pelayaran Cina di buku ” Shun Feng Hsin Sung” ditulis oleh SHAO &lt;i style=""&gt;(2*)&lt;/i&gt; awal abad ke 15.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun 1972 penulis membawa MOMONGAN ( Gong perunggu ) asal Tomohon di Minahasa yang retak, untuk diperbaiki di Yogyakarta, pengrajin Gong di Yogyakarta, mengatakan bahwa campuran timah dan tembaga gong tersebut menunjukkan ciri khas buatan kerajaan Belambangan dari Jawa Timur &lt;i style=""&gt;(Ditaklukkan Mataram pada tahun 1639).&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa penulis bangsa barat yang menulis mengenai Minahasaawal abad ke 19 memberi data mengenai alat musik KOLINTANG Minahasa terbuat dari bahan logam dan bukan dari kayu. Penulis J. Hickson mencatat sebagai berikut &lt;i style=""&gt;(3*)&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;...&lt;i style=""&gt;the party next return to the house, the gong kolintang are sounded&lt;/i&gt; ( terjemahan bebas : …peserta pesta upacara kemudian kembali kerumah, dan gong kolintang lalu dibunyikan.) Selanjutnya penulis J. Hickson menceritakan mengenai Mapalus dan lebih menjelaskan bahwa kolintang itu gong &lt;i style=""&gt;(4*)&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;...Mapalus bieting Gongs / Kolintang (Terjemahan bebas : ...Pekerja Mapalus memukul Gong / Kolintang ). Nada – nada Kolintang Gong ditulis oleh N.Graafland dalam bentuk solmisasi, do – mi – sol – mi ... la – do – fa – si , ada gong besar dengan nada fa rendah &lt;i style=""&gt;(5*)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(1*) Bandar jalur sutra – dept. P&amp;amp;K – RI. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 108)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(2*) Bandar Jalur Sutra – Dept. P&amp;amp;K – RI. Jakarta 1998. (Alex Ulaen, halaman 109)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;(3*) Naturalist in North Celebes – &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; 1889 (J. Hickson, halaman 292)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;(4*) Naturalist in North Celebes – &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;London&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; 1889 (J. Hickson, halaman 234)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(5*) De Minahasa, eerste deel – Batavia 1898 (N.Graafland, halaman 357)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alat musik kolintang gong Minahasa jaman tempo dulu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dapat kita lihat pada gambar sketsa buku Ethnographisce Miezelen Minahasa Celebes, A. Meyer and O. Ritcher di Museum Dresden 1902.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gambar penari Kabasaran memakai tombak, di iringi musik kolintang gong yang nampak disebelah kanan bawah, seorang duduk menghadapi kolintang yang terdiri dua deret gong masing – masing satu deretan terdapat lima gong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kolintang Gong ini masih dapat di temukan di Airmadidi bawah wilayah Tonsea milik Ny. Kilapong dan Ny. Doodoh yang hingga kini musik MAOLING digunakan mengiringi tari MAPURENGKEY pada upacara perkawinan &lt;i style=""&gt;(6*).&lt;/i&gt; Apabila kita kumpulkan nama instrumen alat musik Gong di wilayah Nusantara dan Filipina, yang mirip dengan kata KOLINTANG akan terlihat sebgai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;KOLINTANG &lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;: Nama alat musik Gong di Minahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;GOLINTANG (GORINTANG) &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Nama alat musik di Bolaang – Mongondouw.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;KELINTANG &lt;span style=""&gt;                         &lt;/span&gt;: Nama alat musik Gong di Sumatra yang di jadikan perbandingan nama KOLINTANG oleh penulis N.Graafland sebagai berikut &lt;i style=""&gt;(8*)&lt;/i&gt;: ...De KOLINTANG (Minahasa) op Sumatra heet zij KULINTANG (Terjemahan bebas : ...KOLINTANG (Minahasa) di Sumatra bernama KULINTANG.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;KULINTANG &lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;: Nama alat musik Gong di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra &lt;i style=""&gt;(9*)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari nama-nama leluhur Minahasa jaman lampu seperti, Lintang, Lumintang, Lantang, Lintong, yang berhubungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan nama alat musik gong dan keterangan bunyi alat musik logam tersebut, TANG, TONG. Menunjukkan bahwa alat musik gong KOLINTANG itu sudah lama dikenal orang Minahasa, yang jaman tempo dulu punya nilai yang tinggi dimasyarakat dan hanya pemimpin masyarakat yang memiliknya yakni dari golongan TONAAS dan WAILAN. Dapat diambil kesimpulan bahwa leluhur (Opo’) yang mengambil nama dari alat musik Gong ini memiliki status sosial yang tinggi dimasyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Satu buah alat musik Gong dinamakan ”Momongan”, satu deretan momongan disebut KOLINTANG terdiri dari lima Gong (Penthatonis), Gong besar disebut ”Antung” atau ”Rambi”. Orkes musik MAOLING terdiri dari : Kolintang (Melodi), Momongan, Antung (Bass), Suling dan Tambor (Letek).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ceritra rakyat Minahasa mengenal Dewa alat musik ketuk Xylophone dari kayu (kolintang kayu ) bernama TINGKULENGDENG yang mengetuk-ngetuk bilah kayu &lt;i style=""&gt;(10*)&lt;/i&gt; satu masa hidup dengan dewa MUNTU-UNTU abad ke tujuh &lt;i style=""&gt;(11*)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(6*) Hasil survey Koleksi Museum daerah Kebudayaan Minahasa. Kanwil.P&amp;amp;K.1982.Halaman.16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;(7*) Majalah Filipina ”Quarterly” September.1975.halaman.69&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(8*) De Minahasa, N.Graafland.eerste deel. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Batavia.1989.halaman.357&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(9*) Buku Objek Wisata kabupaten Komering Ulu.Cetakan 1990.halaman.35&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(10*) Toumbulusche Pantheon.DR.J.G.F.Riedel.Berlin.1894.halaman.7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;(11*) De Watu Rerumeran ne Empung Dr.J.G.F.Riedel.1897.190&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemudian ada dewa alat musik gong bernama KOLANTUNG (Antung = Gong besar) namanya tidak terdapat dalam daftar dewa-dewi tulisan DR.J.G.F.Riedel, kemungkinan masa hidupnya setelah abad ketujuh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kolintang Kayu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alat musik pukul (Diophone) Kolintang Minahasa sekarang ini berbentuk xylophone kayu dengan tangga nada diatonis (do – re – mi – fa – so – la – si – do ).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena alat musik kolintang Minahsa sekarang ini terbuat dari kayu dan bukan dari bahan logam seperti jaman tempo dulu, maka kita perlu meneliti alat musik pukul (Diaphone) Minahasa dari bahan kayu atau bambu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bahan data sudah sangat sulit ditemukan, hingga harus kembali meneliti semua alat bunyi-bunyian Minahasa yang terbuat dari kayu atau bambu seperti TETENGKOREN berbagai jenis dan TENGTENGEN. Xylophone bambu yang disebut TENGTENGEN &lt;i style=""&gt;(12*)&lt;/i&gt; adalah satu-satunya alat musik purba Minahasa yang masih ada dan pernah dilihat oleh penulis di Tomohon tahun 1956.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hasil penelitian alat musik Xylophone bambu dan kayu Minahasa tertulis dalam kertas berjudul perkembangan Instrumen musik kolintang pada pusat latihan kesenian Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, proyek peningkatan mutu, pelatih seni budaya tahun 1991. BAB.Kolintang Tritonis. Dalam bentuk ceramah pada workshop pelatih musik kolintang se-DKI.1991.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam makalah ini saya perbaiki lagi karena pengertian KOLINTANG TRITONIS adalah musik gong, seharusnya TENGTENGEN TRITONIS yang terdiri dari tiga potong bambu bernada do (1), re (2), mi (3) diletakkan diatas dua batang pisang yang diletakkan sejajar lalu diketuk-ketuk dengan sepotong kayu. Dinamakan musik kobong (kebun) karena hanya dimainkan dikebun oleh petani ketika istirahat makan siang sekitar jam 11.00 &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(12*) Kamus Tombulu – Minahasa .H.M.Taulu.1971&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Not dimankan sebagai berikut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Irama 4/4 &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;33&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;33&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;01&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;22&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;31&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;03&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;1&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;1&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;22&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;22&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;2&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;0&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;0&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimainkan berulang-ulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi apabila&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dimainkan oleh tiga orang, maka alat musik itu ada tiga buah dengan d nada berbeda, alat musik pertama disebut INA’ (ibu) mengambil alihfungsi melodi, alat kedua disebut KARUA dan alat ketika disebut KATELU atau LOWAY.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemungkinan besar not Tritonis asli Minahasa purba adalah : Do (1), re (3), mi (3) dan nada tritonis : mi (3), sol (5), la (6) adalah pengaruh nada kolintang gong. Asal nama – nama INA’ (Ibu), KARUA dan LOWAY ( bayi lelaki) kemungkinan besar dari nama – nama ukuran TETENGKOREN, yang kecil disebut ’INA, yang sedang disebut KARUA atau AMA’ (ayah) yang besar disebut LOWAY (anak) berhubungan erat dengan nama – nama leluhur pertama Minahasa LUMIMUUT (ibu) dan TOAR (anak, sekaligus suami). Menurut para supranatural lobang tetengkoren itu simbol kemaluan wanita. Mengapa Ibu itu utama dan lebih kecil dari anak, para supranatural menjelaskan menjelaskan menurut logika mereka, Lipan (kakisaribu) besar dinamakan KARAMKAN dengan sebutan ”Salina ni Karema” (selimut dewi karema) dan binatang kecil yang dinamakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;”Anjing Tanah” yang besarnya seperempat dari Lipan(kakisaribu) mendapat sebutan ”Ina’ni Kama” (Ibu dari kakisaribu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Susunan lengkap alat musik ”Orkes Kobong” TENGTENGEN. Lagu yang dimainkan oleh TENGTENGEN – INA’ yang berirama walz sering di ikuti oleh beberapa wanita tua peserta mapalus menari :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;¾ Walz pengaruh Spanyol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5 / 6&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;6&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;6&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;6&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;/ 5&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berulang – ulang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keberadaan musik TENGTENGEN – KAYU dari bahan kayu ” Wu’nut ” hanya tinggal nama disebut ”Kolintang wu’nut” bertangga nada Penthatonia (liam nada) dari bilah – bilah kayu. Ada informasi bahwa ”musik Kobong ” terbuat dari kayu pernah dimainkan oleh orang-orang tomohon yang menyingkir ke gunung Tampusu, dan penduduk Airmadidi yang menyingkir ke kaki Gunung Kalabat ketika Jepang masuk ke Minahasa tahun 1942 – 1943 jaman perang dunia ke – II.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hingga sekarang ini Xylophone kayu TENGTENGEN masih dimainkan para petani dikebun ladang atau sawah di wilayah Tonsea Minahasa Utara. Jantje Dungus menjelaskan bahwa potongan kayu bilah-bilah nadadisebut PAMENGKELAN dan nama sepotong kayu sebagai alat pemukul di sebut TE-TENGTENG &lt;i style=""&gt;(*13)&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nama alat musik Xylaphone kayu bertangga nada Penthatonis Minahasa tidak lagi diketahui, hanya disebut ” Kolintang Wu’nut”, di Jakarta dinamakan GAMBANG bertangga nada penthatonis : do (1), re (2), mi (3), sol (5), la (6) seperti lagu Gambang Kromong Benyamin.S. berjudul ”Ondel-Ondel” di Filipina disebut GABBANG.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tangga nada penthatonis Minahasa hanya dapat ditelusuri melalui penelitian lagu-lagu tua Minahasa yang bertangga nada penthatonis OWEY dan Penthatonis ROYOR. Ada kebingungan untuk menentukan mana yang OWEY dan man yag ROYOR, tapi dengan bantuan seorang pakar tari maengket Bapak Titus Loho dapat ditentukan bahwa Penthatonis ROYOR bertangga nada : do (1), re (2), mi (3), sol (5), la (6) pengaruh tangga nada kolintang gong, dan tangga nada Penthatonis OWEY : mi (3), sol (5), la (6), si (7), do (1).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dapat dipastikan ada dua jenis ” Kolintang Wu’nut ” (Kolintang kayu) yang dimainkan pada upacara yang berbeda, tari ” Kumoyak” oleh kabasaran menggunakan Tangga nada Penthatonis ROYOR :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(13) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea. 28 mei 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kolintang Band.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekitar tahun 1940 orkes musik ”Hawaian Band” diMinahasa mulai memudar, karena orkes musik ini menggunakan alat musik HAWAIEN yang menggunakan spul magnetik seperti gitar listrik sekarang ini. Sebelumnya orang Minahasa dapat membuatnya dengan mengambil spul magnetik gagang telepon rusak, yang kemudian sudah sangat sulit ditemukan. Susunan alat musik orkes hawaien band adalah sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;KOLINTANG BAND&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bentuk ”Kolintang Band” pertama muncul diwilayah tonsea Minahasa sekitar tahun 1940-an, menurut Bapak Alfred Sundah (1990) para pemusik kolintang Band Tonsea masih malu-malu karena menggunakan alat musik melodi dari kayu buatan mereka sendiri. Tapi NELWAN KATUUK tidak peduli bahkan menikmati orkes musik yang baru ini justru karena dia Tuna Netra. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang menamakan Xylophone kayu dengan sebutan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;KOLINTANG bukanlah NELWAN KATUUK tetapi masyarakat Tonsea, hingga muncul dua istilah yakni kolintang kayu dan kolintang tembaga (Gong).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan komposisi peralatan musik seperti inilah jenis musik kolintang band menjadi terkenal di masyarakat Minahasa, Xylaphone kayu buatan sendiri, lagu cipataan sendiri dan aransemen lagu dibuat sendiri, kreasi musik tidak tergantung pada siapapun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lahirnya musik kolintang band tidak telepas dari karya musik Nelwan Katuuk yang membuat alat musing Xylophone kayu bertangga nada diatonis yang akhirnya menjadi terkenal diseluruh Minahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nelwan Katuuk lahir pada tanggal 30 maret 1920, pada usia 12 tahun telah menjadi pemukul kolintang perunggu (Gong) untuk memanggil para pekerja Mapalus. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dia menggunakan nada (14*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;/ 11&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;55&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;11&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;55&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;3&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;5&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada usia 20 tahun Nelwan sudah dapat memainkan biola dan alat musik Hawaien, tapi kedua alat musik itu sudah sangat sulit ditemukan di Minahasa. Lalu seseorang bernama William Punu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membuat alat musik Xylophone kayu (Tetengen) bertangga nada diatonis untuk dimainkan sebagai melodi menggantikan Hawaien (15*).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tahun 1943 setelah Jepang mendarat di Minahasa pada perang dunia ke-II, seorang Jepang memberikan alat musik Hawaien, sehingga Nelwan Katuuk menggunakan tiga alat musik sebagai melodi dalam pertunjukan musiknya. Xylaphone dari kayu Wanderan yang kemudian disebut kolintang kayu, biola dan hawaien, kelompok musiknya dinamakan ”NASIB” denga anggota: (16*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nelwan Katuuk : Melodi merangkap Penyanyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Daniel Katuuk : Gitar akustik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Budiman : String bass&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lontoh Katuuk : Jukulele&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tahun 1945 menciptakan lagu instrumentalia diberi judul ”Mars New Ginea” mendapat ilham dari kekalahan Jepang di Papua (Irian) oleh sekutu (Amerika-Autralia), pada tahun 1957 lagu ini sering didengarkan di radio Australia dengan nama ”Cipson”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kelompok musik kolintang band lainnya yang terkenal dimasyarakat Minahasa pada peride itu bernama ”Tumompo Tulen” :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Leser Putong : Melodi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bibi Putong : String Bass&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Wakkari Tuera : Gitar akustik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Usop : Jukulele&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Doortje Rotty : Penyanyi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kolintang band ini dan lainnya tidak menciptakan lagu dan hanya mengisi acara hiburan musik, hingga karya musiknya tidak menembus jaman menuju keabadian seperti karya musik dan lagu Nelwan Katuuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekitar tahun 1950-an kolintang band mendapat sebutan nama lain yakni orkes kolintang, tapi dalam penampilannya lebih populer disebut ”Kolintang Engkel” Karena hanya menggunakan satu alat kolintang kayu berfungsi sebagai melodi (17*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(14*) Rachel Katuuk, Suwaan Tonsea 29 Mei 2007. (Wawancara)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(15*) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea 28 Mei 2007. (Wawancara)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(16*) Rachel Katuuk, Suwaan Tonsea 29 Mei 2007. (Wawancara)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;(17*) Jantje Dungus, Suwaan Tonsea 29 Mei 2007. (Wawancara) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Orkes kolintang kemudian mulai berkembang sampai keluar Minahasa. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Antara lain di Bandung bernama kolintang ”Maesa Bandung” tahun 1959 pimpinan Hannes Undap. Melodi : Nico Koroh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gitar Akustik : Reni Mailangkai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jorry Mowilos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jukulele : Ferdie Lontoh &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ben Makalew&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;String Bass : Jessy Wenas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penyanyi : Elly Doodoh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Winter Sisters&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena alat musik kolintang yang dipesan dari Manado tidak punya kaki, maka dalam pertunjukan pentas kolintang diletakkan pada dua buah kursi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orkes Kolintang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Walaupun sudah berganti nama orkes kolintang periode 1950 – 1964, tetapi penampilannya masih mirip kolintang band, dan sudah mulai menggunakan nada ½ (setengah) : di – ri – fi – sel – le . &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Para pemain melodi kolintang kayu pada periode ini antara lain (18*) :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Janjte Dungus (Suwaan – Tonsea)      Kolintang ” Karpilo”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Josep Iwi Sundah (Lembean)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Gustaaf Warouw (Tomohon) Kolintang      ”Rayuan Masa”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bert Rako (Kakaskasen – Tomohon)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Worang Ransun (Maumbi – Tonsea )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-3741626291648226791?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/3741626291648226791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sejarah-musik-kolintang.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3741626291648226791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3741626291648226791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sejarah-musik-kolintang.html' title='SEJARAH MUSIK KOLINTANG'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-8950956864035433854</id><published>2008-11-10T04:20:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T04:20:34.057-08:00</updated><title type='text'>STRATEGI PENGEMBANGAN SENI BUDAYA</title><content type='html'>&lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a name="4509290009969756796"&gt;&lt;/a&gt; &lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://maengket.blogspot.com/2008/09/strategi-pengembangan-seni-budaya.html"&gt;STRATEGI PENGEMBANGAN SENI BUDAYA&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;  &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Benny Matindas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pengembangan seni budaya dapat diartikan sebagai:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.75pt; text-indent: -18.75pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Pengembangan Kesenian dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kebudayaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pengembangan Kesenian dalam rangka memajukan Kebudayaan&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;[Penelitian iptek di kampus dan laboratorium dpt digolongkan “pengembangan kebudayaan” – A ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;[Pembahasan kita menggunakan pendekatan B.]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Perlunya STRATEGI (Man Made), Bukan ALAMIAH karena KEBUDAYAAN itu sendiri adalah “man made”, dibedakan dgn semua kekayaan serta keindahan yg diberi Tuhan dan alam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Terlalu banyak faktor determinan yg akan menggiring perkembangan budaya ke arah mundurnya peradaban diantaranya adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Struktur dan Kondisi Sosial Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Nilai-nilai Budaya yg Keliru &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Di sinilah pentingnya peran pemimpin yang bertanggung jawab. Untuk menetapkan dan melaksanakan strategi yang benar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Muncul pertanyaan : Ke Mana Arah Strategi? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;(Karena pada umumnya orang sdh terbiasa &lt;u&gt;tidak merumuskan arah&lt;/u&gt;.)&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;Hal itu disebabkan :&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Asumsi bahwa semua orang sudah tahu arah. Padahal belum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Anggapan umum bahwa targetnya adalah: maraknya aktivitas seni. Padahal sering maraknya seni tidak membawa pada kemajuan, sehingga ketika aktivitas surut maka kembali lagi ke titik nol. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Karena memang tak pernah merasa perlu strategi; bahkan tak perlu pengembangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Arah STRATEGI PENGEMBANGAN SENI Untuk KEMAJUAN KEBUDAYAAN :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;“Adanya seniman-seniman yang mencipta karya seni dengan artistika dan estetika&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Yg lebih dari yg sudah ada.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Artistika &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengenai teknik yg digunakan. Sedangkan, &lt;i style=""&gt;Estetika&lt;/i&gt; dalam hal ini berkenaan dengan nilai-nilai etis serta wawasan filosofis yang melatari dan mengarahkan proses kreatif maupun yang terkandung sebagai pesan dalam karya yang dihasilkan. Untuk itu, strategi yang dilaksanakan harus mengarah pada:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Munculnya dan survive-nya para Seniman Kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Adanya Kritik Seni yg akan mengajarkan kepada masyarakat luas (termasuk para seniman dan calon seniman yg nanti akan muncul) ttg teknik-teknik yg digunakan (Artistika) dan konsep Estetika dlm setiap karya. Art dan Estetika yg sudah dikenal inilah yg akan menjadi tumpuan bagi langkah berikutnya yang lebih maju. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Adanya apresiasi untuk berkarya kreatif. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Secara alamiah, 3 hal ini saling berkait, mutual-simbiosis. Tapi upaya manusia, ya kita semua, yg dilakukan secara SADAR dan SISTEMATIS akan lebih menjamin hasil yg lebih BESAR dan lebih CEPAT. Dorongan &lt;u&gt;internal&lt;/u&gt; untuk berkarya kreatif merupakan faktor alamiah dlm diri setiap seniman. Tetapi APRESIASI adalah faktor &lt;u&gt;eksternal&lt;/u&gt; bagi para seniman yang mendorong, merangsang, dan sekaligus menjamin untuk ia tetap eksis dan bahkan survive. Masyarakat yg Sadar Dan Pemimpin yg Bertanggung Jawab Harus menjalankan fungsi: &lt;b style=""&gt;APRESIATOR.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Apresiasi seni akan mendorong para seniman untuk berkarya kreatif dengan cara :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Memberi Penghargaan melalui Festival/Lomba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Memberi Penghargaan melalui Anugerah Pengabdi Seni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Memberi Penghargaan atas penampilan/kerja Seni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Menumbuhkan nilai di masyarakat bhw Seni itu Sesuatu yg Penting dan Besar. Misalnya melalui Tampilan yg merebut perhatian besar, kolosal, Dan mendapat penghargaan/pengakuan resmi Dari pihak yg merepresentasi skala lebih luas, Nasional atau internasional (seperti MURI). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Sehingga apresiasi seni akan mendorong para seniman untuk berkarya kreatif. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dan para seniman lainnya akan berperan sebagai kritikus seni atas karya-karya yg ditampilkan. Karena KREATIVITAS dalam hal ini Berkenaan dengan &lt;b style=""&gt;Pencapaian yg &lt;u&gt;lebih&lt;/u&gt; Daripada yg ada sebelumnya&lt;/b&gt;, Yang sudah ada dijadikan tumpuan Untuk pencapaian baru, Maka jelas diperlukan: &lt;b style=""&gt;PENDIDIKAN&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;PENDIDIKAN SENI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pendidikan Seni harus Dilaksanakan Melalui Semua Jalur (Formal, Non-Formal, Informal) Dan Semua Jenjang (Sampai Perguruan Tinggi) Sebagaimana Fakultas Bahasa Dan Seni Unima. Kami melalui Festival Seni Budaya Sulawesi Utara dan Institut Seni Budaya melaksanakan Pelatihan Massal untuk Maengket, Kolintang, Tari Kabela, Kabasaran, Masamper, dan akan banyak lagi. Pendidikan di bidang seni tradisional Sulawesi Utara belum banyak disentuh. Padahal pengenalan pada Artistika dan Estetika &lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;SENI TRADISIONAL&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; bukan hanya menjadi tumpuan pengembangan Seni di masyarakat, tapi juga untuk membina JATIDIRI setiap warga masyarakat. Perlunya memperkokoh JATIDIRI &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;adalah mutlak untuk :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih Percaya Diri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih Cerdas dan Kreatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Masyarakat yg Unggul&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 13pt;" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;•&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih berbahagia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Hambatan-hambatan yang muncul terhadap pengembangan seni budaya &lt;i&gt;terutama berpangkal dari &lt;b&gt;&lt;u&gt;ketidakmengertian&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; tentang fungsi seni dan budaya.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Seni cuma dianggap hiburan, ringan, pelengkap acara. Budaya hanya dimengerti secara sempit, hanya seni budaya tradisional, sehingga cukup menjadi bagian dalam Pariwisata dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Lebih lanjut lagi &lt;b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;Ketidakmengertian&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;span style=""&gt;tentang HAKIKAT serta FUNGSI Seni dan Budaya&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;oleh&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;PEMERINTAH, MASYARAKAT&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt;bahkan oleh umumnya SENIMAN sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Pendidikan Seni melalui semua jalur harus dilakukan untuk menanamkan kesadaran masyarakat tentang Hakikat dan Fungsi Seni.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;Disini dapat kita lihat &lt;b style=""&gt;SENI&lt;/b&gt; adalah Karya Kreatif manusia yang antara lain berfungsi sebagai : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pemasok bahan baku bagi kesadaran dan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pengembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;iptek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Pembentuk harmoni batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Wingdings;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Seni kreatif merangsang kreativitas masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dapat disimpulkan bahwa SENI adalah Lokomotif atau Ujung Tombak Pengembangan Kebudayaan dan BUDAYA adalah Faktor Determinan atas semua aspek Kehidupan Manusia. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;[ Aspek-aspek Sosial, Politik, Ekonomi ]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;" lang="SV"&gt;”Mari kita sama-sama berjuang paling depan Dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, melalui Pengembangan kesenian Dan Pembangunan kebudayaan”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Arial Black&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Salam Budaya!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-8950956864035433854?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/8950956864035433854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/strategi-pengembangan-seni-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8950956864035433854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/8950956864035433854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/strategi-pengembangan-seni-budaya.html' title='STRATEGI PENGEMBANGAN SENI BUDAYA'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-5121409532612509792</id><published>2008-11-10T04:18:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T04:18:33.504-08:00</updated><title type='text'>SULUT-Suatu Rumpun yg mengikat-kuat nan Rukun</title><content type='html'>&lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a name="2390426338746885965"&gt;&lt;/a&gt;   &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;“Sulawesi Utara, Suatu Rumpun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;yang Mengikat-kuat Nan Rukun”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-size: 85%;"&gt;Eric MF Dajoh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0pt; font-family: Arial;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt; SULAWESI Utara, adalah sebuah keanekaragaman. Etnis, fauna dan flora, serta berbagai potensi bahari yang beragam, kaya dan unik. Mengenal Sulawesi Utara, adalah memahami keanekaragaman kehidupan ciptaan Tuhan: satu rumpun yang mengikat kuat nan rukun.&lt;br /&gt;Keanekaragaman etnis di Sulawesi Utara, menghadirkan suku Bolaang dan Mongondow, Sangihe dan Talaud, serta Minahasa: beragam bahasa namun dalam rumpun dialek yang sama. Begitu juga kekayaan flora dan fauna. Di atas jazirah itu, tumbuh varietas vegetasi yang luas, dan dipenuhi pohon kelapa di sepanjang pantai, meluas hingga ratusan meter di atas permukaan laut. Di kawasan yang berbukit-bukit tumbuh tanaman cengkih yang menjadi salah satu sumber dana. Ada juga tanaman pala, sagu, aren dan berbagai buah-buahan, subur bertumbuh di berbagai kawasan. Kekayaan fauna yang memukau, seperti babi rusa, anoa, burung maleo, babi hutan, ular dan kera. Belum lagi kekayaan bawah lautnya. Sebut saja, Bunaken, Selat Lembeh, Likupang, kawasan Dua Sudara, Teluk Buyat, Ratatotok dan di berbagai tempat lainnya. Aneka biota laut yang menantang, surga bagi para diver dan pecinta snorkeling.&lt;br /&gt;Laut, Misteri Allah&lt;br /&gt;Betapa indahnya, laut. Setiap membicarakannya, yang terlintas adalah kekayaan biota laut yang tak terbilang. Kekayaan itu menjadi sebuah impresi, tonggak keberadaan kita, dan simbol kebanggaan.&lt;br /&gt;Selain di Bunaken, keindahan juga merajut dirinya di Likupang, Selat Lembeh, kawasan Dua Sudara, Teluk Buyat dan Ratatotok. Keanekaragaman potensi kawasan di sini, pada gilirannya membuka sebuah peluang bagi pariwisata bahari. Belum lagi potensi perikanan yang menyebar di berbagai kawasan. Semua itu menyadarkan kita, betapa laut yang begitu indah dan kaya, adalah karunia Tuhan bagi Sulawesi Utara. Pasalnya, seberapa jauh kita memahami misteri Allah ini dengan sikap yang bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Memang tak ayal, godaan terbesar dalam mengolah laut adalah merancang keseimbangan pengelolaan antara keinginan melestarikan biota laut, dan memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat. Acapkali, keserakahan menguras hasil laut semata untuk kebutuhan ekonomi, merusak kesinambungan hidup biota laut. Karenanya, diperlukan pengelolaan yang bijak, agar tidak menjadikan anak-cucu menanggung kerugian di kemudian hari.&lt;br /&gt;Mengedepankan sikap penuh syukur akan kekayaan bahari sebagai karunia Tuhan, adalah sikap arif. Sikap yang mampu meletakkan kesadaran dan kesungguhan untuk memahami kemisterian Allah. Di mana berbagai potensi, tidaklah sekadar menjadi kekayaan, tetapi juga pusat kehidupan: titipan Tuhan kepada anak-cucu. Seyogianya, tidak kita kangkangi dengan kegagahan, namun sebaliknya memeliharanya dengan kasih sayang.&lt;br /&gt;Tanah, Berkat Tuhan&lt;br /&gt;Tanah yang subur, adalah berkat Tuhan bagi Sulawesi Utara. Tanaman yang bermacam-macam, mulai dari kelapa, cengkeh, pala, sagu, aren dan buah-buahan, adalah asupan gizi Ilahi. Dalam bentangan punggung bumi, kita disajikan sawah ladang yang luas, padi-beras yang melimpah dan berbagai makanan pokok yang tak habis-habisnya bagi masyarakat Sulawesi Utara. Karena itu, bukanlah heran jika di berbagai daerah pegunungan, dijumpai lumbung-lumbung beras yang menghidupi hampir seluruh masyarakat Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;Ketersediaan pangan memang perlu diimbangi dengan etos kerja yang sanggup merawat keseimbangan dan kelestarian alam. Monokultur saja tak baik bagi sistem pertanian rakyat dalam membangun ekonomi yang kuat. Penggarapan lahan yang berkesinambungan dan bertanggungjawab, adalah pilihan dalam membangun sistem pertanian yang memastikan adanya perawatan tanah dan sumber air tanah secara alami, serta mengurangi kerusakan karena penggunaan pestisida yang berlebihan.&lt;br /&gt;Kita sadar, betapa perkembangan teknologi rekayasa pangan, telah menghadapkan masyarakat pada pilihan: penggarapan pertanian secara organik atau non-organik. Pilihan-pilihan ini pada gilirannya harus dibangun di atas keinginan luhur melestarikan sawah dan ladang sebagai lahan hidup, bukan lahan garapan. Pola bertani yang arif, tidaklah sekadar memberi kita makanan, tetapi kuat dan sanggup bertahan dalam hidup.&lt;br /&gt;Ketika kita bicara tentang sawah dan ladang, artinya kita tengah menggumuli hidup itu sendiri. Hidup yang berkelimpahan dalam syukur, sehingga pertanggungjawaban kita, adalah kesungguhan yang tulus untuk terus-menerus berdamai dengan tanah, sumber hidup anak-cucu kita. Karena tanah, bukanlah berkat yang sia-sia.&lt;br /&gt;Hutan, Jantung Hidup Kita&lt;br /&gt;Sulawesi Utara, adalah sekumpulan hutan primer dan sekunder yang memaparkan kekayaan yang tak terbandingkan. Betapa tidak, di atas gugusan hutan tropis malar hijau (tropical ever green forest), terhampar begitu banyak vegetasi. Ada hutan rawa dan bakau, hutan pantai, hutan pamah atau dataran rendah, hutan pegunungan bawah dan hutan gunung. Kekayaan makin dilengkapi pula dengan berbagai suku-suku pohon, seperti Moraceaae, Annonaceae dan Eurphobioceae.&lt;br /&gt;Di atas jazirah utara pulau Celebes, terdapat delapan kawasan cagar alam, yaitu Cagar Alam Gunung Tongkoko – Dua Saudara, Cagar Alam Gunung Lokon, Cagar Alam Gunung Ambang, Suaka Margasatwa Manembonembo, Suaka Margasatwa Karangkelong Utara, Suaka Margasatwa Karngkelong Selatan, dan Taman Nasional Bunaken.&lt;br /&gt;Dan di dalam belantara-belantara itu, hidup beragam satwa liar sebagai satwa endemik. Ada golongan mamalia, seperti monyet hitam, yaki, kuskus, beruang, tangkasi, musang Sulawesi, babirusa, anoa pamah, anoa gunung, kalong Talaud dan duyung. Ditambah lagi dengan ratusan jenis burung endemik Sulawesi, seperti maleo, rangkong, burung hantu gunung, burung hantu punggok oker, sikatan matinan, sampiri dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kawasan konservasi dengan ragam vegetasi, memaparkan hutan-hutan bak surga bagi flora dan fauna. Di situ mereka bertumbuh, bertarung untuk hidup dan merawat kehidupan yang berkelanjutan secara unik. Hutan-hutan itu diciptakan bagaikan jantung bagi kehidupan, yang mengatur keseimbangan curah hujan bagi kesuburan lahan pertanian dan perkebunan. Pada hutan-hutan inilah kita menaruh harapan terjaganya ekosistem antara dataran tinggi dan dataran rendah.&lt;br /&gt;Dan apa yang kita pahami sebagai jantung hidup Sulawesi Utara itu, sekali lagi menyadarkan kita, betapa dahsyatnya kasih sayang Tuhan bagi kehidupan ini. Anugerah hutan yang kita peroleh, sudah sepantasnya patut dirawat dengan hikmat Ilahi. Tidak sekadar diolah, tetapi juga patut dilestarikan sebagai ujud iman yang nyata.&lt;br /&gt;Budaya, Spirit Hidup&lt;br /&gt;Dari beragam etnis, muncul kekayaan budaya, nilai-nilai adat dan tradisi, serta kekayaan alat komunikasi massal, yaitu bahasa. Nilai-nilai adat dan tradisi yang kaya, merupakan kekayaan kebudayaan yang tak terhingga di Sulawesi Utara. Sekalipun nyaris dirusak pada zaman penjajahan, tetapi akar-akar kebudayaan itu terus bertumbuh dari Bolaang-Mongondow, Minahasa hingga ke Kepulauan Sangihe dan Talaud. Hingga kini, kesenian-kesenian tradisi, baik musik, tari, sastra, seni rupa dan teater, tumbuh dalam rumpun-rumpun masyarakat yang mengikat nan rukun. Banyak bahasa daerah yang hingga kini tetap bertumbuh di Sulawesi Utara. Bahasa Mongondow, bahasa Sangihe, bahasa Talaud, bahasa Siau, bahasa Tonsea, bahasa Tombulu, bahasa Tolour, bahasa Tountemboan, bahasa Bantik, dan masih banyak lagi yang lain. Beragamnya bahasa menunjukkan perkembangan kebudayaan yang signifikan. Sebagai pendukung kebudayaan, bahasa hingga kini mengekspresikan nilai-nilai hidup masyarakat.&lt;br /&gt;Hidup, Ujud Iman yang Indah&lt;br /&gt;Akhirnya, keanekaragaman yang dimiliki Sulawesi Utara, menghantarkan kita pada catatan-catatan reflektif tentang makna hidup. Sudut pandang kita tentang hidup sebagai manusia Sulawesi Utara pada gilirannya membuka wacana, betapa berartinya hidup bagi masyarakat Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;Apa yang kita jumpai sebagai keanekaragaman hayati dan kebudayaan, menunjukkan adanya keterkaitan antara alam, manusia dan Tuhan. Karunia alam raya yang diciptakan Tuhan, mendorong kita pada hakikat kesadaran: memberi diri yang sungguh bagi pengelolan dan pemeliharaan lingkungan secara bijak bestari.&lt;br /&gt;Kita disadarkan, betapa di dalam kebersamaan hidup ini, ada banyak hal yang sudah Tuhan anugerahkan. Di tengah-tengah realitas kemiskinan dan kemajemukan yang menjadi ciri dasar masyarakat Asia, kita adalah masyarakat bangsa yang diberkati.&lt;br /&gt;Hampir-hampir jarang kita mendengar adanya ancaman kemiskinan yang dapat mengurangi kualitas hidup masyarakat, di Provinsi Sulawesi Utara. Dalam tatanan mikrokosmos dan makrokosmos, kita setidaknya mampu menjaga keseimbangan alam. Ketersediaan pangan, sandang dan papan yang diambil dari kekayaan sumber daya alam, menginsyafkan kita akan kekayaan yang kita miliki. Lautan, bukan hanya indah, tetapi kaya dengan protein yang bermanfaat bagi kehidupan, memperlihatkan betapa beruntungnya kita. Hutan tropis yang dipenuhi vegetasi, flora dan fauna, selamanya memberikan kita kepastian hidup.&lt;br /&gt;Pengalaman bersama di tengah masyarakat majemuk, mengajar kita untuk memiliki cara pandang sebagai sesama saudara sebangsa. Kita menghidupi kemajemukan bukan atas dasar perbedaan, tetapi persamaan yang memberi kita selalu bersukacita. Kita mampu merekatkan semua perbedaan dengan keterbukaan, dan kedewasaan bermasyarakat.&lt;br /&gt;Menguatnya fundamentalisme pasar yang mungkin saja mengancam hidup sejahtera bersama, tidak mesti menjadi hari-hari gelap kita. Karena di dalam pemahaman kita, perdagangan bebas pada satu sisi dapat membawa pertumbuhan ekonomi, tetapi di lain sisi tanpa adanya prinsip keseimbangan dan kesejahteraan untuk semua, maka bayang-bayang kemiskinan akan menjadi hantu di siang bolong.&lt;br /&gt;Pun ketika kita juga mesti berhadapan dengan fundamentalisme agama-agama, yang lama-kelamaan dapat mereduksi nilai positif dari kemajemukan sebagai keniscayaan. Seakan hidup bersama dalam pluralitas agama adalah aib dan dapat mengancam kehidupan. Pada realitas ini, kita berhadapan dengan kerawanan sosial menuju massal chaos, jika tidak kita tata bersama.&lt;br /&gt;Akhirnya, tak mesti dielakkan untuk menyebutkan bahwa tanggung-jawab yang harus dihadapi dalam suasana gumul masyarakat masa kini, adalah seberapa mampunya kita “memelihara Sulawesi Utara, sebagai kerukunan yang mengikat-kuat; saling memberi dan saling melengkapi.”&lt;br /&gt;Mengukuhkannya dari ancaman fundamentalisme pasar yang dapat merontokkan sendi-sendi perekonomian rakyat. Menjauhkannya dari bayang-bayang fundamentalisme agama-agama yang cepat atau lambat, bisa meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan masyarakatnya yang mengikat-kuat nan rukun!&lt;br /&gt;Dan, ketika sikap ini kita abadikan sebagai paradigma baru masyarakat kita, maka akan muncul pergerakan baru untuk memandang dengan lebih luas bentangan wahana kekayaan Sulawesi Utara, sebagai kekayaan alam raya yang diberkati untuk memelihara persaudaraan. Dan kita akan membentangkan panji-panji itu sebagai sikap syukur kepada Tuhan, jauh dari kegagahan dan keangkuhan diri. Kebangkitan kita, adalah demi kesejahteraan bersama dalam persaudaraan yang sejati. Sikap ini, akhirnya akan memberi nilai lebih bagi kehidupan bersama. Kita mewariskan sebuah ketegasan sikap, menjadikan Sulawesi Utara wahana kehidupan yang saling menghidupkan: saling percaya, saling menghormati, dan saling mengasihi dalam merawat kehidupan ciptaan Allah.&lt;br /&gt;Kepada kita terpulang sebuah penghayatan dan penghormatan kepada leluhur. Penghormatan kepada para pendahulu, yang terlebih dulu menghargai kehidupan bersama di atas tanah jazirah utara ini. Inilah penghayatan hidup bersama. Kesediaan bersama untuk memandang Sulawesi Utara secara spiritual. Menghayatinya bukan sebagai keputusan politik, tetapi keputusan spiritual. Karena, apa yang tergelar di atas tanah subur Sulawesi Utara ini, adalah milik Tuhan! (***)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-5121409532612509792?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/5121409532612509792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sulut-suatu-rumpun-yg-mengikat-kuat-nan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/5121409532612509792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/5121409532612509792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/sulut-suatu-rumpun-yg-mengikat-kuat-nan.html' title='SULUT-Suatu Rumpun yg mengikat-kuat nan Rukun'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-1687586295315056813</id><published>2008-11-10T04:16:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T04:17:12.369-08:00</updated><title type='text'>24 Rekor MURI persembahan BJM untuk Sulawesi Utara</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;24 Rekor dari 30 target rekor yang akan dipecahkan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;1. REKOR MURI PAGELARAN MUSIK KOLINTANG DENGAN PESERTA TERBANYAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI: 2668/R.MURI/VII/2007 . Kamis, 2 Agustus 2008&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;2. REKOR MURI ALAT MUSIK KOLINTANG TERBESAR &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;- Nomor Registrasi MURI: 2669/R.MURI/VII/2007.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kamis, 2 Agustus 2008,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;3. REKOR MURI MAKAN BIAPONG SERENTAK BERSAMA SEBANYAK 2007 BUAH &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="FI"&gt;-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;No.2788/R.MURI/VII/2007- Lapangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pacuan Kuda Tompaso, Minahasa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;7 Juli 2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;4. REKOR MURI MENYANYIKAN LAGU-LAGU DAERAH (MASAMPER) SECARA MEDLEY DENGAN JUMLAH TERBANYAK 2007 LAGU.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI : 2703/R.MURI/VIII/2007 Pendopo Kabupaten Kepulauan Sangihe (14 s/d 17 Agustus 2007). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;5. REKOR MURI RANGKAIAN DODOL MEMBENTUK REPLIKA POHON NATAL.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:2242/R. MURI/XII/2006.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bandara Sam Ratulangi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manado, 14 Desember 2006.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;6. REKOR MURI RANGKAIAN BUAH NANAS TERTINGGI. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURU:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2418/R.MURI/III/2007. Lapangan Kotamobagu Bolaang Mongondow, 23&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maret&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;7. REKOR MURI RANGKAIAN KACANG TANAH TANAH&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;MEMBENTUK REPLIKA POHON NATAL TERTINGGI.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2238/R.MURI/XII/2006, Boulevard Mall&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Manado,&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;17&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Desember 2006.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;8. REKOR MURI RANGKAIAN BUAH SALAK TERTINGGI.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2789/R.MURI/IX/2007 Komplek Pameran Pembangunan Kayuatu Manado Senin, 17 September 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;9. REKOR MURI MAKAN BUBUR MANADO DENGAN PESERTA TERBANYAK. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2940/R.MURI/XII/2007 Sabtu, 22 Desember&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;10. REKOR MURI PEMBUATAN PERKEDEL IKAN NIKE DENGAN JUMLAH TERBANYAK. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2938 /R.MURI/XII/2007 Sabtu, 22 Desember&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;11. REKOR MURI PEMBUATAN REPLIKA GEREJA NATAL DENGAN BAHAN DASAR GULA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;AREN.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2939/R.MURI/XII/2007 Sabtu, 22 Desember&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;12. REKOR MURI MEREBUS JAGUNG DENGAN PANAS BUMI TERBANYAK.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2941/R.MURI/XII/2007 Sabtu, 22 Desember&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;- Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;13. REKOR MURI PENYAJIAN NASI KUNING DENGAN JUMLAH TERBANYAK.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:2937/R.MURI/XII/2007. Sabtu, 22 Desember&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Manado Convention Center (MCC) Kota Manado Sulawesi Utara.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;14. REKOR MURI TARI JAJAR DENGAN PESERTA TERBANYAK YANG DIIRINGI&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;LAGU-LAGU GEREJAWI.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI : 2825&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;/R.MURI/X/2007. Lapangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bola Wawirane – Kampung Rarange Mangaran Kabaruan Talaud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;15. REKOR MURI PEMBUATAN REPLIKA SALIB DARI RANGKAIAN TELUR PASKAH.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:2460/R.MURI/IV/2007 Langowan, April 2007.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;16.REKOR MURI LABORATORIUM KOMPUTER MOBILE PERTAMA.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:1937/R.MURI/XII/2006. Desa Tawaang, Minahasa Selatan – Desember 2006 - Laboratorium Mobile Komputer pertama di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;17. REKOR MURI PENYELENGGARA STUDY BANDING MUSPIDA KABUPATEN TALAUD&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PESERTA TERBANYAK 1350 PESERTA. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI: 2939/R.MURI/XII/2007 Jakarta – Desember 2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;18. REKOR MURI PAGELARAN UPACARA ADAT MAHAMBA BANTIK DENGAN PESERTA TERBANYAK&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:2371/R.MURI/IX/2007. 1568 penari adat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lapangan Malalayang Manado, November 2007. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;19. REKOR MURI PEMBUATAN TEROMPET BESI TERBESAR. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI:2327/R.MURI/I/2007-&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Amurang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Minahasa Selatan Januari 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;20. REKOR MURI PAGELARAN TARI KABELA DENGAN PESERTA TERBANYAK. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI: 3034/R.MURI/III/2008. Jumlah Peserta 2640 penari pembawa Kabela. Waktu dan tempat: Lapangan Kotamobagu Bolaang Mongondow, 24 Maret 2008. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;21. REKOR MURI SONGARA KACANG TERBANYAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;22. Rekor Makan sup Brenebon dengan peserta terbanyak &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI: 3236/R.MURI/VII/2008. Jumlah mangkok 2500. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Dilaksanakan di Desa Pinabetengan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;23. Rekor Tanaman Bunga Matahari terpendek 20 cm&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;-Nomor &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;Registrasi MURI:3415/R.MURI/IX/2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;24. Rekor Tanaman Bunga Matahari tertinggi 275 cm&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 78%;" lang="SV"&gt;-Nomor Registrasi MURI: 3414/R.MURI/IX/2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-1687586295315056813?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/1687586295315056813/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/24-rekor-muri-persembahan-bjm-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/1687586295315056813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/1687586295315056813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/24-rekor-muri-persembahan-bjm-untuk.html' title='24 Rekor MURI persembahan BJM untuk Sulawesi Utara'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-4680227657179525338</id><published>2008-11-10T04:15:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T04:16:19.991-08:00</updated><title type='text'>"Lodewijk Ngantung Mata hati dan mata tombak Sang Icon Kabasaran"</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Sebuah profil pelaku seni budaya yg di tulis oleh Recky Runtuwene.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Lodewijk Ngantung Mata hati dan mata tombak Sang Icon Kabasaran"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;Ketika beraksi matanya jalang, melotot! Ketika berpentas suara nyaring menggelegar: “I Yayat U Santi…!”. Beribu turis telah disambutnya, beratus pejabat telah menyapanya. Dari tangannya lahir beratus penari kabasaran. Sayang, tak secarik piagam penghargaan yang ia dapatkan dari dedikasinya sebagai motivator, pemerhati, maupun pelaku Tari Kabasaran. Yang ada, yang dipajang di ruang tamu rumahnya yang bersahaja adalah Piagam Penghargaan sebagai Petugas Pemilu dari Menteri Dalam Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, lebih dari separuh hidupnya ia telah dedikasikan untuk kemajuan seni tari kabasaran. Memang, dari pengakuan yang tersimpul dari kalimat yang sederhana, sesederhana jalan hidupnya, ia tak membutuhkan itu.Yang ada hanya sebuah kerinduan: Tari Kabasaran jangan punah dari tanah Minahasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diusianya yang ke 78 tahun, ia sudah 52 tahun menari tari simbol keberanian Tou Minahasa. Dan ia akan terus menari, menari, menari, sambil memekit : “ I Yayat U Santi…! Tak peduli di hargai atau tidak, yang penting warisan leluhur ini tetap lestari. Lodewijk Ngantung adalah aktor utama dan penting dalam perjalanan Seni Tari Kabasaran di abad ini. Melalui pemberian dirinya pada perkembangan Tari Kabasaran - tanpa disadarinya ia telah menjadi ikon dari tari Kabasaran itu sendiri.&lt;br /&gt;Atraksi tari dengan ekspresi wajahnya yang garang dengan ciri khas mata kelereng berputar-putar sambil menggigit bibir - seperti harimau kelaparan, justru menjadi suguhan yang menghibur bagi pejabat-pejabat daerah, pusat maupun turis-turis lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Sulawesi Utara. Maka tak heran bila saja orang mengatakan bahwa tanpa Opa Owik, begitu ia disapa, Tari Kabasaran tak mempunyai jiwa. Tanpa kehadirannya, Tari Kabasaran kehilangan identitasnya yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu melekatnya figur Owik dalam perkembangan Tari Kabasaran, menyebabkan ia telah menjadi ikon Kabasaran itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, kakek yang berdomisi di bilangan Kalimpesan, kelurahan Paslaten II, Tomohon ini, selalu menjadi sorotan ribuan kamera para penonton, tamu, maupun media ketika ia sedang beraksi. Pose mata melotot, topi Spanyol berbulu burung, baju merah berjuntai, menggigit bibir, kedua tangan memegang tombak, kuda-kuda Anoa, adalah ciri khas yang telah mendunia milik ayah 8 orang anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret Owik telah menghiasi jutaan album penggemar-penggemarnya, ribuan media telah mencetaknya, melalui kartu pos - wajahnya telah beredar keseluruh penjuru dunia. Pria sederhana kelahiran 29 Juni 1929 ini, telah menjadi maskot pariwisata Minahasa, Sulawesi Utara, dan Indonesia. Ia telah dan masih menjadi duta bangsa, aset dunia seni dan pariwisata, dan maestro di dunia yang gelutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setumpuk predikat yang melekat padanya, sampai saat ini tak satupun penghargaan yang pernah ia terima dari pemerintah daerah maupun pusat. Pengabdian yang tulus, kerja keras, dan kecintaanya pada seni budaya Minahasa inipun, tak cukup untuk sekedar ‘mengepul asap dapur’ bagi pria yang bekerja sebagai pembantu kantor Kelurahan Paslaten II Kota Tomohon ini. Tetapi, Opa Owik tak pernah kecewa dan putus asa dalam upaya melestarikan budaya leluhurnya, warisan Tou Minahasa sendiri. “Tari Kabasaran so bagitu kita cintai, so susah mo kase lapas,’ tuturnya dengan nada datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Waranei telah terpatri dalam jiwaraganya dan akan terus bergelorah dalam lintasan hidupnya selama pekik I Yayat U Santi masih dan terus membahana di Tanah Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, menurut Owik, kabasaran, bukan hanya sekedar atraksi menjemput tamu, pentas seni menghibur orang, dan hiasan kartu pos semata, tetapi juga dan justru penting sebagai potret penyampaian budaya Minahasa yang sarat dengan nilai-nilai keberanian, kerja keras, perjuangan hidup, cinta tanah air, dan bersyukur pada Opo Empung (Tuhan). Menurutnya, intisari dari figur ‘Waranei’ (ksatria Minahasa) yang sebenarnya, seharusnya menjadi bahan baku identitas diri bagi generasi Tou Minahasa dimanapun mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Mencari garam di luar Wanua ( kampung) untuk di bawah pulang ke Wanua sendiri’ adalah salah satu ‘mata tombak’ yang harus dan segera dilempar kesasarannya yang sebenarnya, yaitu secara sederhana dalam wujut membangun negeri Minahasa dari hati yang paling dalam. Atau dari kacamata ‘anak rantau’, “kumpul doi banya-banya kong bangun itu kampong”. Bukan pulang kampung untuk mencari kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Owik, keberanian para Waranei Minahasa zaman dulu ketika kejar-kejaran dalam perkelahian dan menari-nari setelah memenggal kepala musuh adalah realitas yang sungguh terjadi dari sejarah panjang kabasaran dan dimensi hidup orang Minahasa. Daya magis yang menggelora dalam diri para Waranei ketika berperang melawan musuh, bukan cerita dongeng semata. Tetapi itu dulu, sudah tak layak kita terapkan di zaman sekarang. Namun, nilai-nilai tersembunyi dari warisan para ksatria Waraney yang perlu kita lestarikan, yakni nilai-nilai keberanian dalam menghadapi ketidakadilan.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Banyak kisah dan cerita unik yang pernah dialami penerima penghargaan dari Menteri Dalam Negeri sebagai Petugas Pemilu ini, sebagai Kapiten Tari Kabasaran. Satu pengalaman yang tak terlupakan, ketika tahun 1985, saat hendak pentas di Taman Mini, di anjungan Sulawesi Utara, badannya lemas dan tak ada kekuatan untuk menari. Ada apa ini? Sebelum pakai kostum badannya segar bugar siap tampil, kok somo tampil jadi lotoi begini, katanya membatin ketika itu. Seketika itu juga ia sadar, ia belum berdoa meminta perlindungan kepada yang Kuasa. Dan, seketika itu juga, iapun mengadakan dialog batin dengan Siow Kurur - Dotu Minahasa yang digambarkan mempunyai 9 lutut. Inti dari dialog itu, ia memohon agar jangan dipermalukan. Biarlah ia tampil dengan kekuatan seperti biasa. Usai dialog itu, kekuatannya pulih kembali dan iapun bisa menari menghibur penonton yang sudah menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, satu kebiasaan sampai sekarang, ketika akan tampil, Owik selalu berdoa memohon perlindungan yang Kuasa. Dan, setelah berdoa ia merasakan dan mendapatkan daya magis dari dotu-dotu Minahasa yang pernah hidup ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu di negeri Malesung. “Setiap kali menari, saya merasakan kehadiran mereka. Tak terlihat tapi dirasakan. Dan saya sering berdialog dengan mereka,”jelasnya. Kebiasaan ini yang membuat suatu ketika ia didekati oleh seorang petinggi daerah dan meminta langsung ‘opo-opo’ agar diberi kekuatan. Iapun menampiknya. Ia tidak memegang ‘opo-opo’ apapun. “Bagaimana kita mo kase kita sandiri nyanda pegang,’ jawabnya langsung kepada petinggi daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pemilik tinggi 155 cm ini, darah kabasaran mengalir dari kakek dan ayahnya. Sejak tahun 1955 ia telah ikut kabasaran. Tombak ‘legendaris’ yang selalu dipakainya adalah warisan kakeknya dan pernah dipakai untuk berperang melawan musuh saat kakeknya antara lain pergi mengambil garam di laut Wenang (Manado). Kakeknya, Rotinsulu dan beberapa waranei seperti Lodewijk Gosal di kenal sebagai Kabasaran (cakalele ) ternama di Paslaten Tomohon era 1900-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata tombak yang panjangnya 40 cm dan pernah berapi ketika dipotret oleh seorang keluarganya itu, juga pernah di teliti dan mendapat pujian “joto”oleh seorang professor asal Jepang. Bahkan, gerakan-gerakan dengan tombak - ciri khas Owik, menurut proffesor itu, merupakan jurus-jurus tombak yang setiap geraknya mempunyai arti dan maknanya sendiri. Sayang, ia sudah lupa nama dan alamat professor itu, ia Cuma berharap ada orang yang mau meneliti setiap gerakan-gerakannya ketika pentas, sebab ia sendiri tidak paham. “Ketika pentas, saya bergerak mengalir begitu saja,” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tidak banyak orang tahu, dari balik pesona matanya yang kesohor itu, yang pernah membuat seorang gadis ‘bule’ pingsan, dan dicium oleh seorang turis wanita, bahkan pernah menyebabkan puluhan Tentara ( TNI) yang sedang berbaris di Stadian Walian, koca- kacir ketakutan, saat ia sedang beraksi, adalah kenyataan bahwa mata kanannya pernah terjuntai sampai kedagunya dan dimasukkan sendiri ke kelopak matanya - kena serpihan kayu di Desa Kayawu ketika ia sedang menebang pohon setengah abad yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, diusianya yang senja, ia masih terus dan akan terus menari sampai Tuhan menghendakinya berhenti. Dan untuk meneruskan ‘darah kabasaran’ dikeluarganya, ia telah menyiapkan seorang anaknya. Muda-mudahan ia menjadi generasi keempat kabasaran dalam keluarganya, harapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal regenerasi dalam berkesenian, iapun heran kepada pemerintah seperti setengah hati mengembangkan seni budaya daerah. “Dorang datang kalau lagi perlu, kalau mau jemput tamu atau mo beking acara. Sesudah lenyap.” Tak heran, ia salut pada kebijaksanaan Walikota Tomohon yang mengalokasikan dana untuk tiap desa dalam rangka pengembangan seni budaya. Dan, bangga dengan Benny Mamoto, yang mau berbuat sesuatu bagi pengembangan seni budaya Minahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, pengembangan Tari Kabasaran lebih bagus dimulai dari anak-anak. Agar falsafah dari tari tersebut lebih tertanam serta pemahaman bahwa Kabasaran itu simpul kekerasan dapat dihindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Lodewijk Ngantung, penari tua yang perkasa menggantung asa, harap dan keyakinan, kelak melalui Tari Kabasaran akan lahir waranei-waranei muda yang tahan banting, siap bertanding dan memberi warna di era globalisasi. ****&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-4680227657179525338?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/4680227657179525338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/lodewijk-ngantung-mata-hati-dan-mata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4680227657179525338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4680227657179525338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/lodewijk-ngantung-mata-hati-dan-mata.html' title='&quot;Lodewijk Ngantung Mata hati dan mata tombak Sang Icon Kabasaran&quot;'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-3608678008316445370</id><published>2008-11-10T04:14:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T04:15:03.257-08:00</updated><title type='text'>PETUNJUK TEKNIS PEKAN RAYA KAWANUA (Jakarta, 24-31 januari 2009)</title><content type='html'>&lt;div class="post hentry uncustomized-post-template"&gt; &lt;a name="6802612930934596472"&gt;&lt;/a&gt;   &lt;div class="post-body entry-content"&gt; &lt;span style="font-size: 85%;"&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“LOMBA TARI MAENGKET TINGKAT NASIONAL”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Setiap kelompok Maengket terdiri dari 12 pasang penari + kapel + penabuh + pembawa vandel&lt;br /&gt;b. Penari harus pria dan wanita dan tidak dibenarkan penggantian peran wanita jadi pria atau sebaliknya&lt;br /&gt;c. Penabuh max. 5 orang dan alat musik tambur dan bisa ditambah dengan momongan dan tetangkoren.&lt;br /&gt;d. Kostum harus menggunakan busana nuansa Minahasa&lt;br /&gt;e. Kelengkapan kostum :&lt;br /&gt;i. Wanita  : menggunakan konde pingkan, 1 lenso dan asesoris lain&lt;br /&gt;ii. Pria   : ikat kepala, ikat pinggang, dan 1 lenso&lt;br /&gt;iii. Kapel   : 2 lenso&lt;br /&gt;f. Peserta tidak diperkenankan menggunakan alas kaki pada waktu tampil&lt;br /&gt;g. Setiap kelompok membawakan 3 tema yaitu Ma Owey Kamberu, Marambak, Lalayaan (sastra Minahasa)&lt;br /&gt;h. Durasi penyajian max. 20 menit dihitung saat tambor pertama dibunyikan&lt;br /&gt;i. Kapel wajib mengangkat suara pertama&lt;br /&gt;j. Apabila salah satu kelengkapan peserta tampil terjatuh akan dikenakan diskualifikasi.&lt;br /&gt;k. Memasukan teks kepada panitia 6 rangkap dengan koreografi, sinopsis dan terjemahan, nama-nama peserta, pelatih dan pembina serta foto pada Technical Meeting, tanggal 23 Januari 2009&lt;br /&gt;l. Lomba Tari Maengket ini ini terdiri dari&lt;br /&gt;i. Kategori A (yang sudah pernah menjadi juara I lomba tari Maengket)&lt;br /&gt;ii. Kategori B&lt;br /&gt;m. Peserta harus mengikuti aturan dan tata tertib yang disepakati dalam Technical Meeting pada tanggal 23 Januari 2009&lt;br /&gt;n. Panitia tidak menanggung tiket pp ke Jakarta dan akomodasi di Jakarta. Panitia hanya menanggung transportasi dan konsumsi pada waktu lomba (untuk peserta dari luar kota Jakarta)&lt;br /&gt;o. Peserta Lomba Tari Maengket harus mendaftarkan diri ke Panitia pelaksana selambat-lambatnya tanggal 23 Januari 2009&lt;br /&gt;p. Peserta dapat mengikut lebih dari satu kategori.&lt;br /&gt;q. Peserta harus mengikuti Technical Meetingpada hari jumat, 23 Januari 2009 di Ruang Manguni Lantai 2 Kampus ASMI Jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas Jakarta Timur jam. 17.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;r. Urutan Peserta tampil akan diundi pada Technical Meeting&lt;br /&gt;s. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 200.000,- / kategori&lt;br /&gt;t. Dewan Juri adalah para profesional di bidangnya.&lt;br /&gt;u. Pelaksanaan ”Lomba Tari Maengket Tingkat Nasional” akan dilaksanakan pada hari Sabtu - Minggu, 24–25 Januari 2009, untuk lomba tari Maengket kategori B pada hari Sabtu - Minggu, 24-25 Januari 2009, dan untuk Lomba Tari Maengket Kategori A pada hari Minggu, 25 Januari 2009 di Auditorium Kampus ASMI, jl. Pacuan Kuda No. 1-5 Pulo Mas, Jakarta Timur dari Jam 14.00 s.d. Selesai&lt;br /&gt;v. Setiap peserta mendapat Piagam&lt;br /&gt;w. Hadiah “Lomba Tari Maengket Tingkat Nasional Kategori A “&lt;br /&gt;· Juara  I   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara II   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara III   Uang + Piagam +Piala&lt;br /&gt;· Harapan I   Uang + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan II  Uang + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan III  Uang + Piagam&lt;br /&gt;x. Hadiah “Lomba Tari Maengket Tingkat Nasional Kategori B“&lt;br /&gt;· Juara  I   Uang+ Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara II   Uang+ Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara III   Uang+ Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Harapan I  Uang + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan II  Uang + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan III  Uang + Piagam&lt;br /&gt;y. Hadiah Kapel terbaik    Uang + Piagam&lt;br /&gt;z. Hadiah Tambor terbaik   Uang + Piagam&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;2. ”PANEL DISKUSI”&lt;br /&gt;a. Peserta umum, baik kawanua maupun simpatisan&lt;br /&gt;b. Topik diskusi adalah :&lt;br /&gt;1. Toar &amp;amp; Lumimuut : Antara Sejarah, Mitologi dan Amanat&lt;br /&gt;2. Pembangunan Ekonomi : Mengurangi Pengangguran Yang Berdampak Pada Penyakit Sosial&lt;br /&gt;3. Politik : Budaya Politik Yang Sehat dan Kepemimpinan Ideal&lt;br /&gt;c. Pelaksanaan Panel diskusi ini akan dilaksanakan dari hari Senin, 26 s.d. 28 Januari 2009 di ruang pertemuan lantai I ASMI jln. Pacuan Kuda No. 1 – 5, Pulomas Jakarta Timur dari jam 14.00 s.d. 17.30. Untuk Topik Toar &amp;amp; Lumimuut : Antara Sejarah, Mitologi dan Amanat (nilai – nilai) pada hari Senin, 26 Januari 2009, topik Pembangunan Ekonomi : Mengurangi Pengangguran Yang Berdampak Pada Penyakit Sosial pada hari Selasa, 27 Januari 2009 dan topik Politik : Budaya Politik Yang Sehat dan Kepemimpinan Ideal pada hari Rabu, 28 Januari 2009.&lt;br /&gt;d. Diharapkan hasil diskusi ini akan menjadi masukan bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;e. Pembicara adalah Profesional kawanua di bidangnya.&lt;br /&gt;f. Biaya peserta Panel Diskusi untuk snack, makalah dan sertifikat sebesar Rp. 25.000,- / orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ” BAKUDAPA ANTAR  -  GENERASI”&lt;br /&gt;a. Peserta umum, baik kawanua maupun simpatisan&lt;br /&gt;b. “Bakudapa Antar – Generasi” terdiri dari :&lt;br /&gt;· Budayawan, Ilmuwan, Pendidik dan Rohaniawan&lt;br /&gt;· Keluarga Besar TNI dan POLRI&lt;br /&gt;· Birokrat, Politisi, dan Aktivis&lt;br /&gt;c. Pelaksanaan “Bakudapa Antar – Generasi” ini akan dilaksanakan dari hari kamis, 13 November s.d. 16 November 2008 di ruang pertemuan lantai I ASMI jln. Pacuan Kuda No. 1 – 5, Pulomas Jakarta Timur dari jam 18.00 s.d. 21.00 Untuk Budayawan, Ilmuwan dan Rohaniawan dilaksanakan pada hari Senin, 26 Januari 2009 generasi Keluarga Besar TNI dan POLRI pada hari Selasa, 27 Januari 2009, dan generasi Birokrat, Politisi, dan Aktivis pada hari Rabu, 28 Januari 2009&lt;br /&gt;d. Diharapkan hasil pertemuan ini akan menjadi masukan bagi pemerintah dan masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;e. Pembicara adalah para senior Kawanua di bidangnya.&lt;br /&gt;f. Koordinator “Bakudapa Antar – Generasi” adalah Benni E. Matindas, Stephen Pangkerego, Tommy Turangan&lt;br /&gt;g. Biaya peserta “Bakudapa Antar – Generasi” untuk konsumsi, makalah dan sertifikat Rp. 50.000,-/ orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. ”LOMBA PERMAINAN RAKYAT MINAHASA”&lt;br /&gt;a. Peserta dari setiap perkumpulan taranak, roong atau organisasi Kawanua lainnya atau simpatisan.&lt;br /&gt;b. Usia peserta bebas, pria dan wanita, dan usia akan disesuaikan dengan permainan.&lt;br /&gt;c. Peserta “Lomba Permainan Rakyat Minahasa” harus mendaftarkan diri ke Panitia pelaksana selambat-lambatnya sebelum tanggal 22 Januari 2009&lt;br /&gt;d. Biaya pendaftaran untuk perorangan sebesar Rp. 10.000,- / orang dan untuk pasangan sebesar Rp. 50.000,- dan tim sebesar Rp. 100.000,-/kelompok&lt;br /&gt;e. Jenis Permainan :&lt;br /&gt;· Cenge-cenge (Perorangan Anak-anak)&lt;br /&gt;· Tarik tambang (Kelompok Pria dan Wanita)&lt;br /&gt;· Futsal (Kelompok Remaja dan Dewasa)&lt;br /&gt;· Pak dor (Kelompok Remaja dan Dewasa, Pria dan Wanita)&lt;br /&gt;· Catur (Perorangan Dewasa / Umum)&lt;br /&gt;· Domino (Pasangan Dewasa / Umum)&lt;br /&gt;· Ceklen (Perorangan Wanita)&lt;br /&gt;f. Dewan Juri “Lomba Permainan Rakyat Minahasa” adalah profesional di bidangnya&lt;br /&gt;g. Peserta boleh mengikuti beberapa permainan.&lt;br /&gt;h. Technical Meeting akan dilaksanakan di Ruang Manguni pada hari Kamis, 22 Januari 2009 di kampus ASMI jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas, Jakarta Timur jam 16.00 s.d. selesai pada kesempatan ini akan diberikan teknis permainan.&lt;br /&gt;i. Pelaksanaan ”Lomba Permainan Rakyat Minahasa” akan dilaksanakan pada hari Jumat s.d. Sabtu, 23 s.d. 31 Januari 2009 di Lapangan Parkir Kampus ASMI, jl. Pacuan Kuda No. 1-5 Pulo Mas, Jakarta Timur dari Jam 10.00 s.d. Selesai&lt;br /&gt;j. Hadiah “Permainan Rakyat Minahasa“ setiap permainan :&lt;br /&gt;· Juara  I  Bingkisan + Piagam&lt;br /&gt;· Juara II Bingkisan + Piagam&lt;br /&gt;· Juara III Bingkisan + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. ”BAZAAR PEKAN RAYA KAWANUA 2008”&lt;br /&gt;a. Peserta umum&lt;br /&gt;b. Peserta bisa perorangan atau perkumpulan&lt;br /&gt;c. Peserta harus mendekor sendiri stand bazaarnya.&lt;br /&gt;d. Bahan-bahan dekor harus dibawa sendiri oleh peserta&lt;br /&gt;e. Isi Stand bisa dalam bentuk kuliner, produk-produk andalan Sulawesi Utara, dll.&lt;br /&gt;f. Panitia hanya menyediakan 2 x 3 m untuk 1 stand ditambah 1 meja, 2 kursi dan satu buah lampu neon (listrik max. 100 watt)&lt;br /&gt;g. Untuk tambahan kursi @ Rp. 2.500,-, penambahan daya utk dispenser/pendingin @ Rp. 200.000,-&lt;br /&gt;h. Peserta “Bazaar Pekan Raya Kawanua” harus mendaftarkan diri ke Panitia pelaksana selambat – lambatnya 16 Januari 2009&lt;br /&gt;i. Technical Meeting akan dilaksanakan di Ruang Manguni pada hari Jumat,16 Januari 2009 di kampus ASMI jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas, Jakarta Timur jam 16.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;j. Biaya peserta ”Bazaar Pekan Raya Kawanua” sebesar Rp. 1.500.000,- / stand  untuk 9 hari&lt;br /&gt;k. Peserta dapat membooking tempat secepatnya, yang telah membayar lunas akan menjadi prioritas penentuan tempat stand&lt;br /&gt;l. Untuk stand kuliner diwajibkan menyediakan tempat sampah atau penampungan sampah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. ”GEBYAR BUSANA ADAT MINAHASA”&lt;br /&gt;a. Peserta dari kalangan kawanua dan simpatisan&lt;br /&gt;b. Peserta  harus membayar tiket Rp. 50.000,-/ orang (untuk snack + lunch + materi Seminar + sertifikat)&lt;br /&gt;c. Setiap perkumpulan/organisasi Minahasa bisa mengirim minimal 2 orang peserta.&lt;br /&gt;d. Undangan bisa dari para perancang pakaian, tukang jahit, pemerhati budaya, dll&lt;br /&gt;e. Peserta “Gebyar Busana Adat Minahasa” harus mendaftar ke Panitia pelaksana.&lt;br /&gt;f. Pembicara dari profesional di bidangnya.&lt;br /&gt;g. Pokok pembicaraan adalah busana Adat Minahasa dan motif2 pakaian Minahasa:&lt;br /&gt;· Etika Busana Adat&lt;br /&gt;· Motif “Kain Bentenan”&lt;br /&gt;· Motif “Kain Pinabetengan”&lt;br /&gt;· Motif “Kain Tradisa”&lt;br /&gt;h. Pelaksanaan ”Gebyar Busana Adat Minahasa” akan dilaksanakan pada hari Jumat, 30 Januari 2009 di Kampus ASMI, Jln. Pacuan Kuda No. 1-5 Pulo Mas, Jakarta Timur dari Jam 10.00 s.d. 18.00&lt;br /&gt;i. Lomba Busana Adat Minahasa dan Busana Modifikasi:&lt;br /&gt;1. Anak – anak&lt;br /&gt;a. Umur s.d 12 tahun&lt;br /&gt;2. Remaja&lt;br /&gt;a. Umur 13 – 18 tahun&lt;br /&gt;3. Dewasa Umum&lt;br /&gt;a. Umur 19 tahun ke atas&lt;br /&gt;4. Busana Adat Terbaik (Keserasian Busana Adat Minahasa) à pasangan suami – istri, Sabtu-31 Januari 2009&lt;br /&gt;j. Hadiah Lomba Busana adat Minahasa dan Busana Modifikasi untuk Juara 1, 2, dan 3 berupa bingkisan, piala dan piagam&lt;br /&gt;k. Hadiah pasangan suami istri busana adat terbaik berupa bingkisan, piala dan piagam&lt;br /&gt;l. Penyerahan hadiah pada tanggal 31 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. ”LOMBA LUKIS, PIALA MENTERI KELAUTAN &amp;amp; PERIKANAN”&lt;br /&gt;a. Peserta bebas dari perkumpulan, perorangan dan simpatisan&lt;br /&gt;b. Peserta lomba dibagi dalam 3 kategori :&lt;br /&gt;· Anak-anak usia sampai 12 tahun&lt;br /&gt;· Remaja 13 s.d. 18 tahun&lt;br /&gt;· Pemuda di atas 18 tahun s.d. 30 tahun&lt;br /&gt;c. Peserta “Lomba Lukis Piala Menteri Kelautan &amp;amp; Perikanan” harus mendaftar ke Panitia pelaksana selambat-lambatnya sebelum tanggal 24 Januari 2009&lt;br /&gt;d. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 100.000,- / orang&lt;br /&gt;e. Melukis pakai cat minyak di kain kanvas yang dibawa sendiri&lt;br /&gt;f. Dewan Juri “Lomba Lukis Piala Menteri Kelautan &amp;amp; Perikanan” adalah profesional di bidangnya&lt;br /&gt;g. Waktu untuk melukis hanya selama 5 jam.&lt;br /&gt;h. Technical Meeting akan dilaksanakan di Ruang Manguni pada hari Kamis, 22 Januari 2009 di kampus ASMI jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas, Jakarta Timur jam 14.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;i. Tema Lukisan&lt;br /&gt;· Anak-anak adalah ”Suasana di dalam laut”&lt;br /&gt;· Remaja adalah ”Suasana di pinggir pantai”&lt;br /&gt;· Pemuda adalah ”Keindahan Bunaken”&lt;br /&gt;j. Hasil Pemenang ” Lomba Lukis Piala Menteri Kelautan &amp;amp; Perikanan” dan hasil lukisan diserahkan ke Panitia yang nantinya akan di lelang oleh panitia pada ”Natal dan Kunci Taong Baru 2009”&lt;br /&gt;k. Pelaksanaan ” Lomba Lukis Piala Menteri Kelautan &amp;amp; Perikanan” akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 24 Januari 2009, untuk kategori anak-anak, remaja dan pemuda di KAMPUS ASMI, Jln. Pacuan Kuda No. 1-5 Pulo Mas, Jakarta Timur dari Jam 10.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;l. Hadiah “ Lomba Lukis, Piala Menteri Kelautan &amp;amp; Perikanan “&lt;br /&gt;· Juara Umum Piagam + Piala Bergilir Menteri Kelautan &amp;amp; Perikanan&lt;br /&gt;· Kategori Anak-anak :&lt;br /&gt;o Juara  I : PSP + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Juara II : NDS  + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Juara III : GameBoy Advanced + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan I : Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan II : Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan III: Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;· Kategori Remaja&lt;br /&gt;o Juara  I : Kamera Digital + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Juara II : PSP + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Juara III : Handphone  + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan I : Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan II : Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan III: Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;· Kategori Pemuda&lt;br /&gt;o Juara  I : Laptop Celeron + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Juara II : Kamera Digital  + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Juara III : Handphone + Piala + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan I : Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan II : Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;o Harapan III: Bingkisan  + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. ”LOMBA MUSIK KOLINTANG TINGKAT NASIONAL”&lt;br /&gt;a. Peserta :&lt;br /&gt;· Jumlah pemain minimal 6 orang maksimal 9 orang&lt;br /&gt;· Jumlah penyanyi maksimal 4 orang (3 orang penyanyi latar)&lt;br /&gt;b. Peserta profesional boleh pria saja atau wanita saja atau campur pria &amp;amp; wanita&lt;br /&gt;c. Khusus Peserta pemain kawanua (pemula) semua pemain harus Kawanua/orang minahasa.&lt;br /&gt;d. “Lomba Musik Kolintang Tingkat Nasional” terdiri dari 3 kategori :&lt;br /&gt;· Umum (profesional)&lt;br /&gt;· Wanita&lt;br /&gt;· Khusus pemain Kawanua (pemula)&lt;br /&gt;e. Peserta bisa mengikuti 2 kategori&lt;br /&gt;f. Setiap peserta membawakan 3 buah lagu.&lt;br /&gt;· Satu lagu wajib dengan penyanyi (vocal)&lt;br /&gt;· Satu lagu pilihan dengan penyanyi (vocal)&lt;br /&gt;· Satu lagu bebas tanpa penyanyi (instrumentalia)&lt;br /&gt;g. Lagu wajib untuk :&lt;br /&gt;· Kategori Umum &amp;amp; khusus pemain kawanua pemula adalah ”Mars Minahasa” (partitur terlampir)&lt;br /&gt;· Kategori Wanita adalah ”O Ina ni Keke”  (partitur terlampir)&lt;br /&gt;h. Lagu pilihan untuk adalah lagu-lagu perjuangan bebas&lt;br /&gt;i. Peserta “Lomba Musik Kolintang Tingkat Nasional” harus mengenakan kain motif Minahasa kecuali kategori wanita mengenakan busana nasional bebas.&lt;br /&gt;j. Alat disediakan oleh Panitia dua versi (Versi Jakarta dan Manado)&lt;br /&gt;k. Kolintang Standar Festival versi Jakarta&lt;br /&gt;1. Ina Esa (melodi 1)   1----1---- 1---- 1 ---4&lt;br /&gt;2. Ina Rua (melodi 2)  3- 1 --- 1 ---1 – 4&lt;br /&gt;3. Katelu (Pengiring kecil)  3 ------ 3 ------ 3&lt;br /&gt;4. Uner (Pengiring Sedang 1) 3 ------- 3 ------ 3&lt;br /&gt;5. Uner Rua (Pengiring Sedang 2) 3 ------ 3 ------3&lt;br /&gt;6. Karua (Pengiring Besar 1) 3 ------ 3 ------3&lt;br /&gt;7. Karua-rua (Pengiring Bear 2) 3 ------ 3 ------- 3&lt;br /&gt;8. Sella (celo)   1 ------- 1 ------ 6&lt;br /&gt;9. Loway (bass)   6 ------- 6 ------ 6&lt;br /&gt;10. Bass 2 kotak    ( 6 --- 2 / 3 ------ 3 – 6)&lt;br /&gt;l. Waktu berada di atas panggung untuk 3 lagu maksimal 20 menit termasuk pembukaan&lt;br /&gt;m. Technical Meeting I pada hari Jumat, 6 Desember 2008 dan Technical Meeting II pada hari Selasa, tanggal 27 Januari 2009 di ruang Manguni lantai 2 Kampus ASMI, jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas, Jakarta Timur jam 16.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;n. Urutan tampil peserta akan diundi pada Technical Meeting II dan setiap peserta diminta untuk sudah memberikan partitur arransement sederhana sebanyak 6 buah dijilid rapih.&lt;br /&gt;o. Peserta ”Lomba Musik Kolintang Tingkat Nasional” harus mendaftar ke Panitia Pelaksana.&lt;br /&gt;p. Panitia tidak menyediakan tiket pp Jakarta, akomodasi penginapan dan konsumsi khusus peserta luar kota Jakarta. Panitia hanya membantu transportasi dari penginapan ke tempat lomba dan sebaliknya, serta konsumsi ditempat acara berlangsung selama jadwal pertandingan Kolintang yang diikuti khusus peserta luar kota Jakarta.&lt;br /&gt;q. Pendaftaran terakhir 27 Januari 2009&lt;br /&gt;r. Pelaksanaan ”Lomba Musik Kolintang Tingkat Nasional” akan dilaksanakan pada hari Kamis - Jumat, 29 – 30 Januari 2009, untuk lomba musik kolintang kategori Wanita pada hari Jumat, 30 Januari 2009 dari jam 11.00 s.d. selesai, dan untuk lomba musik kolintang kategori Umum (profesional) dan khusus kawanua (pemula) pada hari Kamis, 29 Januari 2009 di Kampus ASMI, Jln. Pacuan Kuda No. 1-5 Pulo Mas, Jakarta Timur dari Jam 10.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;s. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000,- /grup/kategori&lt;br /&gt;t. Dewan Juri “Lomba Musik Kolintang Tingkat Nasional” adalah para profesional&lt;br /&gt;u. Setiap peserta mendapat Piagam&lt;br /&gt;v. Hadiah  untuk Juara Umum akan memperebutkan Piala Bergilir&lt;br /&gt;w. Untuk Kategori Umum&lt;br /&gt;· Juara  I   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara II   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara III   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Harapan I   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan II   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan III  Piala + Piagam&lt;br /&gt;x. Untuk Kategori Wanita&lt;br /&gt;· Juara I   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara II   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara III   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Harapan I   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan II   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan III  Piala + Piagam&lt;br /&gt;y. Untuk Kategori Khusus Kawanua (pemula)&lt;br /&gt;· Juara  I   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara II   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara III   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Harapan I   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan II   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan III  Piala + Piagam&lt;br /&gt;z. Untuk hadiah lain :&lt;br /&gt;· Ina Esa terbaik   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Loway terbaik  Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Penyanyi terbaik  Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Juara Favorit  Piala + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. ”LOMBA PADUAN SUARA ROHANI”&lt;br /&gt;a. Peserta “Lomba Paduan Suara Rohani” bebas dan berjumlah minimal 26 orang beserta dirigen&lt;br /&gt;b. Usia peserta bebas, pria dan wanita (ada keseimbangan jumlah pria dan wanita)&lt;br /&gt;c. Peserta “Lomba Paduan Suara Rohani” harus mendaftar ke Panitia pelaksana selambat-lambatnya sebelum tanggal 28 Januari 2009&lt;br /&gt;d. Biaya pendaftaran sebesar Rp. 250.000,- / kelompok&lt;br /&gt;e. ”Lomba Paduan Suara Rohani” ini adalah “acapela” (tanpa alat musik)&lt;br /&gt;f. Dewan Juri “Lomba Paduan Suara Rohani” adalah para profesional di bidangnya&lt;br /&gt;g. Menyanyikan 2 buah lagu rohani Manado (wajib dan pilihan)&lt;br /&gt;h. Peserta “Lomba Paduan Suara Rohani” harus menggunakan busana adat Minahasa&lt;br /&gt;i. Techincal Meeting I akan dilaksanakan di Ruang Manguni pada hari Jumat, 6 Desember 2008, dan Techincal Meeting II akan dilaksanakan di Ruang Manguni pada hari Sabtu, 24 Januari 2009 di kampus ASMI jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas, Jakarta Timur jam 14.00 s.d. selesai&lt;br /&gt;j. Lagu Wajib adalah  lagu karya Johnny Mapaliey  seperti ”Ramai Rawan”&lt;br /&gt;k. Lagu pilihan bebas lagu rohani bahasa Manado seperti ”Opo wa nanatas”, ” Amang Kasuruan ”, ” Kerajaan Allah”, ”Doa Bapa Kami”&lt;br /&gt;l. Pelaksanaan ”Lomba Paduan Suara Rohani” akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 31 Januari 2009, di Auditorium lantai IV, Kampus ASMI, jln. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulomas Jakarta Timur dari Jam 10.00 s.d. 18.00&lt;br /&gt;m. Partitur akan diberikan pada saat peserta mendaftar.&lt;br /&gt;n. Hadiah “Lomba Paduan Suara Rohani “&lt;br /&gt;· Juara  I   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara II   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Juara III   Uang + Piagam + Piala&lt;br /&gt;· Harapan I   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan II   Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Harapan III  Piala + Piagam&lt;br /&gt;· Dirigen terbaik    Piala + Piagam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. ”IBADAH NATAL &amp;amp; KUNCI TAONG BARU 2009”&lt;br /&gt;a. Undangan untuk semua kawanua dan simpatisan&lt;br /&gt;b. Setiap perkumpulan yang akan menyumbang acara baik itu paduan suara, tarian daerah, vocal group atau perorangan harap mendaftarkan diri ke seksi acara panitia paling lambat tanggal 16 Januari 2009&lt;br /&gt;c. Diharapkan konsumsi bisa dilakukan secara mapalus sumbangan dari tiap perkumpulan atau perorangan dan mendaftar ke seksi konsumsi paling lambat 30 Januari 2009&lt;br /&gt;d. Acaranya disusun dalam inkulturasi budaya minahasa, oikumene dan dialogis (partisipasi audience)&lt;br /&gt;e. Panitia menyediakan ”doorprize” bagi pengunjung yang beruntung&lt;br /&gt;f. Panitia menyediakan 3 buah bus untuk pulang bagi pengunjung yang tinggal di daerah Cililitan, Depok, dan Tanjung Priok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;PENDAFTARAN &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta :&lt;br /&gt;Sekretariat Panitia Jl. Pacuan Kuda No. 1-5, Pulo Mas, Jakarta Timur telp. 021 - 4714947, fax. 021 - 4714947 kepada Johan Tengker, Nina Susanti, Ade Karjono atau LPBM Jl. Boulevard Timur Raya Blok NC I No. 47-50 Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara. Telp/fax. 021 458 43027 kepada Marcel, Melki Kowaas, Johana Suoth Website : www.kkk.or.id.&lt;br /&gt;Di Manado :&lt;br /&gt;Mega Bright I Blok EI No. 3, Pierre Tendean, Kawasan Mega Mas, Boulevard Manado Telp. 0431-8881165 kepada Kiki dan Leo (0852-9897-8810)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contact Person :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Maengket     : Stella Mamahit  081314431303&lt;br /&gt;b. Diskusi &amp;amp; Dialog Antar Generasi  : Benny Matindas 081317079170&lt;br /&gt;c. Permainan Rakyat   : Benny Kogaam         08888974829&lt;br /&gt;d. Bazar     : Vonny Sumampouw 08161822713&lt;br /&gt;e. Kolintang     : Frans Ratag  08159679436&lt;br /&gt;f. Gebyar Busana Adat Minahasa         : Julien Sumampouw 08129303910&lt;br /&gt;g. Paduan Suara     : Geovani  08129930333&lt;br /&gt;h. Lukis     : Franklin Sondakh 08158123183&lt;br /&gt;i. Natal &amp;amp; Kunci Taong Baru  : Freddy Marentek 081310010499&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-3608678008316445370?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/3608678008316445370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/petunjuk-teknis-pekan-raya-kawanua.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3608678008316445370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3608678008316445370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/petunjuk-teknis-pekan-raya-kawanua.html' title='PETUNJUK TEKNIS PEKAN RAYA KAWANUA (Jakarta, 24-31 januari 2009)'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-3050394559841926540</id><published>2008-11-10T04:11:00.000-08:00</published><updated>2008-11-16T02:47:26.791-08:00</updated><title type='text'>Dalam kesunyian...Sang Maestro Kabasaran di panggil Tuhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR_6CfONBMI/AAAAAAAAAOo/qCEbEKu4yY0/s1600-h/_MG_2508.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR_6CfONBMI/AAAAAAAAAOo/qCEbEKu4yY0/s320/_MG_2508.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269205009694524610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lodwyk Dirk Ngantung – Om Owik&lt;br /&gt;Dalam kesunyian...Sang  Maestro Kabasaran di panggil Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala Bangsa Indonesia memperingati 80 Tahun Sumpah Pemuda, Komunitas Seni Budaya Sulawesi Utara kehilangan seorang Maestro Tari Kabasaran: Lodywik Dirk Ngantung, atau sering disapa Om Owik meninggal di Rumah Sakit Umum Bethesda Tomohon pada subuh Selasa 28 Oktober 2008.&lt;br /&gt;Almarhum yang dilahirkan pada 29 Juni 1929, dimakamkan pada Kamis 30 Oktober 2008 di Pemakaman Paslaten Tomohon. ”Papa kena stroke sejak 1 Agustus 2008. Dan sejak itu tak sadarkan diri sampai dipanggil Tuhan,” jelas Well Ngantung, salah seorang anaknya. Almarhum meninggalkan 8 orang anak dari pernikahan dengan Pinaria Lolong pada tahun 1955.&lt;br /&gt;Sebelum di makamkan, almarhum ditandu dari rumah duka oleh aparat Kelurahan dan di iringi oleh barisan Tari Kabasaran, disemayamkan di kantor kelurahan Paslaten sebagai penghormatan pengabdiannya sebagai Pala (Kepala Jaga) dan Mawateng (Rukun Tetangga) selama 40 Tahun di desa tersebut.&lt;br /&gt;Om Owik meninggal dalam kesunyian. Tiga bulan tak sadarkan diri tak banyak yang mengetahui. Tak ada penghargaan sekertaspun atas pengabdian dan totalitasnya mengguluti Tari Kabasaran selama 50 tahun. Tak ada karangan bunga dari instansi Propinsi yang selalu memakai jasanya dalam acara-acara seremoial daerah. Tak ada ucapan terima kasih dari kalangan industri pariwisata Sulawesi Utara, yang selalu memakai potret dirinya dalam memancing para wisatawan untuk berkunjung di daerah ini.&lt;br /&gt;”Memang Om Owik pergi dalam kesesunyian,’” begitu kesan sahabatnya, Rulan Poluan. Padahal, tak seorangpun yang bisa membantah pengabdian Almarhum pada Tari Kabasaran. Soal penghargaan, keluarga tak banyak berharap; ”Kalau ada Puji Tuhan Tuhan. Kalau tak ada, Puji Tuhan. Yang pasti, kami keluarga Imani, Papa akan disambut dengan sorak sorai di Rumah Bapa di surga,” tutur Well Ngantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Om Owik!  I Yayat U Santi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(rr*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-3050394559841926540?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/3050394559841926540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/dalam-kesunyiansang-maestro-kabasaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3050394559841926540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/3050394559841926540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/dalam-kesunyiansang-maestro-kabasaran.html' title='Dalam kesunyian...Sang Maestro Kabasaran di panggil Tuhan'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SR_6CfONBMI/AAAAAAAAAOo/qCEbEKu4yY0/s72-c/_MG_2508.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-7235856559536052674</id><published>2008-11-10T03:48:00.000-08:00</published><updated>2008-11-10T03:49:26.290-08:00</updated><title type='text'>Kontra bas Raksasa - MURI</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Apa Kata Mereka??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O rekei pe besar sekali ini trompet. Kong siapa dang yang mo tiup ini,” decak kagum Oma Lentji Tumengkol, ketika melihat Trompet Raksasa Kontra Bas Musik Bambu Klarinet yang terpajang di depan Kantor Bupati Minahasa Selatan Kota Amurang. Bagi Oma 3 cucu asal Kakas ini, seumur hidup ia tak pernah melihat trompet sebesar ini. Ia bersyukur bisa melihat pemandangan ini. Kita akan mengajak kita pe cucu mo pasiar kemari. Nampaknya Trompet Raksasa hadiah Panitia Festival Seni Budaya Sulawesi Utara bagi pengembangan seni budaya dan HUT Minahasa Selatan makin ramai dikunjungi.&lt;br /&gt;Kekaguman Oma Lentji juga terpancar pada wajah Gubernur Sulawesi Utara ketika menyerahkan MURI bagi Pemerintah Minahasa Selatan dan Panitia Festival Seni Budaya Sulawesi Utara 2007, atas prakarsa pembuatan Trompet Raksasa ini. “Saya takjub dengan gagasan ini. Ini akan menjadi monumen bersejarah dan akan menjadi salah satu daya tarik dunia pariwisata Sulawesi Utara menjelang Word Ocean Summit (WOS 2009),” jelas Drs. Sinyo Harry Sarundajang, pada maengket.com.&lt;br /&gt;Ekspresi yang sama juga terpancar pada Bupati Minahasa Selatan. “Selain menjadi obyek wisata seni budaya yang layak dijual. Trompet ini juga akan menjadi maskot baru pengembangan seni budaya Minahasa Selatan,” tutur Drs. RM. Luntungan. Sedangkan Paulus Pangka, dari tim survey MURI, memaparkan Replika Kontra Bas Musik Bambu Klarinet Terbesar ini, bagi kami merupakan ide yang cemerlang, langkah dan orisinil. Berpijak pada kondisi masyarakat setempat. Kami sudah merekomendasikan Replika Kontra Bas Musik Bambu Klarinet terbesar ini untuk dicatat dalam rekor MURI sebagai TROMPET TERBESAR di Indonesia bahkan dunia.&lt;br /&gt;Dan nampaknya harapan Gubernur dan Bupati yang terucap pada HUT Minahasa Selatan ke 4 akhir Januari 2007 ini, sudah terwujud. Selain kesaksian dari Oma Lentji di atas, dari pantauan maengket.com banyak masyarakat dari dalam dan luar Minahasa Selatan yang datang melihat trompet ini. “Kalau hari libur ramai. Juga terlihat ada bule-bule yang kesasar datang mejeng bafoto di sini,” jelas seorang Polisi Pamong Praja, yang menjaga kantor Bupati Minahasa Selatan yang megah itu. Ia juga menyarankan ada papan informasi tentang proses dan spesifikasi dari trompet ini – agar pengunjung langsung mengerti maksud dan tujuan pembuatan trompet ini.&lt;br /&gt;Apakah sasaran pembuatan Trompet Raksasa hanya untuk tempat orang mejeng bafoto? “Sasaran awalnya memang begitu. Memancing daya tarik. Kalau sudah tertarik pasti mereka akan bertanya. Lebih dalam lagi kalau mereka langsung mencintai musik tradisional Minahasa ini. Dan kalau sudah begitu misi awal sudah tercapai, ” terang Joutje Lampah, Ketua I Tim Kerja Festival seni Budaya Sulawesi Utara 2007, sambil menambah bahwa saran dibuatnya papan informasi akan segera panitia waujudkan dan bahkan diseluruh badan trompet tersebut akan diabadikan nama-nama group maupun tumpukan Musik Bambu se Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, pensiunan manajer personalia Indofood ini memaparkan, landasan awal ide ketika dirancangnya pembuatan Trompet ini oleh Benny J. Mamoto sebagai Ketua Umum Festival seni Budaya Sulawesi Utara adalah untuk memancing dan merangsang generasi muda khususnya, masyarakat Sulawesi Utara umumnya untuk lebih mencintai musik tradisonal. Selain ingin membangkitkan rasa memiliki pada seni budaya daerah antara lain Musik Bambu. Diharapkan juga, Trompet ini menjadi Monumen Kebangkitan Seni Budaya tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada banyak kesempatan, Benny J. Mamoto, selalu mengingatkan kalau seni budaya tradisional kalau ditempatkan pada posisi dan nilai yang sebenarnya, seni bisa menjadi alat pencerahan masyarakat akan kesadaran hidup berbangsa, hidup bermasyarakat, hidup yang mentaati segala peraturan. Sebab dibalik seni banyak nilai-nilai kehidupan yang positif yang bisa kita serap. Salah satunya adalah seni budaya bisa menjadi inspirasi untuk hidup lebih harmonis. Dan seni budaya juga bisa menjadi alat untuk memotivasi seseorang. Dan yang lebih tinggi lagi, seni budaya adalah gambaran ekspresi mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. “Para seniman dan pekerja seni adalah ujung tombak pembentukan karakter dan jati diri. Kita harus bangkitkan kembali masyarakat yang berjati diri lokal tetapi mempunyai wawasan global,” tegasnya.&lt;br /&gt;Ia juga menyampaikan bahwa sasaran dari agenda program yang terkait dengan MURI, bukan hanya sekedar ingin mendapat pengakuan dari MURI (Musium Rekor Indionesia) itu sendiri, namun lebih dari itu. “Bagi saya momen-momen ini diharapkan menjadi motivasi bagi para pengrajin, pemusik, petani, nelayan, usahawan, maupun pemerintah untuk lebih melihat potensi-potensi lokal untuk dikembangkan,” jelas penggagas Kolintang Raksasa sepanjang 11 meter yang kini lagi dikerjakan oleh para pengrajin musik kolintang.&lt;br /&gt;Dwi Putra Budianto, Koordinator Umum Tim Kerja Festival Seni Budaya Sulawesi Utara menjelaskan bahwa Trompet Raksasa ini kerjakan oleh 16 pekerja dengan memakan waktu 30 hari kerja. Tinggi Diameter Cerobong 5,20 m, Panjang Keseluruhan 32 m, Keliling Lingkaran 6.80 m. Dan nantinya bisa dibunyikan dengan menggunakan kompresor. Sedangkan bahan bakunya terdiri dari Plat Stenlis Steel 79 lembar, Pipa 1.5 inch 12 batang, Pipa 1.25 inch 16 batang, Pipa 1 inch 33 batang, Pipa 0.75 inch 29 batang, Pipa 0.5 inch 4 batang, Kawat las stenlis 18 kg, Tabung gas argon 20 botol, Kawat las argon 12 kg, Besi beton 14 mm 12 Batang, Batu Gurinda potong kecil 800 lembar, Batu Gurinda Potong besar 30 lembar, Kertas pasir 1100 lembar, Lansol 45 batang. Semuanya dikerjakan dengan bantuan alat-alat; 3 Unit Mesin Las 5 KW, 2 Unit Mesin Genset 5000 Watt, 3 Unit Trafo Las 200A, 2 Unit Mesin Las Argon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Minahasa Selatan, Drs. Rolly Karamoy, menjelaskan Trompet Raksasa ini ini merupakan apresiasi yang tinggi bagi masyarakat Minahasa Selatan, dari seorang Benny J. Mamoto, yang walaupun berdomisili di Jakarta, melalui aktivitasnya selalu peduli pengembangan seni budaya daerah, khususnya di Minahasa Selatan. Untuk itu, atas nama Pemerintah dan masyarakat Minahasa Selatan mengucapkan terima kasih atas apresiasi ini. Kiranya Trompet ini menjadi perangsang dunia pariwisata seni budaya Minahasa Selatan, perangsang bagi para pemerhati, pekerja seni untuk lebih giat, tekun dan kreatif menekuni profesi sebagai seniman. Apresiasi ini juga merupakan cermin bagi perantau untuk peduli pada pembangunan daerahnya. (rr*)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-7235856559536052674?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/7235856559536052674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/kontra-bas-raksasa-muri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/7235856559536052674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/7235856559536052674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/kontra-bas-raksasa-muri.html' title='Kontra bas Raksasa - MURI'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4548356401889560929.post-4263918853368703182</id><published>2008-11-10T03:41:00.001-08:00</published><updated>2008-11-10T03:41:51.396-08:00</updated><title type='text'>PAGI GERIMIS DI KAYUUWI</title><content type='html'>PAGI GERIMIS DI KAYUUWI&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;KARYA :BENNI MATINDAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI GERIMIS&lt;br /&gt;DI KAYUUWI&lt;br /&gt;SETELAH TAHUN-TAHUN MENDUNG MENUTUP FAJAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN PUN TURUN KARENA&lt;br /&gt;LANGIT BUKAN LAGI RUANG HARAPAN&lt;br /&gt;SEJUTA TOMBAK DAN SOSOROKA DITIKAMKAN&lt;br /&gt;KE TUBUH BUMI&lt;br /&gt;SEJUTA LIDAH API MEYERBU DARI LANGIT&lt;br /&gt;MEMBAKAR TUBUH TO’AR&lt;br /&gt;MENGHANGUSKAN BADAN LUMIMU’UT&lt;br /&gt;BATANG TU’IS DAN TAWA’ANG MENCIUT, KERING,&lt;br /&gt;DAN MATI,&lt;br /&gt;DI TANAH GERSANG&lt;br /&gt;BUNGA CENGKIH LURUH, JATUH BERSAMA CITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUJAN MASIH DERAS&lt;br /&gt;SI KE’eKE’e KECIL BERANGKAT KE SEKOLAH&lt;br /&gt;BERPAYUNG SEHELAI DAUN PISANG PENUH ROBEK&lt;br /&gt;BERSERAGAM DENGAN BLUS YANG TAK PUTIH LAGI&lt;br /&gt;SUDAH LAMA KUSAM, PENINGGALAN KAKAKNYA&lt;br /&gt;TAS BERGAMBAR DONALD BEBEK BERISI 3 BUKU TULIS,&lt;br /&gt;BUKU BAHASA INDONESIA, MATEMATIKA JILID 4,&lt;br /&gt;SEBATANG PENSIL, SEBUTIR STIF, DAN&lt;br /&gt;SEBONGKAH BESAR HARAPAN&lt;br /&gt;YANG DI HEMBUSKAN IBUNYA&lt;br /&gt;TENTANG DOKTER WANITA PERTAMA DI INDONESIA YANG ORANG MANADO&lt;br /&gt;TENTANG SARJANA ILMU PENDIDIKAN WANITA PERTAMA,&lt;br /&gt;JUGA DOKTER HEWAN, JUGA PROFESOR ILMU HUKUM,&lt;br /&gt;JUGA JENDRAL WANITA PERTAMA,&lt;br /&gt;JUGA REKTOR WANITA PERTAMA,&lt;br /&gt;JUGA WALIKOTA WANITA PERTAMA, JUGA......&lt;br /&gt;JUGA, ENGKAU,KE’e KE’e -KU SAYANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OOOH, INA’NI KE’eKE’e&lt;br /&gt;MANGE WISA KO ?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WENANG, BAHKAN GENANG ATAUPUN KESADARAN KITA,&lt;br /&gt;KINI ASING BAGI KITA SENDIRI.&lt;br /&gt;TANAH KITA SUDAH HABIS TERJUAL&lt;br /&gt;CITA-CITA DAN CINTA KITA SUDAH TERGADAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KE’e KE’e KECIL TIBA DI SEKOLAH&lt;br /&gt;SERAGAMNYA KUYUP, SEMUA BUKUNYA RUSAK&lt;br /&gt;TAPI TANGAN MUNGILNYA MERAIH SESUATU DARI SAKUNYA&lt;br /&gt;SEBUTIR BENIH BUNGA MATAHARI DI GENGGAMANNYA&lt;br /&gt;IA TANAMKAN DI HALAMAN SEKOLAH&lt;br /&gt;IA TAHU KAKAKNYA, DAN BEBERAPA TANTENYA, MENJADI&lt;br /&gt;PENARI TELANJANG DI KOTA-KOTA BESAR&lt;br /&gt;TETAPI SEMBILAN KUNTUM BUNGA MATAHARI MEKAR&lt;br /&gt;DI DALAM SUKMANYA&lt;br /&gt;HUJAN LALU REDA&lt;br /&gt;SEUTAS CAHAYA DARI LANGIT MENEMBUS RUMPUN BAMBU&lt;br /&gt;MATA BENING KEKE BERKEDIP MANIS&lt;br /&gt;DAN DENGAN ITU FAJAR PUN DIA IKAT,&lt;br /&gt;AGAR ABADI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4548356401889560929-4263918853368703182?l=dataminahasa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dataminahasa.blogspot.com/feeds/4263918853368703182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/pagi-gerimis-di-kayuuwi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4263918853368703182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4548356401889560929/posts/default/4263918853368703182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dataminahasa.blogspot.com/2008/11/pagi-gerimis-di-kayuuwi.html' title='PAGI GERIMIS DI KAYUUWI'/><author><name>Tuama Malesung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14361550709842553065</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lp_P-gJoQZ8/SRaRVjn_2EI/AAAAAAAAAKI/p2sWc--tg5g/S220/kffghf.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
